31
Mar '11

This is My Story : Rumah Baca untuk Semua

Kalau ditanya, seperti apa kamu di tahun 2030 nanti, kamu akan jawab apa?
Kalau saya, begini…

Tahun 2030, itu 19 tahun lagi, berarti saya berusia 44 tahun di tahun tersebut.
Apa yang saya harapkan dari wanita usia 44 tahun?
Saya berharap di usia saya sejauh itu, saya sudah bisa menjadi orang yang bisa memberi manfaat pada orang lain. Itu saja. Luas memang, tapi saya mencoba untuk memberi spesifikasi gambaran yang ada dalam benak saya di tahun 2030.

Dengan kegemaran saya membaca dari kecil hingga saat ini, saya punya sekitar 500 buku baik itu novel ataupun buku-buku lain, dari fiksi juga non fiksi. Saya melewati fase dimana saya yang dulunya mesti menabung dulu untuk membeli buku seharga 30-40rb sampai sekarang saya merasa sudah bisa belanja buku tiap bulan dengan budget yang lumayan besar. Ya, itu awalnya semata-mata karena saya hanya ingin membaca. Ada yang bilang, membaca adalah jendela dunia, a room without books like a body without soul, saya rasa itu 100% benar. Dari belajar memasak, menyulam, mengetahui seluk beluk otomotif sampai belajar banyak bahasa bisa kita pelajari dari buku. Walau memang untuk urusan belajar bahasa memang lebih cepat jika kita belajar di lembaga kursus, contohnya kita bisa belajar bahasa inggris di EF, English First yang guru-gurunya bule tulen, bisa lebih cepet deh tuh cas cis cus bahasa Inggris.

Saya mencoba untuk bisa memberikan kemudahan bagi banyak orang yang haus akan buku-buku. Saya coba dari sekarang untuk mengumpulkan lebih banyak lagi buku-buku sehingga pada saatnya nanti, saya bisa mewujudkan harapan saya untuk bisa membuat sebuah rumah baca bagi semua. Semoga temen2 dari EF bisa membantu, dengan mengajarkan bahasa Inggris mungkin di rumah baca tersebut.

I think it’s not hard to realize my expectations, for that I will try hard to make it happen. Hopefully simbok @venustweets and @Pitra as jurors are interested with this post