Daripada Salah Pilih, Mending Gak Usah Milih?

Kampanye udah dimulai nih.
Sebelum dimulai aja udah penuh poster caleg dimana-mana kan ya?
Lah, trus kita eh saya bingung mau milih yang mana.

Gak kenal.
Si ini tuh gak baik kok mau nyalon lagi sik.
Lah ini kok malah nyalon?

Beberapa komentar kalo lihat poster caleg tuh biasanya begitu. Trus bingung lah harus pilih yang mana.

April nanti tepatnya tanggal 9, pesta demokrasi dimulai. Warga Indonesia mulai milih siapa-siapa aja anggota legilatif yang berhak dijadikan wakilnya. Saya sendiri sebetulnya kebingungan, hendak mencari kemana informasi tentang para caleg ini.

dct-prov

Seperti banyak dibilang, tak kenal maka tak dipilih. Maka proses mengetahui para caleg harusnya dimulai segera. Yang paling gampang adalah dengan cara googling (zaman internet begini kan harusnya gak susah lagi tho cari informasi) dengan kata kunci ‘calon legislatif 2014’. Yak sip, pencarian pertama ada dct.kpu.go.id, mari kita bahas setelah celingukan di web ini.

Read More

Lawan Tulisan Dengan Tulisan

Sebenarnya sudah seminggu tulisan Damar Juniarto tentang Pengakuan Internasional Laskar Pelangi di Kompasiana itu diterbitkan. Saya membaca tulisan panjang itu, dan disanalah saya juga baru tahu nama asli Mas Amang (atau @scriptozoid ) begitu dia dikenal di kalangan Goodreads.

gambar : leverage-pr.com
gambar : leverage-pr.com

Terlepas dari Mas Amang dekat dengan teman-teman Goodreads, saya merasa tulisannya di Kompasiana itu begitu bagus, begitu lengkap, tentunya dia gak akan nulis begitu kalo memang dia gak tahu bener gimana gimananya soal buku penulis ngetop, Andrea Hirata itu.

Saya sendiri penyuka karya Andrea Hirata, silakan buka halaman Goodreads saya disana terlihat penulis favorit saya ya salah satunya Andrea Hirata. Saya kaget ketika kemarin pagi timeline Twitter heboh jika Andrea Hirata memperkarakan tulisan Mas Amang tersebut. Saya gak menyangka langkah tersebut yang diambil oleh Andrea Hirata atas sebuah tulisan tentang karyanya.

Read More

Bagaimana Baiknya Menulis Keluhan Tentang Pemerintahan Dalam Blog?

Sebenarnya saya kadang bingung, bagaimana sebaiknya kita sebagai blogger menulis keluh kesah tentang pemerintahan negara ini?

Ada banyak keluhan yang terjadi, mungkin kaitannya tentang tindakan korupsi misalnya, tentang kekhilafan polisi yang menerima suap atau tentang birokrasi dari orang-orang pemerintah yang biar cepet mesti dikasih duit, berikut juga tentang layanan publik yang menjadi tanggung jawab pemerintah.

Rasa-rasanya hal ini banyak banget kejadian, hanya saja gak banyak yang mau menceritakan, menulis atau apalah namanya kepada banyak orang, melalui blog misalnya. Saya pribadi kadang juga takut kejadian kayak Pak Musni yang menceritakan dugaan kasus korupsi di salah satu sekolah atau kayak 3 blogger Vietnam yang masuk penjara gara-gara mengkritik pemerintah di negaranya.

Katakanlah saya banyak gak ngerti sama urusan politik negara ini (atau gak mau ngerti) yang njelimet tiada tara, tapi saya juga cuma seorang blogger yang kadang gemes pengen nulis sesuatu yang berbau kritik pada pemerintah. Namun, beberapa kasus yang bermunculan membawa sebagian besar blogger memilih berada di zona aman, dengan dalih ‘ya daripada kena kasus’.

Saya pikir kebebasan berpendapat/berekspresi menjadi omong kosong jika kita  tidak bisa benar-benar ngomong/menulis tentang banyak hal dan berada dalam ketakutan. Takut terjerat UU ITE misalnya, takut dipolisikan atas pencemaran nama baik contohnya. Uhg…. saya mah beneran jadi takut, liat polisi aja saya males apalagi urusan sama pengadilan.

Jadi, kira-kira menurut teman-teman bagaimana sebaiknya kita sebagai blogger bisa menuliskan keluhan atas pemerintahan dengan bebas tanpa rasa takut?

Mantra Man Jadda Wajada dan Film Negeri 5 Menara

Negeri 5 Menara

Dengan best seller-nya novel karya uda A.Fuadi, Negeri 5 Menara yang terkenal dengan mantra ‘man jadda wajada’, akhirnya dibuatlah sebuah film dengan judul sama seperti novelnya. Novel ini sebenarnya buku pertama dari trilogi Alif Fikri. Buku keduanya, Ranah 3 Warna saya rasa justru lebih menarik dari pada buku pertama. Entah bagaimana buku puncak dari trilogi ini. Karenanya, saya tidak terlalu berekspektasi terlalu tinggi akan film ini. Nyatanya, seperti yang sudah saya duga.

Negeri 5 Menara mengisahkan beberapa orang anak laki-laki usia SMA dengan sentral cerita si Alif Fikri, orang Padang yang merantau ke Pondok Madani dalam rangka mengikuti keinginan sang ibu agar dia bisa jadi santri. Dengan enggan akhirnya Alif tes dan akhirnya diterima di Pondok Madani. Bertemanlah dia dengan beberapa kawannya antara lain Raja, Baso dan Atang. Mereka semua menyebut diri mereka Sahibul Menara, dengan cita-cita perjalanan mereka masing-masing menaklukkan belahan dunia mana. Silakan kesini buat yang mau baca review bukunya, udah pernah saya tulis soalnya.

Berangkat dari rasa ingin tahu seperti apa novel ini difilmkan, saya nyempetin nonton film ini. Seperti yang saya bilang diawal, entah kenapa saya merasa film ini amat datar. Man Jadda Wajada seakan-akan hanya keras diucapkan para pemainnya namun tidak terlihat secara nyata. Scene dimana kepergian Baso yang harusnya menjadi satu cerita dramatis, terlihat biasa saja. Saya menginginkan film ini lebih bisa menampilkan usaha para sahibul menara yang berusaha keras bukan cuma keras meneriakkan ‘man jadda wajada’.

Read More

Lomba Berandai-andai dengan Semi SEO

Tadinya, saya mau ikut lomba ini karena di timeline twitter saya banyak sekali buzzer yang nginfoin lomba inih. Awalnya saya tertarik menulis karena ini lomba berandai-andai menjadi anggota DPD, walo dalam hati saya ga pengen sama sekali jadi anggota DPD, tapi saya ingin menulis agar para anggota DPD bisa membaca catatan para blogger untuk mereka sebagai harapan rakyat. Soal hadiah ya itu hadiah, walo memang hadiah yang ditawarkan begitu menggiurkan. Sebut saja Iphone 4S, BB, GTab dan paket wisata kunjungi eloknya Indonesia. Klo yang terakhir ini, mungkin maksudnya bisa kemana aja di Indonesia kali ya

untuk blogger

Setelah dibaca-baca, ternyata lomba ini bersifat SemiSEO. Lalu, muncul deh rasa malas untuk ikutan, bukan apa-apa klo udah namanya SEO, yang ikutan pasti berusaha banget mengeluarkan jurusnya untuk berada di peringkat teratas halaman 1 mesin pencari itu. Lalu akhirnya lupa, jika isi tulisan adalah yang terpenting.

Awalnya saya mengira lomba ini keren banget, dari tulisan banyak blogger diharapkan para anggota DPD bisa mengerti keinginan rakyat. Anggota DPD lalu bisa saja dapet ide dari tulisan para blogger yang ikutan lomba ini sehingga anggota DPD bisa terasa kehadirannya dalam masyarakat. Tapi ternyata mungkin tidak seperti itu jadinya klo pake semi SEO. Ini berarti akan diambil beberapa tulisan teratas saja (mungkin halaman 1 dan 2 pada hasil pencarian mesin pencari) lalu baru akan dinilai tulisan-tulisan itu tadi.

Ya sayang dong ya, sayang jika tulisannya bagus dan idenya keren tapi ternyata tidak berada di hasil pencarian teratas itu, ya pastinya akan kalah. Akan berbeda halnya kalo semua tulisan yang masuk dibaca dan dinilai oleh tim juri.Ya semoga aja sih yang jadi juri itu ya anggota DPDnya sendiri ya, biar pas dan kena aja gitu. Apalagi sebagai peserta kita diminta untuk memposisikan diri sebagai anggota DPD RI, di mana mengembangkan dan menyejahterakan daerah-daerah di Indonesia adalah tugas, peran dan tanggungjawab anggota.

Read More