09
Jan '11

Review Buku The Wedding Games

Review Buku The Wedding Games
Review Buku The Wedding Games
Review Buku The Wedding Games

Ditambah dengan kebiasaan untuk mendiskusikan segala sesuatunya bersama, meminta saran dari pasangan, itu juga membuat hubungan antara suami dan istri juga menjadi lebih harmonis. Semua terlihat dari hubungan Dania dan Dion. Saya tidak perlu meragukan lagi jika Fanny Hartanti sudah melewati masa-masa itu.

Cinta memang tidak selamanya berjalan mulus, hambatan dan rintangan ada dimana-mana.
Karena itu cinta membutuhkan komitmen, respek dan kompromi.
Tapi komitmen, respek dan kompromi justru tumbuh dari cinta.
Sehingga semua elemen akan saling menguatkan.
Jadi kalau kamu bertanya apakah cinta saja cukup….
Jawabannya adalah ya! Harus cukup…!

Tapi…. saya merasa klimaksnya terlalu mudah ditebak dan endingnya pun sepertinya biasa saja. Kurang dialog berdua antara Dion dan Dania apalagi pas terjadi kesalahpahaman diantara keduanya.

Buku ini ditulis dari sisi Dania, tapi Dion diceritakan oleh orang ketiga dengan perbedaan font. Saya rasa ga perlu dibedain juga ga masalah kok, kalo mau dibuat beda, ya satu dari sisi Dania dan satu lagi dari sisi Dion.

Covernya…
Kenapa ya kayak orang baru nikah gitu? just married. Seperti menceritakan pasangan pengantin baru, tapi kan sebenernya ga baru kan ya, klo diceritain udah bertahun-tahun gitu. Apa klo blom punya anak masih disebut pengantin baru terus?

Dan, pertanyaan terakhir saya, dimana letak permainan dalam buku ini, hingga akhirnya diberi judul The Wedding Games??
Owkeh, pertanyaannya mungkin cuma Mbak Fanny Hartanti yang tau