21
Jan '10

Kedewasaan = Kemapanan

Berpasangan

Beberapa waktu lalu saya sempat chat dengan seorang teman baik (laki-laki) dan dia bercerita banyak sampe saya musti tidur jam 1 pagi demi dengerin ceritanya *sekalian-saya-juga-lagi-instal-ini-itu-juga-sih*.

Saya : Kenapa akhirnya putus sama si ***?
Teman : Dia bilang, aku kayak anak kecil, ga dewasa, ga berpikir masa depan, ga punya masa depan cerah.
Saya : Lah, kok bisa gitu, kalian kan udah 3 tahun lebih pacaran kan ?
Teman : Ga jaminan. Dia malah udah punya pacar baru yang kerja di bank ***.

Itu sedikit curhatan temen saya. Saya bener-bener ga bermaksud untuk mempublish cerita orang, tapi pengen buat suatu ajang diskusi dan tukar pikiran (walau saya sudah lebih dulu diskusi sama suami). Saya kenal betul temen saya itu dan saya juga kenal mantan pacarnya. Teman saya itu bekerja di salah satu perusahaan media di Palembang dengan posisi yang bagus. Dari keluarga baik-baik dan berkecukupan, kendaraannya sehari-hari pake mobil. Entah kenapa dia merasa dikalahkan dengan seorang laki-laki yang kerja di salah satu bank besar entah posisinya apa.

Saya tidak mau menghakimi seseorang. Saya tidak mau men-judge seseorang begini dan begitu. Tapi yang saya tanyakan, apa ukuran kedewasaan laki-laki dinilai dari kemapanannya? Mapan itu erat ya kaitannya sama materi, harta, jabatan yang saat ini dipunyai. Saya pikir kedewasaan tidak bisa diukur dari kemapanannya.

Oke, kita bahas satu per satu, kedewasaan. Tidak ada tolak ukur kedewasaan sebenernya, ga ada parameternya. Tiap orang punya cara sendiri menilai kedewasaan. Menurut saya, dewasa itu dimana seorang laki-laki :

– mampu bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan, atas apa yang dia pikirkan untuk saat ini dan masa yang akan datang
– menghargai setiap usaha yang telah dilakukan dirinya dan orang lain
– tau prioritas dalam hidup
dan lain-lain yang sama sekali tidak dapat dilihat mata tapi dirasakan dengan mengenal orang itu lebih jauh.

Kemapanan, saya rasa parameternya bisa sama tiap orang, selalu dijawab dengan mapan = punya rumah, mobil, gadget terkini, uang banyak, posisi bagus di sebuah perusahaan. Berbalik dengan kedewasaan, kemapanan ukurannya dilihat dengan mata.

Entahlah, kenapa sekarang banyak perempuan yang bilang kalo dia mau cari pasangan yang mapan. Malah, ukuran seperti orangnya pecinta keluarga, mau menerima kita apa adanya, jauh di deretan yang mungkin diperhitungkan.
Tambah lagi, ada temen laki-laki yang bilang kalo dia mau nikah, kalo udah punya rumah sendiri, mobil sendiri, posisi bagus di tempat kerja. Saya lantas bilang, ‘wah, kalo cowo kayak gitu, cewe semua bisa ndeketin. Kalo udah punya semua gitu, kita ga bisa tau, apa dia mau waktu kita susah, lah wong yang diliat pas udah kaya aja’.

Balik ke curhatan temen saya diatas, saya cuma bisa ngingetin:
kalo apa yang kita punya itu sifatnya sementara, rumah, mobil, uang banyak, perhiasan, jabatan, bahkan suami/istri, anak pun milik Yang Maha Pemilik Segala. Kapan pun Dia bisa mengambilnya kembali.

Yang penting terus berusaha lebih baik, perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik pula.