29
Dec '10

Review Buku Satin Merah

Satin Merah

Judul Buku : Satin Merah
Penulis : Brahmanto Anindito & Rie Yanti
Penerbit : Gagas Media
Jumlah Halaman : 313 Halaman
Harga : Rp. 37.000
ISBN : 9789797804435

Satin Merah. Saya pikir buku ini akan bercerita tentang kain Satin, ya paling tidak ada kaitannya dengan kain mengkilap itu, seperti yang terlihat di covernya yang minimalis tapi cantik itu. Tapi ternyata saya salah, Satin disini adalah Sastra Tinta (Satin) Merah. Kenapa harus merah? Karena ada bau darah dan kematian dalam buku ini.

Saya langsung tertarik dengan buku ini setelah melihat sepertinya buku ini akan membuat kita jadi detektif dari kasus-kasus kematian. Setelah sebelumnya saya menyukai Cinta Mati dari Armaya Junior (juga terbitan Gagas Media), maka saya tidak akan melewatkan buku ini.

Adalah Nadya, tokoh utama dari buku ini. Seorang siswi kelas 12 SMA (kelas 3 SMA) yang mengikuti perlombaan siswa teladan sekota Bandung. Untuk mengikuti tahap selanjutnya, Nadya diharuskan membuat makalah bertema bebas. Nah, Nadya tidak ingin membuat makalah yang temanya biasa-biasa saja, sampai akhirnya Nadya memutuskan untuk membuat makalah bertema ‘Sastra Sunda’.

Mulailah Nadya mencari tahu banyak hal tentang Sastra Sunda dari internet. Untuk keperluan makalah itu Nadya harus bertemu dan bertanya banyak hal pada beberapa sastrawan Sunda. Awalnya, Nadya bertemu dengan Yahya S. Nadya akhirnya belajar menulis dari beliau, tapi ternyata Yahya S adalah orang yang blak-blakan. Jadi, setelah melihat karangan Nadya yang kurang baik, Yahya pun mengkritik Nadya habis-habisan.

Nadya yang kurang suka dikritik terlalu pedas akhirnya terpikir untuk membunuh Yahya S. Selanjutnya, bergurulah Nadya ke sastrawan lain yaitu Didi Sumpena, Nining dan Hilmi terakhir pada Lina Inawati. Tapi, pelan-pelan banyak kejadian aneh. Satu per satu mentor Sastra Sunda Nadya itu hilang. Mulai dari Didi, Nining hingga Hilmi. Inilah yang membuat Lina Inawati mencari tahu banyak Nadya dan Lutos.

Nadya sebenarnya anak yang pintar. Namun, karena perasaan cemburu pada adik satu-satunya, Alfi yang langganan juara di berbagai kompetisi membuat Nadya ingin terlihat lebih baik dari sang adik. Itulah mengapa, tagline buku ini ‘aku cuma ingin jadi signifikan’. Nadya ingin terlihat lebih baik dari adiknya untuk mendapatkan perhatian dan pujian dari orang tua juga teman-temannya.

Ceritanya sebenernya seru, menarik banget menurut saya. Penulis yang ternyata 2 orang yaitu Brahmanto dan Rie, membuat kisah pembunuhan dengan memasukkan Sastra Sunda sebagai pembungkusnya. Unik, karena tidak biasa. Apalagi sastra Sunda seperti ini sangat jarang menarik minat pembaca, apalagi saya sendiri yang bukan orang Sunda.

Dalam buku ini terlihat sekali penulis pinter banget dalam hal internet. Memasukkan search engine semacam Google, Bing dll, blog seperti blogspot dan wordpress, pencarian IP Address dengan fasilitas komen blog hingga Google Analytics pun masuk disini. Keren euy

Tapii… saya merasa ada yang kurang. Kurang sip gitu deh. Kita tau bagaimana Yahya S akhirnya mati, tapi Didi, Nining dan Hilmi, sebagai pembaca kita dibuat cuma tau matinya kenapa, tapi tidak dengan cara kematiannya. Sebagai penggemar Conan Edogawa di serial Detektif Conan, jelas saya merasa kurang greget kalo tau ada kematian, tapi tidak tau cara kematiannya dan bagaimana pembunuh melakukan aksinya. Itu yang tidak diceritakan dalam buku ini.

Dan…. satu lagi, endingnya itu loh….. ga banget deh kayaknya. Masa’ sih harus dibuat seperti itu? Saya menyangka Brahmanto dan Rie Yanti bingung harus diapain si Nadya ini, tapi saya lebih ga nyangka lagi kalo akhirnya hal itu yang terjadi pada Nadya.

Penasaran kan sama buku ini?
Baca aja