Tentang Kenangan

Kalian dulu sering nulis diary?

Saya sih nulis diary dari SD. Entah udah berapa banyak buku diary yang akhirnya tersimpan sejak SD itu.

Waktu beres-beres lemari di rumah ibu saya (karena waktu itu mau renovasi) beberapa tahun lalu, saya menemukan buku-buku diary saya sejak zaman SD itu satu kardus besar. Tentu itu seperti melihat harta karun. Alih-alih beresin, saya malah buku satu-satu itu bukunya.

Menyenangkan ternyata membaca kenangan masa lalu, apalagi sejak SD. Bikin ketawa karena gak nyangka dulu pernah sebegitunya, alay, galau dan begitulah pada umur segitu. Saya tentu menikmati membaca semua buku diary saya sejak kecil. Kalo dibaca orang lain tentu lah bikin malu, tapi itu semua proses. Saya sangat menikmati membaca diary saya. Kadang saya seneng banget, kadang lagi sedih juga. Kadang pas nulis lagi naksir seseorang, kadang kesel sama orang tua, kadang patah hati juga. Ya, setidaknya hidup saya penuh warna. Dilalui tidak hanya dengan kesedihan, tapi juga kebahagiaan.

Dulu, saat internet baru ada dan saya baru bisa akses sekitar tahun 2000. Saya cuma bisa main MiRC doang, kenalan sama beberapa orang trus lanjut jadi sahabat pena. Ada yang baru denger Sahabat Pena? Itu dulu sahabat yang saling cerita via surat. Pak Pos dulu sangat ditunggu-tunggu. Saya punya sahabat pena yang malah pernah mengirim kaset band yang dulu paling top, Dewa 19. Senangnya dulu bisa cerita banyak hal dengan teman di berbagai kota di Indonesia. Paling jauh dulu punya sahabat pena dari Ujung Pandang (sekarang Makassar).

Read more

Tentang Umur dan Proses Menjadi Tua

Setiap orang akan menjadi tua, bukan cuma angka tapi proses menjadi tua.

Pekan lalu, saya menyelesaikan membaca buku Grow Old Gracefully yang ditulis J Maurus yang diberikan oleh seorang kawan saat di Bali kami mengadakan tukar buku. Awalnya saya mikir, kenapa harus baca buku beginian saat ini ya? Ternyata saya salah, justru saya senang akhirnya bisa membaca buku ini di umur yang saya rasa muda (ini sih maunya ya).

Dalam buku tersebut gak dibilang kita harus nabung sekian duit untuk membuat masa tua menjadi lebih nyaman dan aman, malah ga ada sama sekali hitung-hitungan soal itu. Memang iya dibahas kita perlu mempersiapkan secara materi, tapi itu aja gak panjang lebar. Lebih banyak kita diajak untuk mempersiapkan diri kita, cara pikir kita, apa yang perlu kita lakukan untuk menjalani proses menjadi tua agar nanti bisa tenang menghadapi proses itu.

Dikatakan dalam buku itu, proses menjadi tua itu adalah proses yang tidak bisa tidak akan dilalui. Maurus menuliskan banyak hal yang harus kita lakukan, seperti menjaga pola hidup, istirahat, pola makan hingga bagaimana sebaiknya kita berinteraksi dengan kawan, pasangan dan anak-anak. Saya memahami bahwa proses menjalani hidup saat ini bukan cuma menikmatinya, tapi sekalian untuk mempersiapkan dinikmatinya hari-hari tua nanti. Saya banyak mengangguk-angguk tanda setuju dengan tulisan Maurus dalam buku ini.

Read more

Makin Konsumtif di Era Pandemi

Hayo pada ngaku, siapa yang makin sering belanja di era pandemi?

Dibilang jadi lebih sering dari sebelum pandemi? Bener gak ya? Coba kita cek yuks!

Pandemi ini sudah berlangsung 1,5 tahun dan gak tahu kapan akan berakhir (kita selalu mendoakan agar semua ini segera berlalu kan ya?), sejak itu juga kita belajar untuk beradaptasi dengan semua yang disebut “new normal” atau ‘normal yang baru’. Karena sebagian besar aktivitas dilakukan di rumah, awalnya kita pikir “owh, semua bisa lebih hemat dong ya”, tapi ternyata itu salah, gak sepenuhnya salah, tapi gak bener juga.

Ada beberapa yang bisa lebih hemat memang, misalnya ongkos bensin atau biaya transportasi, yang tadinya dalam sebulan ongkos transportasi ke kantor, nganter ke sekolah anak, les anak itu pastinya lumayan, ya sekarang mungkin turun banget. Anak-anak gak perlu ke sekolah, yang kerja di rumah pun gak perlu ngantor. Otomatis hemat biaya transportasi, karena keluar rumah jadi bisa dihitung pake jari, paling kalo harus ke supermarket atau urusan lain yang memang gak bisa dilakukan online.

Selain itu apalagi yang bisa dihemat? Ah iya, uang saku anak :D Ya karena gak sekolah, otomatis uang saku berkurang dong ya. Ini berlaku sekali buat anakku yang sulung. Sejauh ini dia gak protes sih, walau tetap minta jajan pesan ini itu dari aplikasi. Saya sepertinya cuma bisa menyebutkan hal itu saja yang bisa dihemat, yang lainnya? hmmm.. Biaya apa aja yang akhirnya meningkat di era pandemi? yang ini ternyata saya bisa menyebutkan lebih banyak.

Read more

Apa Kabar, Blog?

Hai, apa kabar kamu?

Setelah dari Januari hingga Juni tahun ini tidak ada posting sama sekali dalam blog ini, saya merasa sangat bersalah masih mengaku sebagai blogger. Jelas saya kangen setengah mati untuk menulis di sini, tapi saya juga merasa menulis di blog bukan lah sesuatu keharusan dalam tiap hari. Bukan, bukan cuma blog. Saya belum tentu juga mengupdate sosial media saya tiap hari, apalagi blog dan juga podcast.

Saya bukan mencari pembenaran atas kesibukan yang ada. Saya juga merasa gak perlu amat untuk membenarkan hal itu, tapi saya merasa lebih tahu prioritas. Ada hal yang harus dikerjakan, yah pada saatnya akan ada waktunya rasa rindu itu membawa saya kembali menulis dalam blog ini. Saya tentu menulis beberapa catatan dalam buku, rasanya suka aja punya jurnal yang bisa saya isi sewaktu-waktu kayak zaman dulu waktu masih SMP-SMA.

Read more

Rekap 2020

Hai, apa kabar? Udah lama gak nulis, Nik? Iya banget. Saya kangen blog ini dengan semua postingnya. Ya walaupun gak banyak bisa posting tahun ini, tapi paling tidak masih ada beberapa tulisan yang bisa disempatkan.

gambar dari dreamstime.com

Posting kali ini di penghujung tahun 2020. Pengen ngerekap aja sih, apa saja yang udah bisa saya lakukan tahun ini. Tahun 2020 adalah tahun yang berat untuk setiap orang, untuk setiap negara di dunia ini. Siapa sangka tahun 2020 kita harus merelakan banyak rencana-rencana kita tertunda sampai entah kapan karena pandemi COVID-19. Kita harus belajar merelakan banyak hal untuk itu, yang bisa kita lakukan adalah menerima dengan ikhlas situasi ini dan tetap mengusahakan agar tetap sehat.

Pertanyaan tentang kabar ke semua kawan dalam setiap percakapan online atau pun telpon gak lagi cuma basa-basi. Pertanyaan tentang kabar membawa kita senantiasa menyelipkan doa agar yang diujung sana selalu diberikan kesehatan. Setidaknya tahun ini kita bisa lebih banyak punya waktu bareng keluarga.

Read more

Perlu Banget ya Pakai Password Manager?

Saat ini setiap orang perlu mengamankan data-data digital yang dipunyai. Data yang jangan-jangan masih dianggap remeh tapi nyatanya saat ini para perusahaan pengepul data lah yang kaya raya dan terus berkembang. Data digital jadi sebuah minyak baru.

Soal keamanan digital ini sebenarnya adalah hal yang saya pelajari di tahun 2017 secara beneran dan serius. Tahun 2015 sebelumnya sudah ada dapet pelatihan dikit-dikit, tapi masih males untuk dipraktikkan. Lah ya memang, semuanya balik lagi ke tiap orangnya kan ya. Semua yang kita pelajari, sebaiknya memang digunakan dalam keseharian, tapi ya itu memang butuh waktu membuat keribetan yang ada menjadi sebuah kebiasaan.

ilustrasi dari shutterstock.com

Keamanan digital salah satunya adalah soal password atau kata sandi/kunci. Mungkin banyak dari kita yang masih mikir, password mah yang gampang aja, biar mudah mengingatnya. Kita kudu ingat ya, salah satu prinsip keamanan digital adalah Kenyamanan Berbanding Terbalik dengan Keamanan. Di saat kita merasa nyaman banget, ya berarti keamanan jadi lebih minim. Walau kembali lagi, gak ada yang benar-benar aman di jagat internet ini. Paling tidak, kita sudah melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan, ya kan?

Read more

Menjajal Komposter Untuk Pengolahan Sampah Organik Skala Rumahan

Hampir 2 bulan sejak saya mencoba menggunakan minikomposter di rumah dan rasanya sangat menyenangkan akhirnya bisa mengurangi sampah.

Sejak akhir Juni saya memutuskan untuk membeli komposter. Sebelumnya saya lebih dulu bertanya ke teman-teman di Palembang, apakah ada yang punya info penjual komposter karena akan lebih baik kalo di dekat sini ada yang jual, jadi langsung bisa beli saja. Namun ternyata gak ada yang punya info, lanjut akhirnya saya cek di salah satu lokapasar (marketplace) dan menemukan minikomposter yang pas untuk skala rumahan. Jadi lah saya beli di sana dan dalam beberapa hari barangnya datang.

Saya beli minikomposter dengan ember ukuran 25 liter disertai dengan EM4 sebanyak 2 liter. Ember komposter ini sudah dirakit sehingga tinggal dipakai saja. Ada lubang yang tinggal dipasang keran pencet dispenser (yang juga sudah termasuk dalam paketan), untuk nanti pembuangan air lindi (cairan dari sampah). Jadi memang sengaja beli yang tinggal dipake aja, tinggal pasang ini itunya dan gunakan. Harga sepaket itu Rp. 225.000 ditambah ongkos kirim sebesar Rp. 50.000 sampe ke Palembang.

Read more