18
Feb '11

Review Buku Oksimoron

Review Buku Oksimoron
Review Buku Oksimoron
Review Buku Oksimoron

Alan dan Rine adalah pasangan muda yang berusaha membuktikan bahwa pernikahan bahagia bukanlah oksimoron. Konsekuensinya, mereka juga harus berjuang untuk menghadapi berbagai unsur bertolak belakang, seperti mertua dan kerukunan, tetangga dan kewarasan, hingga kehamilan dan aborsi.

Cerita tentang kehidupan pernikahan Rine dan Alan yang memutuskan untuk tidak punya anak. Dari kalimat itu aja akan ada banyak pertanyaan kan ya, begitu juga saya sebagai pembaca. Hal itulah yang sebenernya diangkat oleh Isman. Saya ga terlalu kagetlah, di kota besar akan banyak dijumpai pasangan menikah yang berniat seperti itu, dengan anggapan anak hanya akan merepotkan. Tapi, bukan itu yang membuat Rine tidak menginginkan punya anak, dan disanggupi pula awalnya oleh Alan. Namun, ternyata tidak semudah itu, karena tujuan pernikahan kan bukan hanya untuk pasangan itu sendiri, tapi ada keluarga yang ikut bersatu dengan tujuan satu pula, meneruskan keturunan.

Ceritanya sederhana tapi menarik apalagi ditambah humor segar yang tercipta antara Alan dan rine juga Alan dan Andi. Tapi, saya merasa ada banyak hal yang kurang, kata tepatnya ‘kurang pas’. Dimananya?
Pertama, Hal 84, “Saya nikahkan putri saya, Rine Kumalasari bin Turman Syaringgih…” seharusnya untuk perempuan itu binti, bukan bin. Hal ini terulang 2 kali di halaman yang sama.
Kedua, Sebutan Rine untuk Alan, alangkah banyaknya…. bentar-bentar manggilnya ‘Mas’, pindah halaman laen panggilannya, ‘Kau’ (yang agak asing menurut saya, karena mungkin harusnya ‘Kamu’, kan manggil suami) dan ada lagi ‘Elo’ (yang ini mungkin aja kalo lagi berantem kan ya?).
Ketiga, saya memang bukanlah polisi typo, tapi saya tau ada banyak typo dalam buku ini.
Pertanyaannya, mana ini editornya? Biasanya editor GPU itu lebih teliti loh urusan kayak begini.

Okelah, itu sekedar salah dalam hal ketikan, dan sudah dijawab oleh Mas Isman sendiri melalui twitternya.
Tapi Mas Isman saya acungi jempol dalam memberikan quote sederhana tapi bermakna banget di setiap awal bab dalam buku ini

Inspirasi sendiri hanyalah debu yang akan segera hilang tertiup, kecuali kita menjadikannya nyata melalui tindakan