23
Oct '09

Review Buku Gading-Gading Ganesha (3G)

Gading-Gading Ganesha (3G) - Bahwa Cinta itu Ada

Gading-Gading Ganesha (3G) - Bahwa Cinta itu Ada

Judul Buku : Gading-Gading Ganesha (3G) – bahwa cinta itu ada
Pengarang : Dermawan Wibisono
Penerbit : Mizan
Jumlah Halaman : 396 Halaman
Harga :Rp. 59.000

Awalnya ga terlalu berminat beli buku ini, sampe liat bagian belakangnya dengan sedikit isi cerita buku ini, tertarik juga. Akhirnya, minta Kakak buat beli dan si Kakak yang malah akhirnya baca buku ini duluan.

Mungkin, untuk jaman saya yang kuliah di tahun 2000an ini buku ceritanya kurang begitu real. Buku ini menceritakan tentang kehidupan 6 orang mahasiswa/i Institut Teknologi Bandung (ITB) dari berbagai latar belakang, dari mulai perjuangan masuk perguruan tinggi terkenal Indonesia itu, perjuangan sewaktu kuliah hingga akhirnya lulus dan bekerja, tak luput juga dengan cerita cinta mereka masing-masing.

Adalah Poltak dari Siantar, Slamet dari Trenggalek, Gun Gun dari Cimahi, Fuad dari Surabaya, Benny dari Jakarta dan Ria dari Padang. Itulah 6 orang yang menjadi inti cerita ini. Setting cerita di tahun 80-an, yup kerasa lama bener buat saya, jaman Pak Harto gitu

Ceritanya memang nyata, Indonesia banged dan ITB banged, karena emang mengangkat cerita mahasiswa ITB. Walo saya bukan mahasiswa ITB, saya sangatlah setuju bahwa sampai saat ini pun yang masuk ITB memang orang pintar. Tentang pertemanan antara keenamnya, kisah cinta hingga masa-masa setelah lulus kuliah. Semuanya benar-benar khas mahasiswa, seperti nyari kos-kosan, ikutan demo sampe cerita tentang dosen-dosen ituh.

Mungkin bagi yang kuliahnya di tahun-tahun 80-an sampe 90-an ini buku menarik sekali untuk mengenang gimana masa-masa kuliah, apalagi bagi para alumnus ITB. Tapi sayang, buku ini terlalu deskriptif (bener ga ya istilahnya ), terlalu banyak menggambarkan ini dan itu, gedung ini dan jalan itu. Yah, menurut saya penggambaran yang detil hanya buat cerita seperti Harry Potter yang memnag sangat fiktif dan perlu dibayangkan. Ditambah lagi, beberapa halaman dalam buku ini hilang, sungguh mengesalkan walo itu diakhir cerita, malah ada beberapa halaman juga yang tampil 2 kali, mungkin pihak penerbit bisa memperhatikan hal ini sebagai bahan pertimbangan QC.

Udah dulu deh, si Alaya nagis nih