Nonton Film Kala Weekend

Ibu-ibu itu gak ada liburnya. Saya setuju, kalo pekerja pasti ada libur di weekend, sabtu minggu gitu, kalo para ibu, harus sedia setiap saat 24/7 apalagi kalo punya anak balita.

Weekend pun saya rasanya sulit leyeh-leyeh. Ada aja yang harus diberesin, belum lagi kalo anak udah berantakin sana sini, tinggal aja ini mamaknya ngelus dada, hela nafas. Jadi, untuk membuat rada santai di weekend, saya pikir menonton adalah terapi yang paling pas. Gak harus nonton bioskop, nonton di rumah aja mah saya udah seneng banget. Jadilah hari sabtu dan minggu adalah hari dimana, saya pasti nyari film buat ditonton.

Thanks to koneksi internet Indihome yang bisa bikin nonton di rumah jadi menyenangkan. Nonton online jadi pilihan. Saya hampir selalu nonton film Korea (kecuali genre horor ya) atau romantic comedy hollywood. Lumayan lah, bisa bikin rasanya weekend itu lebih santai, lebih bisa dinikmati (walau kadang sembari nyetrika pakaian sih).

Rating Film Anak dan Rating Games

Penting kah mengecek rating film anak-anak?
Saya gak tau seberapa penting menurut banyak orangtua tentang rating sebuah film anak-anak. Rating disini maksudnya usia yang diperbolehkan untuk menonton sebuah film ya. Menurut saya pribadi, itu hal yang penting.

Sejak Alaya umur 4 tahun, dia udah pernah diajak nonton. Waktu itu kepepet lah, bunda sama ayahnya mau nonton dan dia gak mau dititipin ke eyangnya, jadinya ya kita ajak aja. Film apa? Film action Die Hard :p
Saya tau sih gak seharusnya dia nonton film begitu. Tapi saya gak nyesel kok, karena dari mulai filmnya Alaya udah tidur di kursinya sampe film selesai

Setelah kejadian itu, Alaya gak pernah lagi mau ikut kalo kita nonton film. Masuk umur 5 tahun, dia udah tahu film yang mau dia tonton, jadilah dia yang minta. Film Minions, pas di cek ratingnya ‘Semua Umur’, jadilah saya nemenin dia nonton itu film.
Terus selanjutnya dia pengen nonton Inside Out, eh tapi pas di cek ratingnya 12+, jadilah saya gak berani ngajakin Alaya ke bioskop. Padahal filmnya kan bagus ya. Entah kenapa dan bagaimana itu film dikasih rating begitu, ada yang bilang karena filmnya lebih mudah dimengerti untuk usia begitu.
Saya akhirnya minta Alaya buat nunggu aja itu filmnya udah kualitas bagus dan minta oomnya download biar puas nontonnya berkali-kali.

Read More

Memahami Hubungan Ayah & Anak Dari Toba Dreams

Sukses itu bukan saat kamu berhasi jadi orang kaya, tapi saat kamu berhasil menjadi orang baik.

Seorang teman merekomendasikan film Toba Dreams ini pada saya dengan testimonial bahwa film ini adalah film Indonesia terbaik yang pernah ia tonton. Oke…baiklah, akhirnya dengan tidak menonton trailernya lebih dulu saya putuskan untuk menonton film dimana Vino G. Bastian berakting dengan istrinya sendiri, Marsha Timothy ini. Toh ini bukan film keduanya yang pernah saya tonton, sebelumnya saya sudah pernah menonton Air Mata Terakhir Bunda, dimana pasangan ini juga yang main.

Sesuai judulnya film ini tentu film yang bersetting Danau Toba. Benar saja, sepanjang film mata saya menikmati keindahan Danau Toba nan indah itu. Jelas dari judulnya pun kita suah tahu, film ini akan kental dengan budaya batak walau tak hanya di Balige syutingnya tapi juga tetap ada Jakarta.

Film dimulai dengan Sersan Tebe (Mathias Muchus) yang pensiun dari pekerjaan sebagai anggota TNI Angkatan Darat. Sebagai seorang prajurit pembela negara nan idealis, segera setelah selesai masa kerjanya dia mengajak istri dan 3 anaknya, Ronggul (Vino Bastian), Semurung dan Taruli kembali ke desa tempat dia berasal yaitu di Balige, Toba. Sebagai seorang bapak yang sering bertugas semasa kerjanya, Ronggul sebagai anak tertua tidak mendapat didikan langsung dari Sang Ayah dan ia juga merasa ayahnya tidak sayang padanya dibandingkan 2 adiknya yang lain. Ronggul akhirnya besar menjadi anak yang keras kepala dan selalu berbeda pendapat dengan sang ayah. Pak Tebe mengatakan Ronggul adalah anak yang berperangai buruk. Ronggul sebenarnya ingin menjadi apa yang dia inginkan, bukan menjadi apa yang ayahnya inginkan menjadi seorang prajurit. Sebagai seorang prajurit Pak Tebe mengharuskan anak-anaknya menjadi apa yang ia mau layaknya komandan pada anak buahnya.

Read More

Menua, Mengingat dan Melupakan

Things we want to remember, we forget. Things we want to forget, we remember…

Semalem, saya baru nonton film Thailand, judulnya Best of Times. Bagi saya yang tidak terlalu setuju pada apa kata IMDB, saya merasa film ini bagus buat ditonton. Dan, memang bagus walau memang tipikal film drama yang banyak dialognya. Gak kayak film romantis Thailand yang lain, film ini justru kuat karena tokoh pasangan kakek Jamrus dan nenek Sompit.

Silakan bagi yang pengen nonton film ini, bagus buat nemenin nunggu hujan. Saya gak akan cerita tentang gimana cerita filmnya, tapi pengen bahas soal alzheimer yang disinggung dalam film ini.

Bukan cuma film Best of Times sebenernya yang menyinggung alzheimer, yang pernah juga saya tonton dan ingat sekali itu di serial Grey’s Anatomy, ada juga CSI: NY, saat Adam mendapati ayahnya punya penyakit ini dan juga beberapa film lainnya.

Cepat atau lambat, setiap orang akan lupa, hanya saja bagi orang dengan alzheimer, mereka akan lebih cepat melupakan. Mulai dari lupa mau kemana, udah minum kopi apa belum, hingga yang paling menyedihkan yaitu lupa siapa pasangan dan anak-anaknya.

Read More

The Best I Never Had

Bersenang-senanglah karna waktu ini yang kan kita rindukan di hari nanti….

Saya ingat betul waktu perpisahan SMA lagu ini adalah lagu yang paling berasa dan juga satu lagu lagi lagunya Project Pop.

Jika tua nanti kita tlah hidup masing-masing, ingatlah hari ini….

10 Years

Hal yang menyenangkan ketika lulus SMA. Perasaan bahagia memasuki masa kuliah dan beranjak dewasa. Tapi lirik di kedua lagu itu benar adanya, saat-saat di sekolah, menjadi saat-saat yang saya rindukan sekarang, padahal belum genap 9 tahun dari kelulusan SMA. Kerinduan itu bisa bertemu dan berbagi banyak cerita di sekolah dulu bersama teman. Syukurnya, kami masih sering mengetahui banyak cerita. Thx to BBM dan Facebook

Kemaren saya sempet nonton film, judulnya 10 Years. Sebenarnya film biasa, tentang reuni 10 tahun sejak masa mereka SMA. Tapi justru cerita mereka yang bikin saya jadi ikutan kangen masa-masa SMA. Tentunya udah banyak yang menikah dan punya anak. Ada yang jadi lebih gendut, ada yang jadi musisi, ada yang tambah cakep.

Read More