16
May '12

Review Buku Rangperang Laok

Rangperang Laok

Judul Buku : Desa itu Bernama Rangperang Laok
Penulis : Kelompok 14 teman2 Univ. Trunojoyo Madura
Penerbit : Nulisbuku.com
Jumlah Halaman : 138 Halaman
Harga : Rp. 35.000

Catatan ketika KKN pun bisa jadi buku lho!

Saya mendapat buku dari seorang teman blogger asal Madura, Wahyu Alam. Awalnya saya mengira akan dikirim buku yang mengulas tentang Madura atau cerita fiksi yang ditulis Wahyu, ternyata saya salah. Saya mendapati buku ini dan kaget juga kalo buku ini ternyata adalah catatan Wahyu dan teman-temannya saat Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa yang bernama Rangperang Laok.

Desa Rangperang Laok adalah desa yang jaraknya 8 KM dari kota Pamekasan, Madura. Saya sendiri sebetulnya belum pernah ke Madura, yang saya tau sih cuma sate Madura kalo dilihat jarangnya saya rasa desa ini tidak terlalu jauh dari kotanya ya. Tapi namanya unik gitu ya, kayak ngajak perang

Lalu saya membaca buku ini dalam beberapa jam saja, ada banyak hal yang diceritakan oleh 13 orang dalam nama Kelompok 14 ini tentang desa Rangperang Laok ini. Mulai dari bagaimana keadaan desanya, keadaan ekonominya warganya hingga pengalaman mereka saat mencoba mengajar di sekolah di desa itu. Berada di desa itu selama 27 hari membawa Wahyu dkk mendapat banyak pengalaman, mulai dari makan bersama para warga disana hingga dapat surat cinta dari murid di sekolah yang mereka ajar.

Buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto yang menarik, jadi pas baca gak bosen liat teks aja gitu, khas blogger gitu deh ya. ada 13 orang yang ternyata dibagi-bagi jatah nulisnya dengan tema apa tentang desa Rangperang Laok ini. Saya sih berharap buku ini tidak nampak seperti laporan tertulis untuk dikumpulkan atas dasar tugas dari kampus, tapi ternyata saya mendapati seperti itu walau bahasa yang digunakan memang lebih enak.

Idenya bagus, membuat catatan perjalanan menjadi lebih mudah diingat hingga akhirnya dibuatlah sebuah buku. Tapi saya rasa akan lebih enak kalo sebenernya catatan ini diedit terlebih dahulu. Diusahakan agar tidak terlihat seperti ‘tugas’ yang harus dikumpulkan pada dosen, walau sebenernya memang harus seprti itu ya. Saya merasa akan lebih enak jika diedit dengan menggabungkan opini tentang desa tersebut dari kacamata 13 orang dalam kelompok ini.

Misalnya dari sisi warganya seperti apa, apa yang menarik disana, kurangnya apa dan apa saja kejadian lucu yang dijumpai disana. Menurut saya, akan lebih segar membaca hal-hal seperti dibanding membaca dengan gaya buku teks atau semacamnya.

Nah karna ini buku diterbitkan dengan self publishing ya saya menyadari bahwa penting sekali punya editor (ya dicari sendiri gitu ya) yang bisa membantu dalam penulisan, apalagi saya melihat peletakan foto kurang baik dalam buku ini. Jadi terlihat asal letak saja, juga dari segi ukuran foto. Harusnya bisa disesuaikan dengan margin halamannya biar terlihat lebih rapi. Untuk covernya, bagus kok ya, berasa ngeliat peserta lomba L-Men cilik

Satu lagi, karena ini sudah jadi buku, harusnya sih bisa menggunakan nama masing-masing saja, jadi gak usah pake ‘kelompok 14’, kan lebih enak pake nama gitu, karena dari sisi buku nama penulis itu penting juga lho.

Wahyu, terima kasih untuk bukunya ya. Saya masukin ke database di Goodreads juga ya.