Puisi Pak BJ Habibie untuk Ibu Ainun

β€Ž

Ibu Ainun Habibie

β€Žβ€‹Ini puisi pak BJ Habibie yang di broadcast di BBM, saya pikir ini puisi terindah apalagi untuk almh. Ibu Ainun Habibie.

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang,
sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,
hatiku seperti tak di tempatnya,
dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang,
rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,
aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua,
tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia,
kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Read More

Anak Hanyalah TitipanNya

Beberapa hari yang lalu, seorang teman memberi link sebuah artikel dari blog Ayah Edy via BBM, langsung saya baca. Saya tertegun, dan saya teruskan link tersebut ke suami. Kisah Anak yang meminta dimandiin sama Bundanya. Karena sangat sibuk, sang Bunda tidak pernah sempat memandikan anaknya, sampai akhirnya janji sang Bunda terpenuhi saat sang anak meninggal dunia. Hanya ada sesal dari orangtuanya, yang tak mampu memberikan yang ‘terbaik’ bagi si anak.

Ibu dan Anak

Hari sabtu, 10 April 2010, saya dikejutkan kembali dengan berita kematian Bilqis Anindya Passa. Sekedar mengingatkan Bilqis adalah anak berumur 17 bulan yang menderita kelainan hati. Sang Ibu yang telah bersusah payah menggalang dana, telah melakukan yang terbaik untuk kesembuhan putrinya. Ketabahan super dahsyat dari orangtua Bilqis, membuat saya yakin tak ada penyesalan disana, mereka telah memberikan yang terbaik bagi anaknya.

Hari ini, tadi pagi dapet kabar Chika-keponakan Kak Goiq– meninggal dunia. Ya Allah….. kaget, anak berumur 6 bulan yang walaupun belum pernah bertemu sering saya dengar ceritanya dari Kak Goiq. Chika berumur hampir 7 bulan, cuma beda 2 minggu dari Alayaku. Waktu Alaya lahir 1 September tahun lalu, Chika lahir 15 September. *menahan air mata*

Read More

Review Buku Berbagi Cerita Berbagi Cinta

Berbagi Cerita Berbagi Cinta

Judul Buku : Berbagi Cerita Berbagi Cinta
Penulis : Sahabat Ngerumpi
Penerbit : Inspiring
Jumlah Halaman : 166 Halaman

alhamdulillah dikasih gratis nih sama Mbok Venus dan saya bahagianya dua kali karena juga dapet tanda-tangannya Simbok *harusnya ttd Mbak Silly juga ya*
Sebelumnya, banyak kok sekarang beredar buku-buku yang ditulis para blogger, yang duluan sebut saja Raditya Dika ddengan Kambing Jantannya, dan sekarang banyak bermunculan para penulis yang berawal dari cuma sekedar nulis di blog mereka masing-masing.

Seperti itu juga buku Berbagi Cerita Berbagi Cinta (BCBC) ini diambil dari tulisan beberapa blogger yang bergabung di Ngerumpi.com. Saya sendiri emang belum bergabung di Ngerumpi, makanya kali ya tulisan saya ga masuk dibuku ini *halah, berasa bagus aja yak tulisan saya*

Cerita yang ringan dibagi dalam bab-bab khusus seperti Relationship, Living Single, X&Y, Family yang sesuai dengan topik-topik yang memang ada di Ngerumpi.com. Saya rasa ini tulisan-tulisan terbaik yang memang layak untuk dipaketkan menjadi sebuah buku yang ringan dibaca namun berarti banyak dalam kehidupan perempuan. Iya, perempuan, karena disini kita bisa melihat sisi perempuan yang kadang ga kepikiran sama kita yang juga perempuan. Saya juga menganjurkan agar para pria juga membaca buku ini, biar tau gimana isi kepala para perempuan

Read More

Kedewasaan = Kemapanan

Berpasangan

Beberapa waktu lalu saya sempat chat dengan seorang teman baik (laki-laki) dan dia bercerita banyak sampe saya musti tidur jam 1 pagi demi dengerin ceritanya *sekalian-saya-juga-lagi-instal-ini-itu-juga-sih*.

Saya : Kenapa akhirnya putus sama si ***?
Teman : Dia bilang, aku kayak anak kecil, ga dewasa, ga berpikir masa depan, ga punya masa depan cerah.
Saya : Lah, kok bisa gitu, kalian kan udah 3 tahun lebih pacaran kan ?
Teman : Ga jaminan. Dia malah udah punya pacar baru yang kerja di bank ***.

Itu sedikit curhatan temen saya. Saya bener-bener ga bermaksud untuk mempublish cerita orang, tapi pengen buat suatu ajang diskusi dan tukar pikiran (walau saya sudah lebih dulu diskusi sama suami). Saya kenal betul temen saya itu dan saya juga kenal mantan pacarnya. Teman saya itu bekerja di salah satu perusahaan media di Palembang dengan posisi yang bagus. Dari keluarga baik-baik dan berkecukupan, kendaraannya sehari-hari pake mobil. Entah kenapa dia merasa dikalahkan dengan seorang laki-laki yang kerja di salah satu bank besar entah posisinya apa.

Saya tidak mau menghakimi seseorang. Saya tidak mau men-judge seseorang begini dan begitu. Tapi yang saya tanyakan, apa ukuran kedewasaan laki-laki dinilai dari kemapanannya? Mapan itu erat ya kaitannya sama materi, harta, jabatan yang saat ini dipunyai. Saya pikir kedewasaan tidak bisa diukur dari kemapanannya.

Read More