09
Jan '11

Review Buku The Wedding Games

The Wedding Games

Judul Buku : The Wedding Games
Penulis : Fanny Hartanti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 239 Halaman
Harga : Rp. 40.000
ISBN : 9789792264760

Sebenernya setelah membaca C’est La Vie dan lanjut baca Four Season in Belgium saya sudah menunggu dengan sabar buku apalagi yang dikeluarkan Fanny Hartanti. Tapi ternyata saya masih menyukai C’est La Vie dibanding The Wedding Games ini.

Awal membaca buku ini saya seperti membaca campuran 2 buku, yaitu Alpha Wife dari Ollie dan Dongeng Semusimnya Sefryana Khairil. Setting awal yang hampir mirip banget dengan setting awal Alpha Wife eh semakin kebelakang kok malah kayak Dongeng Semusim gitu. Setelah dibagian tengah buku baru deh kembali kayak tulisan Fanny Hartanti sebelumnya.

Cerita tentang kehidupan pernikahan memang terasa hampir mirip belakangan saya baca. Dion dan Dania telah menikah bertahun-tahun tapi blom memiliki keturunan. Dania divonis sulit memiliki keturunan karena indung telurnya yang bermasalah. Sebagai pria masa kini, Dion tidak mempermasalahkan hal tersebut. Bagi Dion cinta merekalah satu-satunya alasan untuk tetap bersama. Akhirnya, Dion memberi support Dania untuk mencari kesibukan.

Mulai dari mengikuti kursus memasak, Dania akhirnya bisa menjadi chef dan punya program tv sendiri, ga cuma itu, Dania juga menjadi penulis buku masakan serta punya wedding organizer sendiri. Karena kesibukan Dania itulah membuat Dion merasa bahwa Dania sudah berubah. Dania menjadi seorang yang supersibuk sampe ga peduli lagi akan suaminya. Sampai akhirnya Dion bertemu kembali dengan Astrid, cinta pertamanya sewaktu SMA.

Diawal, saya merasa romantisme yang diberikan Fanny Hartanti dalam diri Dania dan Dion terasa manis sekali, seperti pengantin baru. Saya rasa memang hal-hal romantis dalam hal-hal kecil, seperti nonton bioskop berdua, makan malam berdua atau sekedar jalan-jalan ke mall berdua itu sangat penting untuk tetap memberikan percik-percik api cinta antara suami istri. Hal itu memang saya rasakan secara pribadi.

Ditambah dengan kebiasaan untuk mendiskusikan segala sesuatunya bersama, meminta saran dari pasangan, itu juga membuat hubungan antara suami dan istri juga menjadi lebih harmonis. Semua terlihat dari hubungan Dania dan Dion. Saya tidak perlu meragukan lagi jika Fanny Hartanti sudah melewati masa-masa itu.

Cinta memang tidak selamanya berjalan mulus, hambatan dan rintangan ada dimana-mana.
Karena itu cinta membutuhkan komitmen, respek dan kompromi.
Tapi komitmen, respek dan kompromi justru tumbuh dari cinta.
Sehingga semua elemen akan saling menguatkan.
Jadi kalau kamu bertanya apakah cinta saja cukup….
Jawabannya adalah ya! Harus cukup…!

Tapi…. saya merasa klimaksnya terlalu mudah ditebak dan endingnya pun sepertinya biasa saja. Kurang dialog berdua antara Dion dan Dania apalagi pas terjadi kesalahpahaman diantara keduanya.

Buku ini ditulis dari sisi Dania, tapi Dion diceritakan oleh orang ketiga dengan perbedaan font. Saya rasa ga perlu dibedain juga ga masalah kok, kalo mau dibuat beda, ya satu dari sisi Dania dan satu lagi dari sisi Dion.

Covernya…
Kenapa ya kayak orang baru nikah gitu? just married. Seperti menceritakan pasangan pengantin baru, tapi kan sebenernya ga baru kan ya, klo diceritain udah bertahun-tahun gitu. Apa klo blom punya anak masih disebut pengantin baru terus?

Dan, pertanyaan terakhir saya, dimana letak permainan dalam buku ini, hingga akhirnya diberi judul The Wedding Games??
Owkeh, pertanyaannya mungkin cuma Mbak Fanny Hartanti yang tau