29
Dec '10

Review Buku Satin Merah

Review Buku Satin Merah
Review Buku Satin Merah
Review Buku Satin Merah

Nadya sebenarnya anak yang pintar. Namun, karena perasaan cemburu pada adik satu-satunya, Alfi yang langganan juara di berbagai kompetisi membuat Nadya ingin terlihat lebih baik dari sang adik. Itulah mengapa, tagline buku ini ‘aku cuma ingin jadi signifikan’. Nadya ingin terlihat lebih baik dari adiknya untuk mendapatkan perhatian dan pujian dari orang tua juga teman-temannya.

Ceritanya sebenernya seru, menarik banget menurut saya. Penulis yang ternyata 2 orang yaitu Brahmanto dan Rie, membuat kisah pembunuhan dengan memasukkan Sastra Sunda sebagai pembungkusnya. Unik, karena tidak biasa. Apalagi sastra Sunda seperti ini sangat jarang menarik minat pembaca, apalagi saya sendiri yang bukan orang Sunda.

Dalam buku ini terlihat sekali penulis pinter banget dalam hal internet. Memasukkan search engine semacam Google, Bing dll, blog seperti blogspot dan wordpress, pencarian IP Address dengan fasilitas komen blog hingga Google Analytics pun masuk disini. Keren euy

Tapii… saya merasa ada yang kurang. Kurang sip gitu deh. Kita tau bagaimana Yahya S akhirnya mati, tapi Didi, Nining dan Hilmi, sebagai pembaca kita dibuat cuma tau matinya kenapa, tapi tidak dengan cara kematiannya. Sebagai penggemar Conan Edogawa di serial Detektif Conan, jelas saya merasa kurang greget kalo tau ada kematian, tapi tidak tau cara kematiannya dan bagaimana pembunuh melakukan aksinya. Itu yang tidak diceritakan dalam buku ini.

Dan…. satu lagi, endingnya itu loh….. ga banget deh kayaknya. Masa’ sih harus dibuat seperti itu? Saya menyangka Brahmanto dan Rie Yanti bingung harus diapain si Nadya ini, tapi saya lebih ga nyangka lagi kalo akhirnya hal itu yang terjadi pada Nadya.

Penasaran kan sama buku ini?
Baca aja