06
Mar '12

Mantra Man Jadda Wajada dan Film Negeri 5 Menara

Negeri 5 Menara

Dengan best seller-nya novel karya uda A.Fuadi, Negeri 5 Menara yang terkenal dengan mantra ‘man jadda wajada’, akhirnya dibuatlah sebuah film dengan judul sama seperti novelnya. Novel ini sebenarnya buku pertama dari trilogi Alif Fikri. Buku keduanya, Ranah 3 Warna saya rasa justru lebih menarik dari pada buku pertama. Entah bagaimana buku puncak dari trilogi ini. Karenanya, saya tidak terlalu berekspektasi terlalu tinggi akan film ini. Nyatanya, seperti yang sudah saya duga.

Negeri 5 Menara mengisahkan beberapa orang anak laki-laki usia SMA dengan sentral cerita si Alif Fikri, orang Padang yang merantau ke Pondok Madani dalam rangka mengikuti keinginan sang ibu agar dia bisa jadi santri. Dengan enggan akhirnya Alif tes dan akhirnya diterima di Pondok Madani. Bertemanlah dia dengan beberapa kawannya antara lain Raja, Baso dan Atang. Mereka semua menyebut diri mereka Sahibul Menara, dengan cita-cita perjalanan mereka masing-masing menaklukkan belahan dunia mana. Silakan kesini buat yang mau baca review bukunya, udah pernah saya tulis soalnya.

Berangkat dari rasa ingin tahu seperti apa novel ini difilmkan, saya nyempetin nonton film ini. Seperti yang saya bilang diawal, entah kenapa saya merasa film ini amat datar. Man Jadda Wajada seakan-akan hanya keras diucapkan para pemainnya namun tidak terlihat secara nyata. Scene dimana kepergian Baso yang harusnya menjadi satu cerita dramatis, terlihat biasa saja. Saya menginginkan film ini lebih bisa menampilkan usaha para sahibul menara yang berusaha keras bukan cuma keras meneriakkan ‘man jadda wajada’.

Dan, ngomongin soal pemerannya. Oke lah kalo Alif  ya, pas banget sama apa yang ada dalam imajinasi saya. Tapi gak pas menurut saya dengan pemeran Randai, kenapa harus Sakura Ginting ya? Saya ngerasa gak pas aja, harusnya bisa yang lebih ganteng dari Alif, disini Randainya terlihat selengean gitu

Begitu juga dengan Bapaknya Alif yang diperankan David Chalik, kurang kurus deh, kan diceritakan Bapaknya Alif sakit-sakitan. Lulu Tobing yang memerankan Ibunya Alif pun cantik pisan euy dengan gelangnya yang banyak, kayaknya gak pas aja dengan hidup sederhananya keluarga Alif.

Diceritakan diakhir, Alif berubah menjadi Ario Wahab ini paling pas, dan saya agak gak rela kalo ternyata si Raja gedenya diperankan Hardy Hartono, ganteng banged yak.

Walaupun begitu, saya rasa ini tetap film yang baik bagi yang belum pernah baca bukunya. Ost-nya bagus dan terutama bagaimana hubungan antara ustad dan santri dalam film ini baik sekali, juga dengan kisah bagaimana bijaknya kyai di pondok Madani bisa membimbing para santri untuk mengatasi kesulitannya sendiri. Tapi, bagi saya yang udah baca bukunya, mungkin sedikit kecewa dengan film ini.

*poster film dari 21cineplex*