Hasil Diskusi Transparansi & Kebebasan Berinformasi/Berekspresi

Sebelum kelupaan, baiknya semua ditulis, begitu juga dengan hasil diskusi temen-temen blogger dan aktivis informasi dari Aceh hingga Papua awal Juli lalu tentang transparansi dan kebebasan berinformasi/berekspresi.

7 Juli lalu di acara (Focus Group Discussion) FGD Camp yang diadakan ICT Watch, temen-temen blogger dan juga aktivis informasi diajak untuk melakukan diskusi yang dibagi per kelompok dengan topik yang berbeda.

Ada sebanyak 40 orang yang akhirnya dibagi menjadi 4 kelompok sesuai dengan peminatan masing-masing. Jadi, temen-temen diminta untuk memilih ke kelompok mana mereka akan berdiskusi. Akhirnya diskusi santai dilakukan di House of Eva, Duren Tiga Selatan Jakarta dengan didampingi oleh fasilitator masing-masing kelompok.

Setelah diskusi sekitar 1 jam, perwakilan tiap kelompok diminta untuk bisa memaparkan hasil diskusi yang sudah dilakukan oleh kelompoknya masing-masing kepada semua peserta FGD untuk selanjutnya dilakukan diskusi panel.

Kita lihat hasil diskusi masing-masing kelompok ya :

Kelompok 1 : Information Diversity (Keberagaman Informasi)

Diskusi Kelompok 1

Beberapa dasar pemikiran:
– Oligopoli kepemilikan media yang rentan hanya melayani kepentingan golongan/kelompok tertentu/terbatas. Ingat Pemilu 2014 segera tiba. Untuk Radio/TV, padahal menggunakan frekuensi milik publik.
– Tak cukup tersedianya pilihan informasi bagi publik, dapat dianggap sebagai bentuk pembodohan dan/atau penyensoran yang represif.
– Tersedianya channel/medium baru (blog, media sosial, dll) via Internet bagi penggunanya untuk berbagi informasi secara online.

Kelompok 1 berdiskusi tentang bagaimana besarnya pengaruh media mainstream dan bagaimana peranan media warga dalam memberikan alternatif informasi.

Disebutkan bahwa definisi mainstream disini adalah pelaku industri media yang besar, yang mana penetrasi informasi media mainstream sudah sampai ke daerah marginal. Media mainstream mampu membangun stereotip baik positif atau negatif tergantung kepentingan dan juga mampu menyeragamkan informasi tapi cenderung memperkecil pilihan informasi. Belum beragamnya media mainstream dalam memberikan informasi dikarenakan berpatokan pada pemilik modal, rating, iklan dan bahkan kekuasaan politik.

Untuk itu perlu penyeimbang dari media warga/alternatif yang ternyata sudah beragam namun dirasa belum cukup, sehingga kita seharusnya bisa memperbanyak produksi konten/informasi yang positif dengan cara berkolaborasi dengan berbagai komunitas blogger/aktivis informasi secara berkesinambungan.

Tantangan media warga/alternatif ini yaitu disisi internal, motivasi akan profit yg bisa menurunkan kualitas konten dan konsistensi, dan sisi eksternal penguasa bisa melakukan pengekangan dan juga masih banyak masyarakat yang belum melek media.

Rekomendasi:
– produsen: bahwa pendidikan media tidak hanya pada teknis, tapi juga kemampuan menulis.
– konsumen: perlunya meningkatkan kesadaran dan hak mendapatkan informasi yang beragam. Edukasi juga harus terus dilakukan untuk peningkatan kapasitas oleh kelompok yang peduli dan kompeten.
– hukum : perlu penegakan hukum yang jelas dan mampu mendorong perombakan regulasi yang ada. Pemerintah sebaiknya menguji UU sebelum diberlakukan.

Kelompok 2 : Information Asymmetry (Asimetris Informasi)

Diskusi Kelompok 2

Beberapa dasar pemikiran:
– UUD 45 menjamin hak siapapun untuk berinformasi dan berekspresi. Tetapi pada prakteknya, kelompok minoritas (marjinal), kerap ditekan/dibatas ketika ingin gunakan haknya tersebut
– Kelompok marjinal rentan terstigma dan terhambat ketika berinformasi dan berekspresi, karena faktor perbedaan preferensi seksual, keterbatasan fisik, kondisi kesehatan (penyakit) tertentu, lokasi geografis atau status ekonomi.
– Asimetris informasi adalah salah satu penyebab keterbelakangan dan ketidakadilan dalam pembangunan suatu negara, khususnya dalam memberikan (kebijakan) pelayanan publik.

Read More

Catatan FGD Kode Etik Online

Hari kamis-sabtu kemarin saya berkesempatan ke Jakarta. Sejak beberapa minggu yang lalu saya di undang untuk hadir ke acara Focus Group Discussion (FGD) Kode Etik Online dari ICT Watch. Saya berangkat malem sih dari Palembang, sampe di hotel Harris, tempat acara itu diadakan malah tengah malam, jam 12 malam tepatnya. Jadi, ga sempet ngobrol banyak langsung ke kamar hotel. Saya sekamar dengan Mbak Tuteh yang ternyata jauh-jauh dari Ende, NTT. Saya dan Mbak Tuteh akhirnya ngobrol banyak sampe sekitar jam 1.30 pagi.

Suasana ruangan pagi itu

Paginya, acara di mulai jam 9.30 emang ga langsung diskusi sih. Ada sharing dulu untuk amunisi kita sebagai peserta dalam diskusi siang harinya. Dibuka oleh Mas Donny BU, lanjut deh sharing dari Mas Sammy dari APJII tentang pentingnya komunitas dalam perkembangan internet dan Mas Sigit dari PANDI tentang domain .id. Sesi kedua lanjut sharing dari Mas Anggara selaku pengacara publik yang ngerti soal hukum dan undang-undangnya, beliau memberikan beberapa kasus hukum terkait kebebasan berekspresi. Mas Nezar selaku jurnalis dari Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) sharing soal pewarta warna (citizen journalism).

Sesi ketiga dimulai setelah sholat jumat dan istirahat siang yaitu dari perwakilan Google Asia Pasific , Ross LaJeunesse dan Mike Orgill bercerita tentang kebijakan Google terhadap etika online dan peraturan pemerintah di sejumlah negara, mereka bahkan membuat halaman khusus Google Transparancy Report. Lanjut lagi sharing dari Pak Nukman yang memberi tahu beberapa contoh kasus di dunia online dan memberikan informasi soal perbedaan kasta di era social media saat ini. Menariknya, ada Kang Onno W Purbo yang jadi moderator, sesi ketiga ini jadi lebih bikin mata seger

Tingkatan Kasta di era socmed

Setelah ketiga sesi itu, barulah kita lanjut ke sesi diskusi. Diskusi yang pertama, kita dibagi menjadi dua grup, yaitu grup yang pro akan perlunya etika online dan grup satunya yang kontra. Saya ada di grup pertama yang pro adanya etika online. Kita diminta menuliskansekitar 12  alasan pro dan kontra ke kartu yang telah dibagikan. Setelah itu akhirnya kita diadu dengan kartu-kartu yang telah kita tulis tadi. Akhirnya, grup yang pro menang…. horeee… 

Read More