09
Nov '11

Review Buku The Moneyless Man

The Moneyless Man

Judul Buku : The Moneyless Man | Kisah Nyata Setahun Hidup Tanpa Uang
Penulis : Mark Boyle
Penerjemah : Rahmani Astuti
Penerbit : Serambi Ilmu Pustaka
Jumlah Halaman : 352 Halaman
Harga : Rp. 40.000
ISBN : 9789790243552

Uang bukanlah segala-galanya, Mark Boyle membuktikan hal itu!

Apa yang ada dalam pikiran kita jika harus menjalani hidup tanpa uang? ya, tanpa uang. Saya rasa, saya akan menjawab ‘saya merasa tidak hidup jika tidak punya uang’, bagaimana dengan kalian?

Saya sepakat, jika memang uang bukanlah segala-galanya, hanya saja semua butuh uang. Banyak kebahagiaan yang bisa kita beli dengan uang, katakanlah bisa beli gadget baru misalnya, pakaian baru, makanan enak, semua dibeli dengan uang. Lalu, siapa Mark Boyle ini? Apa benar dia bisa hidup tanpa uang selama setahun? Saya pun ragu kawan, sampai akhirnya saya membaca buku ini. Mark Boyle menuturkan sendiri bagaimana awalnya dia punya ide se-‘aneh’ ini. Saya katakan aneh, karena mungkin hampir semua orang akan berkata tidak mungkin.

Mark Boyle belajar bisnis selama empat tahun di Irlandia sampai akhirnya dia mengelola sebuah perusahaan makanan organik di Inggris selama enam tahun. Dari perjalanan karirnya mengelola perusahaan makanan, Boyle berkesimpulan bahwa gaya hidup manusia saat ini sesungguhnya sudah terputus dari segala hal yang menjadi objek konsumsi manusia itu sendiri. Kita memakai pakaian tanpa tahu siapa pembuatnya, apakah mereka yang membuat pakaian dibayar dengan layak. Lalu, kita makan dan minum tanpa kita tahu lingkungan seperti apa makanan dan minuman itu diolah. Semuanya karena uang. Setelah melalui pemikiran panjang, akhirnya November 2008, Boyle memutuskan untuk mulai menjalani hidup tanpa uang setahun.

Beneran Tanpa Uang?
Diceritakan sangat detil dalam buku ini bagaimana Boyle melakukan persiapan yang matang atas idenya itu. Mulai dari menjual rumahnya dan akhirnya membeli karavan, semua kartu kredit ditinggalkan. Boyle menjadi vegetarian dan berusaha menanam sendiri sayuran dan buah. Boyle membuat sendiri tungku pemanas untuk karavannya, mencuci sendiri pakaiannya dengan sabun yang dia buat sendiri. Boyle tidak lagi merasa bingung saat dia menjalankan idenya ini. Boyle masih sanggup memberi orang lain.

Mark Boyle menuturkan dengan sempurna semua yang dijalaninya sehingga kita bisa merasakan bagaimana dia dan perjalanan idenya itu. Membaca buku ini membuat saya sadar bahwa segala energi yang setiap hari kita gunakan seringkali melenakan, kemudian berlanjut menjadi keinginan untuk bijak menggunakan waktu. Buku ini tidak mengajak kita melakukan hal yang sama dengan Boyle dengan kembali ke zaman barter ala tempo dulu, tapi buku ini justru mengingatkan kita akan syukur untuk hidup seperti yang sudah kita jalani saat ini.