Anak-Anak Korban Orangtuanya

Anak adalah buah hati orangtua, buah cinta kasih orangtuanya. Itu teorinya. Normalnya begitu. Lalu apa ada anak yang ‘tidak normal’? Tidak normal di sini bukan karena seorang anak dilahirkan dengan kekurangan secara fisik, tapi lebih dari itu, kekurangan yang secara psikologis dirasakan si anak, yang dia bawa dari kecil hingga ia besar.

Ada anak-anak yang dilahirkan tanpa cinta, hasil perkosaan misalnya, ada juga anak-anak yang lahir dari sebuah kesalahan dari orangtuanya, yang kadang mati-matian ingin digugurkan sejak dari janin, ada anak-anak yang ditinggal pergi oleh orangtuanya, ‘dititipkan’ ke keluarga lain, pada panti asuhan dan sebagainya. Mereka tetap anak-anak normal, tapi bukan dari keluarga yang dikatakan orang-orang ‘normal’.

Anak dengan label ‘diluar nikah’ misalnya. Sama sekali anak itu gak salah, gak minta kok dia dilahirkan ke dunia, yang salah adalah perbuatan orangtuanya. Berhenti mengungkit atau mencap si anak dengan label seperti itu, dia tetap anak normal yang harus kita samakan dengan yang lainnya, tak berbeda. Cerita Ganda dalam novel No Place Like Home contohnya, menggambarkan rasa sakit hati yang dibawa Ganda atas label anak diluar nikah sejak dia kecil. Kadang malah keluarga terdekat yang paling sering mengungkit dan menjadikan sakit itu lebih parah. Rasa sakit ini malah membawa dendam berkepanjangan pada orangtua sendiri lalu terbawa hingga anak dewasa.

Janin hasil perkosaan, boleh kah digugurkan? Saya merasa boleh saja, tapi kembali ke hati masing-masing perempuan. Ada yang berpikir melahirkan anak hasil perkosaan adalah tetap baik, setidaknya perempuan seperti ini mampu memikul tanggung jawab atas takdirnya. Ada yang berpikir akan gila jika melahirkan anak hasil perkosaan, ya saya mencoba memahami, daripada tidak ada rasa kasih dari proses hingga anak itu tumbuh besar, untuk apa? Banyak perempuan korban perkosaan yang akhirnya melahirkan anak dan meninggalkannya. Akhirnya, lagi-lagi membawa dendam bagi si anak hingga ia dewasa.

Anak yang ditinggalkan oleh orangtuanya, entah dengan alasan apa pun juga membawa luka dalam hatinya. Mereka mungkin akan menemukan keluarga baru, keluarga yang hangat, yang normalnya sebuah keluarga, tapi luka itu tetap ada. Bagi anak perempuan yang ditinggalkan ayahnya sedari kecil misalnya, pada saat dia menikah, ayah kandung tetap yang paling berhak menikahkan. Luka dalam hati tentu terbuka, ke mana saja orangtuanya selama ini?

gambar dari : verywellfamily.com

Ada anak yang mendapatkan kekerasan oleh orangtuanya sendiri, kekerasan fisik juga kekerasan secara verbal. Yang merasa tidak sama sekali diurus sama orangtuanya baik itu kasih sayang juga finansial. Kata-kata yang paling menyakitkan bagi si anak akan dia bawa hingga ia besar. Novel Di Tanah Lada menggambarkan tentang itu, Ava harus bersembunyi dalam koper dan juga harus tidur dalam kamar mandi jika ayahnya memukul ibunya. Ada juga serial Korea, Liver or Die. Poong Sang harus mengurus 4 orang adiknya karena sang ayah tidak mau mengurus mereka, bukan cuma itu, ayahnya juga suka memukul, kata-kata ayahnya seringkali menyakitkan. Setelah ayahnya meninggal, adik-adik Poong Sang tidak peduli malah menyimpan luka besar dalam hati.

Luka yang dibawa anak-anak ini dari kecil akan menetap hingga dewasa malah mungkin hingga ia pun berkeluarga. Kemungkinan hal yang sama dengan yang ia dapati sejak kecil bisa saja terjadi pada keluarganya nanti. Luka itu tak serta merta bisa terhapuskan. Merelakan, memaafkan mungkin bisa, tapi sulit untuk dilupakan.

Sungguh disayangkan, orang dewasa seringkali menilai anak-anak itu dengan sudut pandang mereka. Pun setelah mereka dewasa, tetap saja orang-orang menilai itu hal yang lalu, yang harusnya dapat dimaklumi dan ya sudahlah. Seharusnya kita bisa mengerti bahwa luka yang dibawa dari kecil tidak lah sama bagi tiap orang, cara untuk melupakannya pun berbeda-beda.

Gak ada panduan manual menjadi orangtua. Butuh belajar sepanjang hidup menjadi orangtua. Jika ada pasangan menolak menjadi orangtua, ya hargai saja itu, karena memang tidak mudah menjadi orangtua. Jika ada yang merasa perlu menunda punya anak karena merasa belum siap secara psikologis, ya hargai itu. Tapi kalo menunda punya anak karena masalah finansial, ketahuilah punya anak bukan cuma soal urusan menafkahi mereka, memberi mereka makan enak, baju, mainan dan pendidikan yang bagus tapi lebih dari itu mereka berhak mendapat kasih sayang dan cinta yang tulus dari orangtuanya.

One thought to “Anak-Anak Korban Orangtuanya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.