04
Sep '11

Ketika Pelayanan Resto dinilai Konsumen

Oke ya, mungkin ini bukan yang pertama kali bagi temen-temen semua. Mungkin ada yang pernah mengalami hal serupa. Tapi ya, ini pertama kali buat saya, ada karyawan resto atau cafe atau tempat makan apalah itu yang malah nanya gimana atas kesalahan yang mereka perbuat sendiri? Seharusnya karyawan itu punya solusi atas ketidakpuasan konsumen yang mereka sebabkan, bukan malah bertanya bagaimana solusinya sama konsumen. Apalagi ini si kasir, yang biasanya adalah seseorang yang lebih pinter dari karyawan biasa.

Selanjutnya yang saya sesalkan adalah bagaimana cara si mbak kasir berbicara. Saya rasa jika saya mendapat kata-kata yang manis dari si mbak, mungkin dengan kalimat seperti ini “Maaf ya mbak, kita salah bikin, maaf banget mbak. Nanti akan kami buatkan yang baru sesuai dengan pesanan mbak. Jika mbak ga mau menunggu, kita bisa balikin aja uang yang sudah dibayarkan” kan lebih enak kedengerannnya, lebih kerasa ‘pinternya’ si karyawan dalam menangani keluhan konsumen.

Balik dari sana, saya langsung ngetwit ga akan beli martabak disana lagi! Dan itu tanda bahwa, dia sudah kehilangan kemungkinan konsumen, apalagi klo ada yang baca twit saya dan ga mau makan disana juga? Sayang ya… sayang banget…

Baiklah. Saya cuma curcol aja. Semoga yang berniat punya usaha resto atau makanan yang sejenis maupun lainnya menyadari akan pentingnya memberikan kelas ‘bagaimana menghadapi keluhan konsumen’