13
Oct '08

Review Film : Doa yang Mengancam

Judul : Doa yang Mengancam
Sutradara : Hanung Bramantyo
Pemain : Aming, Ramzi, Titi Kamal, Zaskia Aditya Mecca, Cici Tegal, Jojon, Berliana Febrianti
Durasi : 110 menit

Doa yang Mengancam

Doa yang Mengancam

Malem ini, barusan kelar nonton nih film bareng sama Kakak, Adek dan Kak Arie yang janji mo nonton lebih memilih menyaksikan pertandingan SFC. Jadi deh saya berdua ajah sama suami

Udah lama pengen nonton nih film, tapi akhirnya baru jadi tadi malem. Setelah nanya di Plurk, dan sempet nanya juga ke temen yang udah nonton katanya filmnya ga masuk akal tapi hikmah dan lucunya dapet. Komen itu ga membuat saya bergeming untuk nonton nih film, apalagi ini filmnya Hanung Bramantyo, sutradara yang buat film bagus-bagus.

Adalah Madrim (Aming) tokoh utama cerita ini, yang beristrikan Juleha (Titi Kamal), bekerja sebagai kuli angkut disebuah pasar tradisional pinggiran kota. Hidup yang selalu miskin dan hutang yang terus menumpuk membuat sang istri kabur dari rumah. Sejak saat itulah Madrim dibantu dengan Kadir (Ramzi) agar berdoa agar bisa hidup berkecukupan dan menemukan istrinya kembali.

Berhari-hari berdoa, Madrim tidak juga mendapati dirinya berubah seperti yang dia inginkan dalam doanya, sampai suatu hari Madrim mengancam Tuhan, jika tidak juga mengabulkan doanya, maka ia akan murtad. Diperjalanan mencari sang istri, Madrim tersambar petir dan sejak saat itulah Madrim bisa melihat keberadaan seseorang hanya dengan melihat fotonya saja. Anak Pak Kades (Jojon) diketemukan setelah 1 tahun pergi hingga berhasil menolong kepolisian menringkus banyak buronan. Tapi satu hal, ia justru tidak dapat menemukan istrinya berada dimana.

Madrim akhirnya ditangkap oleh seorang penjahat untuk membantu bisnis negatifnya, ia menggaji Mandrim dengan jumlah besar dan Madrim diberikan apartemen mewah. Tapi, Madrim tidak bahagia dengan hidupnya yang banyak uang namun kesepian, sehingga dia berdoa agar kemampuannya diambil lagi olehNya dan kembali seperti dulu. Boro-boro hilang, kemampuan Madrim justru bertambah, dia bisa melihat masa depan, tapi masih juga blom bisa menemukan istrinya.

Gimana akhir ceritanya? Ya… nonton aja. Ga seru juga kalo saya ceritain semuanya lengkap disini

Saya hanya mau mereview film ini sesuai dengan viewnya saya. Ga seperti beberapa teman yang menyangsikan film ini, saya justru merasa puas. Tokoh Aming yang dipilih benar-benar menggambarkan jerih payah orang pinggiran kota yang sulit mencari sesuap nasi, kurus, dekil. Tokoh Kadir juga banyak membangun ‘isi’ dari film ini, dari mulai kata-katanya pada Madrim, sahabatnya sampe karakter anak alim yang tak tertinggalkan dari wajah seorang arab Ramzi.

Saya nilai film ini, justru sangat realistis. Kebanyakan orang-orang seperti Madrim inilah, yang kehilangan asa untuk tetap tawakal dan meminta kepada Allah lewat doa dan ikhtiar dalam menjalani hidup. Faktornya utamanya : kemiskinan bertahun-tahun. Saya rasa, orang-orang seperti Madrim ini sangat mungkin masih ada hingga sekarang, orang yang putus asa akan hidup lalu berpaling padaNya.

Apapun yang kita minta dalam doa dan usaha, Allah selalu mendengar dan saat itu juga jika Allah berkehendak, kunfayakun, yang terjadi maka terjadilah. Jalannya hidup terlalu sulit untuk kita terka kemana arah dan tujuannya, maka hanya Allah-lah tempat kita memohon bimbinganNya.

Dari keseluruhan film ini, saya nilai film ini wajib tonton. :up:

Pesen bagi temen-temen yang blom nonton : Jangan terlalu cepet bilang film itu bagus ato nggak seblom kalian nonton filmnya