03
Sep '08

Bagaimana Harusnya Kita Memberikan Teguran ?

Saya hanya punya satu adik, laki-laki, yang dari kecil emang kita sering berantem, dan seiring waktu mulai berkurang dan malah menimbulkan sikap saling menjaga dan mengalah. Dari kecil saya diajarkan untuk dekat dengan Sang Mama. Dari hal besar sampai hal terkecil pun tiap harinya pasti saya ceritakan kepada ibunda saya. Saya merasa, itu kebiasaan baik, saya jadi dekat dengan Sang Mama seperti kakak, bisa sebagai sahabat yang mau mendengarkan dan sebagai ibu yang mengajarkan banyak hal. 

Begitu juga halnya adik saya, walau tidak se-terbuka seperti saya, dia pun bercerita hal-hal yang memang sehari-hari ia temui, apalagi itu menarik (kalo soal cewek, tidak diceritakan ya! :p). 

Mama saya selalu menerapkan ‘kalo mau kemana-mana itu ngomong’ walo itu cuma jalan-jalan dengan temen. Dan nyokap tidak akan percaya lagi, jika kita didapati berbohong. 

Hal semacam ini membuat saya bersyukur karena telah diajarkan untuk selalu terbuka dalam keluarga, apalagi kalo saya bandingkan dengan sepupu (sepupu dari suami saya) cowo yang ada dirumah. Sejak awal saya kenal, sebut saja R, amat sangat pendiam. Ya enak yah kalo pendiamnya itu orangnya nurut. Semakin hari saya semakin tau watak si anak kelas 3 SMP ini. Tiap hari sepulang sekolah, kerjanya hanya main hingga menjelang maghrib, rasa lapar pun tidak membuat dia pulang kerumah sebentar. 

Saya sih mengerti, di usia dia saya dan adik saya pun demikian, lagi hobi-hobinya main. Cuma yang berbeda adalah aturan mainnya. Seringkali saya bertanya pada sepupu cewe yang juga tinggal dirumah dan sebaya dengan R, “Emang maen apa sih sampe betah ga makan?”, dan ternyata yang ditanya pun tidak tahu.

Hari berlanjut, kebiasaan main ini ditambah lagi, tidak hanya pada siang – sore hari tapi juga di malam hari, sampai pernah pulang jam 9 malam dengan alasan perginya sholat di mesjid. Saya benar-benar tidak berkeberatan kalo sepupu2 akan sholat berjamaah di mesjid, itu amatlah baik. Tapi, masa’ iya sholat Isya sampe jam 9 malem baru pulang? Masa’ iya sholat taraweh selesai jam 9.30 malem? (Bukan Mesjid Agung Palembang yah, yang Tarawehnya bisa sampe jam 11 malem)

Saya pun sering bertanya pada R, dan selalu dijawab dengan diam. Ya. Diam. Saya paling kesel kalo orang ditanya kok malah diam. Udah bertanya tiga kali pun masih diam, dan ditambah dengan menunduk dan muka memelas. Awalnya saya memaklumi dan saya tegur secukupnya agar hal seperti itu tidak berulang. Tapi, itu hanya bertahan 1-2 hari saja, dan hari-hari berikutnya mulai lagi.

Saya bingung bagaimana lagi harus ngebilangin orang kayak si R? Ditanya ga dijawab, apa harus dibentak? Saya mah ga berani, ga enak aja karena sepupu sendiri. Jadilah saya akhirnya ngadu ke suami saya. Suami saya bukan tipe pemarah dan tipe pembentak (kayak bokap saya! :d), tapi kita harus selalu sadari jika wibawa kepala keluarga lebih terasa dibanding saya, maka dari itu saya memilih untuk akhirnya suami saya lah yang mengeksekusi si R (halah, eksekusi bo’ bahasanya :p)

Saya sadar betul, karakter dan cara orang tua mendidik anaknya berbeda-beda dan karakter anak pun berbeda. Tapi saya juga yakin bahwa orang tua lah yang memegang peranan dalam membentuk karakter anak itu. Saya tidak menyalahkan orang tua R, hanya saja saya berkaca dan belajar bahwa apa yang orang tua ajarkan pada anaknya, seperti itu pula karakter yang akan terbentuk pada si anak. 

Dan inilah yang akhirnya memberikan kita gambaran untuk mencari tahu solusi yang tepat untuk memberikan teguran untuk berbagai karakter anak.

Bukankah semua dari kita juga akan menjadi orang tua ? yang dulunya juga sebagai anak ?