Komik Indonesia Gak Kalah Bagusnya

Kalian penyuka komik kah temen-temen?
Saya rasa gak ada orang di dunia ini yang bener-bener gak suka komik. Semua pasti pernah baca komik, paling gak sekali dalam hidupnya, walau udah tua sekalipun.

koleksi komik strip

Dulu waktu kecil saya suka banget baca Paman Gober, sampe langganan gitu, gedean dikit jaman SMP mulai ke komik-komik Elex Media macem Doraemon, dari yang emang komik buat perempuan kayak serial cantik sampe komik berseri kayak Detektif Conan. Dulu di deket SMP dan SMA saya ada taman bacaan. Jadi hampir tiap hari pulang sekolah pasti mampir kesana, minjem buku. Jadi tiap ada yang baru gak akan ketinggalan. Saking seringnya ke taman bacaan itu, si mbak yang jaga itu hapal deh bacaannya yang mana aja

Beberapa komik seri

Waktu kuliah udah mulai males baca komik, yang ada baca novel dan buku-buku yang gak ada gambarnya. Ya seiring waktu lah ya. Tapi…. sekarang ini, mungkin sekitar 3 tahun terakhir saya udah suka lagi baca komik. Malah ngumpulin. Gak koleksi juga sih, paling gak balik lagi membaca komik. Kalo Conan, saya udah males beli, kebanyakan dan gak kelar-kelar. Alhasil saya minjem mulu sama Ardy.

Read More

Memaknai ‘Saling Melengkapi’

Apa tujuan Anda menikah?

Jika jawaban kalian ‘untuk mempunyai keturunan’ maka cobalah untuk menonton film Test Pack karya Monty Tiwa, sekarang filmnya lagi tayang di seluruh bioskop Indonesia.

Tidak ada yang salah dengan jawaban ‘ingin mempunyai keturunan’, hanya saja mungkin seharusnya jawaban itu akan menjadi urutan kesekian dalam suatu niatan menikah. Jika jawaban tersebut menjadi urutan pertama dalam niat menikah, maka ketika mendapati pasangan kalian infertil?

Test Pack the movie (gambar : istribawel.com)

Isu ini yang menjadi tema dalam film Test Pack, dari buku yang berjudul sama karyanya Ninit Yunita. Bukunya saya baca udah lama sih ya, sekitar tahun 2006, masih cover awal. Sekarang sih udah dicetak ulang dengan cover berbeda. Menurut saya bukunya sih bagus tapi dapet visualisasi Reza Rahadian – Acha Septriasa ini yang lebih komplit.

Tata (Acha) dan Rahma (Reza) telah menikah selama 7 tahun namun belum dikarunia anak. Keinginan sangat besar dari Tata untuk bisa mempunyai anak diperlihatkan dengan usahanya melakukan banyak hal, dari mulai makan toge mulu untuk menambah kesuburan, baca buku-buku kesehatan reproduksi hingga periksa ke dr. Peni S (Oon Project Pop) dan disarankan untuk melakukan suntik hormon.

Setelah melakukan banyak cara dan belum menampakkan hasil, dr Peni menyarankan agar Rahmat juga melakukan test kesuburan. Rahmat begitu terpukul saat mengetahui hasilnya tidak sesuai keinginan.

Apa yang terjadi dengan Tata setelah mengetahui kondisi Rahmat? Baiknya temen-temen nonton saja lah. Saya merekomendasikan film ini ditonton tidak hanya untuk pasangan yang sudah menikah, yang belum menikah pun bagus juga kalo nonton film ini. Bahwa ternyata menikah bukan cuma mendengar ‘SAH’ saksi ijab qobul aja, tapi lebih dari itu, bagaimana satu sama lain bisa menerima kekurangan dan melengkapinya dengan kelebihan masing-masing.

Read More

Review Buku Two Kisses For Maddy

Two Kisses For Maddy

Judul Buku : Two Kisses For Maddy | Dua Kecupan Untuk Maddy
Penulis : Matt Logelin
Penerjemah : Nadya Andwiani
Penerbit : Serambi
Jumlah Halaman : 432 Halaman
Harga : Rp. 55.000
ISBN : 9789790243248

Karena kamu, Ayah sanggup menghadapi seumur hidup kenangan.

Bagi saya yang seorang perempuan, punya bayi yang baru lahir itu memang butuh kesabaran ekstra, gak jarang kena baby blues, kadang jadinya pengen marah karena gak tahu itu bayi nangisnya kenapa dan kerasa capek. Tapi…. itu semua menyenangkan ketika melihat senyuman di bibir mungilnya lalu semua rasa lelah terbayar dengan kebahagiaan yang tak terkira.

Bagaimana jika semua itu justru dialami seorang pria? Seorang Ayah yang harus rela menjadi ayah sekaligus ibu bagi bayi prematurnya, ya karena si ibu harus meninggalkan mereka. Dialah Matt Logelin yang harus membesarkan Maddy, putri tercintanya setelah ditinggal Liz Logelin, sang istri yang meninggal sebelum sempat melihat dan memberikan pelukan pada Maddy.

Diawali dengan cerita Matt tentang perjumpaannya dengan Liz dari SMA. Yang satu cowok kuper dan satunya cewek populer dan pintar, mereka bertemu dan memadu kasih. Hingga saat kuliah, Liz dan Matt harus merasakan LDR. Liz yang bekerja paruh waktu sambil kuliah rela menyisihkan uang hasil kerja paruh waktunya untuk membelikan Matt tiket, biar Matt bisa liburan dan ketemu Liz gitu ceritanya.

Mereka berdua akhirnya menikah. Dengan kepandaiannya Liz mendapatkan pekerjaan dengan posisi yang baik dan gaji yang cukup besar daripada Matt yang cenderung lebih santai. Namun, di tahun kedua pernikahan mereka, Liz memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya terdahulu dan Matt pun mendapatkan pekerjaan yang lebih mapan. Hidup mereka bahagia, apalagi setelah diketahui Liz hamil.

Read More

Memangnya Kenapa dengan Domain .id ?

Bangga Pakai .id (foto : @pamantyo)

Sudah lama sebenarnya saya membaca tulisan Pakdhe Blontank soal kegalauan Pandi (Pengelola Nama Domain Indonesia), abis saya baca tulisan itu lalu saya mengangguk-angguk sendiri sambil bilang dalam hati ‘bener juga ya’.

Temen-temen yang punya blog atau web dengan domain sendiri, pada pake domain Indonesia gak? .id (dot aidi) ? Mungkin hampir semua menggelengkan kepala, mungkin serta merta akan bilang .com (dot com) lebih keren kok ya atau .net (dot net). Ini bukan masalah keren atau gak keren kok ya, emang sih kalo kita terhubung dengan internet yang kepikiran soal alamat web/blog itu biasanya ya .com, lah anak saya yang 3 tahun aja kalo ngeliat apa di laptop ibunya udah bisa bilang ‘dot kom itu Nda…’.

Soal Nasionalisme dan Identitas Bangsa

Kalo kita sibuk koar-koar atas nama nasionalisme, ya harusnya kita juga bangga  pake produk-produk buatan dalam negeri, begitu juga dengan domain yang digunakan. Kalo dibandingin dengan negara tetangga yang bangga pake domain negaranya, kenapa kita juga gak belajar dari mereka? Dengan menggunakan domain lokal itu keliatan identitas si pengguna, bukan hanya karena menggunakan bahasa lokal.

Katanya susah registrasi untuk dot aidi…?

Iya, saya merasakan hal yang sama…. tapi itu dulu. Prosedur yang rada ribet dan kadang konfirmasinya bisa lumayan lama. Bener kok, itu dulu. Sekarang Pandi tetap pada prosedurnya tapi lebih cepat dalam hal konfirmasi. Baik itu mendaftarkan domain ataupun perpanjangan. Jika ada hal atau dokumen yang harus dilengkapi pun ada pesan yang masuk ke email. Intinya, sekarang mendaftarkan nama domain dot aidi itu lebih gampang.

Selanjutnya, dari sana saya mulai menggunakan dot aidi (ya, untuk blog lain yang saya punya) dan mencoba mengajak teman-teman jika ingin menggunakan domain sendiri untuk memilih domain dot aidi. Saya bukanlah duta Pandi, tapi paling gak saya mencoba untuk memperlihatkan identitas saya sebagai orang Indonesia.

Lah kok blog ini gak pake domain dot aidi? Saya kadung nemplok dengan yang punya domain utama nih dan blog ini pun udah 2 kali berganti domain sejak awal masa saya memulai dunia per-blog-an. Akhirnya, domain aidi yang saya gunakan, saya pake untuk blog lain

Jadi, kapan kalian mau menggunakan domain dot aidi?

Anonim dan Penyalahgunaan Foto

Suka upload foto di Twitter? Facebook? Apalagi kalo ada tantangan ganti avatar dengan tema tertentu? Hati-hati ya, bisa jadi foto-foto kamu justru disalahgunakan.

Kemarin, saya melihat timeline Twitter seorang teman yang marah karena fotonya disalahgunakan oleh akun anonim. Oke, akun anonim itu sebenernya namanya akun pseudonim alias menggunakan nama lain yang sering kali gak ketauan siapa sebenernya orang dibalik akun itu.

Teman ini awalnya mengikuti sebuah tantangan di Twitter untuk mengupload foto bertema Lingerie di awal tahun 2012 dan baru diketahui sekarang jika foto tersebut digunakan untuk akun anonim sebagai perempuan gak bener. Hmm… kebayang kan gimana jadi gak enaknya?

Sadar akan gak enaknya, trus gimana dong? ya, yang bisa dibantu ya me-report-as-spam akun anonim tadi. Tapi, sulitnya di Twitter adalah kita gak tahu seberapa banyak jumlahnya yang me-report-as-spam sampai akun tersebut di suspend. Berbeda dengan Facebook yang punya halaman sendiri untuk me-report bahwa suatu akun itu palsu atau menyalahgunakan foto/data pribadi orang lain sehingga lebih mudah untuk Facebook menutup akun tersebut.

Jadi gak boleh ya bikin akun anonim?

Ya boleh saja, tergantung keperluannya. Jika untuk hal berbagi keseharian biasa, kenapa harus pake akun anonim? Ya pake aja akun pribadi, lebih santai, lebih mudah untuk berinteraksi dengan yang lain dan jadi terasa lebih dekat tho. Penggunaan akun anonim untuk keperluan kerjaan, bisnis dan sebagainya sih boleh aja. Yang mengkhawatirkan justru akun anonim yang dengan sembarangan ngetuit/ngomong dan malah gak tanggung jawab atas apa yang sudah di tuit/di share.

Ranah Twitter itu komplit lho, kita bisa dapetin kemudahan informasi apa saja didalamnya dan begitu juga hal-hal negatif (penipuan, bully dsb) pun bisa terjadi dengan mudah. Tinggal kita aja yang pinter-pinter menggunakannya. Kecepatan informasi didalamnya pun sangat hebat, sekali tuit di detik berikutnya bisa didapati dengan mudah yang me-ReTweet.

Think before posting ya kawan