02
Nov '11

Nonton Bareng Film Pengejar Angin

undangan film Pengejar Angin

Pengejar Angin membawa saya menyadari daerah-daerah di Sumatera Selatan itu keren banget!

Setelah membujuk Fandagri, akhirnya beberapa temen di Wongkito bisa dapet undangan nonton premiere film Pengejar Angin. Saya awalnya ga tau film apa sih yang dimaksud, kalo beberapa bulan lalu emang kedengeran bakal ada film dengan setting daerah di Sumsel, katanya soal Dapunta. Yaaaa… Kirain film yang disebut-sebut produksi Hanung Bramantyo itu menyajikan film ala kerajaan Sriwijaya jaman Dapunta berjaya, ternyata film Pengejar Angin inilah yang dimaksud.

Diceritakan Dapunta (Qausar) adalah anak SMA di Lahat, salah satu kabupaten di Sumatera Selatan, yang pintar tapi keinginannya untuk melanjutkan kuliah terhalang oleh Bapang (sebutan untuk Ayah, yang diperankan Mathias Muchus). Ayahnya menginginkan Dapunta meneruskan kerja seperti yang dilakukan ayahnya, dengan alasan cinta keluarga dan negeri sendiri. Namun, Dapunta masih punya orang-orang seperti Pak Damar (Lukman Sardi), Umaknya (Wanda Hamidah) dan Nyimas (Siti Helda) yang selalu mendukung cita-cita besarnya.

Dan, ketika keinginan Dapunta terhalang biaya, Dapunta harus mendapati sang Ayah masuk penjara atas pekerjaannya selama ini. Dapunta harus bekerja ekstra keras untuk cita-citanya, belum lagi ibunya jatuh sakit dan keinginan Yusuf dan teman-teman untuk memberhentikan Dapunta dari sekolahnya. Hingga akhirnya Pak Damar melihat talenta Dapunta sebagai seorang pelari yang membawa namanya menjadi pengejar angin.

nunggu sebelum film dimulai

Secara keseluruhan filmnya bagus. Akting pemain-pemain baru seperti Qausar dan Siti Helda pun bagus, walau bahasanya amat terkesan dipaksakan, dialek yang paling pas dalam film ini ya cuma Mathias Muchus, secara ya Mas Muchus ini memang berasal dari daerah setempat. Setting di Lahat, Air Terjun Bedegung kerasa cantik sekali dan view yang diambil amatlah keren. Saya aja jadi pengen kesana.

sama mas Mathias Muchus sebelum film dimulai

Hubungan antara ayah dan anak terlihat menonjol dalam film ini. Walau kadang orang tua suka memaksakan sesuatu pada anaknya, yakinlah itu bukanlah tanpa alasan yang jelas.

Bagi yang belum pernah ke Palembang, boleh juga nonton film ini, karena selain di Lahat, ada beberapa tempat seperti Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak (BKB), Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring yang tak luput dari film ini. Maklumlah ini film kabarnya memang dibiayai penuh oleh Sumatera Selatan, jadi harap maklum jika beberapa kali pak gubernur nongol di film ini.

Ada beberapa hal yang remeh temeh tapi jadi pengamatan saya, kayak kenapa itu baju seragam sekolahnya Dapunta ga dimasukin? Lalu, berantem dan pisau gede (parang) yang dibawa itu berasa kayak jadi satu trademark kalo orang Palembang itu ‘serem-serem’. Padahal kan ya ga gitu-gitu amat.

sama para pemainnya

sama Dapunta dan Nyimas

sama Mas Hanung Bramantyo

Sempet foto-foto juga sama beberapa pemain film ini, tapi baru akan di update setelah gambar dari kamera Mbak Ira diterima udah diupdate pake foto-foto ya. semua foto dari kamera Mbak Ira.

Gimana cerita lengkapnya? Sana nonton aja filmnya, mulai tayang tanggal 3 Nov 2011 di bioskop-bioskop kesayangan Anda

Posted with WordPress for BlackBerry.