Review Buku 9 Summers 10 Autumns

cover 9S10A

Judul Buku : 9 Summers 10 Autumns: Dari Kota Apel Ke The Big Apple
Penulis : Iwan Setyawan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 221 Halaman
Harga : Rp. 47.000
ISBN : 9789792267662

Awalnya saya memburu buku ini karena ingin tau, bagaimana ceritanya anak supir angkot dari daerah Batu bisa jadi seorang direktur. Tapi, setelah liat cover 2 buah apel yang bersiluet gunung dan satunya lagi Statue of Liberty membuat saya tambah penasaran dengan buku karya Mas Iwan ini.

9 Summers 10 Autumns.
Dari Kota Apel ke The Big Apple.
Ditambah gambar 2 apel merah bersiluet itu membawa buku ini amatlah menarik bagi saya.
Ekspektasi saya buku ini akan seperti bukunya A. Fuadi, Ranah 3 Warna mungkin atau seperti Sang Pemimpi karya Andrea Hirata.
Ternyata, sepertinya saya ekspektasi saya terlalu tinggi untuk buku ini.

Saya mengira ini akan menjadi buku yang akan memompa semangat seorang anak dari keluarga kecil, yang katakanlah miskin, bisa mengejar cita-citanya hingga ke New York. Namun, ternyata buku ini hanya menceritakan perjalanan hidup Iwan Setyawan, si penulis dari awal kecil dengan keluarganya hingga ia mendapatkan pekerjaan di New York sebagai Director, Internal Client Management Nielson Consumer Research.

Saya agak sedikit kecewa.
Saya berharap buku ini bisa, ya paling tidak seperti Sang Pemimpi, yang membawa kita semmua sebagai pembaca terpompa untuk bisa meraih cita-cita dan harapan setinggi-tingginya walau berlatarbelakang keluarga yang kurang berada. Tapi, Mas Iwan justru hanya menceritakan pengalamannya saja. Dari keluarga, Bapak, Ibu, semua saudara perempuannya, hingga saya dengan mudah menebak, tiap bab akan bercerita tentang apa. Buku ini bisa dibilang sebuah catatan perjalanan Mas Iwan hingga sampai ke New York.

Mas Iwan memang memberikan kenyataan pada semua pembaca, bahwa kehidupan yang awalnya biasa saja, bisa menjadi sesuatu yang luar biasa, jika kita mengusahakannya dengan sungguh-sungguh. Penulis, membawa contoh, bagi semua orang bahwa dengan kerja keras dan pendidikan yang baik, kita semua bisa menjadi lebih baik taraf hidupnya, apalagi dengan dukungan keluarga.

27 thoughts to “Review Buku 9 Summers 10 Autumns”

  1. Bagi saya buku ini lebih hebat dari 2 buku yang disebutkan. Karena buku ini lebih berupa memoar sehingga lebih dalam dan penuh kontemplasi karena merupakan kisah nyata bagaimana seseorang berani menembus batas ketakutan.

  2. Hari Sabtu kemarin saya membaca buku ini dan langsung jatuh cinta di halaman pertama. Lembar demi lembar saya baca dan akhirnya, saya selesai membaca daam kurang lebih 3 jam. It’s a masterpiece. Pengungkapan kata-kata yg sederhana, tidak bertele-tele, tapi tidak mengurangi keindahan dan kedalamannya. Saya pencinta Pramoedya dan sangat bersyukur dalam era sekarang ini dapat menemukan buku seperti ini..

    Buat saya, novel ini tidak menyuruh kita bermimpi, tapi mengejar mimpi. Mimpi saja mudah..

    Sayang sekali, Mbak Nike tidak menangkap keindahan dan kekuatan karya ini.

  3. Saya suka kok bukunya Mas Iwan, tapi saya rasa setiap orang punya caranya sendiri menilai sebuah buku, bener ndak Mas Andreas?

  4. Beberapa hari yang lalu, teman kantor saya bilang ada buku bagus, judulnya 9 Summers 10 Autumns. Sebelum beli, saya googling mencari info buku dan mendapatkan review diatas. Saya “percaya” reviewnya dan saya putuskan untuk tidak membeli. Takut kecewa juga seperti Mbak..

    Beruntung sekali, istri saya, yang lebih banyak baca buku, membeli buku ini. Dia tidak memberikan komen apa2 setelah membaca dan memberikan buku ini kepada saya. Dua hari saya membaca buku ini, kita berdua berkesimpulan, kalau buku ini “eye-opening”, inspirasi buat saya sebagai orang tua dan sekarang saya mewajibkan anak saya membacanya..

    Buat beberapa orang buku ini mungkin akan menjadi “life-changing” point dan inspirasi luar biasa. Sayang sekali kalau mereka tidak jadi menjadi membaca karena sebuah review. Hanya membagikan pengalaman saya, mbak..

  5. Jangan terlalu terpaku dan terlalu percaya sama review Mas, sekali lagi. Review adalah sebuah cara pandangan dan penilaian kita terhadap sebuah buku. Pastinya setiap orang punya cara sendiri menilai buku yang dibaca

  6. sebagai anak batu seperti mas Iwan……….. buku ini bagiku sangat keren.. ga menjual mimpi tapi mengajari meraih mimpi.. anything posibble if we have dream effort knowledge.. inspiratif.. ga perlu kata2 puitis tp justru novel ini sgt dalam dan puitis dengan kesederhanaan bahasanya.. anak2 apalagi wajib baca..

    Apalgi kata-kata mutiaranya nya mas Iwan.. keren banget, qt ga masalah ga punya uang tp akan bermasalah kl kita ga punya ilmu dan agama dalam hidup kita…. wow.. so cool right..

  7. gue heran…..yg punya review kok APATIS banget ya?!!! jelas2 ini buku bagus. hm….subjektif

  8. kadang amat sangat lebih mudah melontarkan komentar “A, B, C,…” pada suatu tulisan, tdk terfikirkah bagi kita bhwa untuk memulai menulis itu juga membutuhkan perjuangan baik terhadap waktu, daya ingat, dan kesempatan yg ada, mari kita harga hasil karya seseorang yg tellah berusaha sedemikian rupa melwan rasa takut smp dia berhasil menjadi seorang Director, Internal Client Management Nielson Consumer Researchdinegara di New york, yg nota bene amat sulit ditembus oleh warga berkulit berwarna…? dlm hal ini INDONESIA yg selalu dipandang sepicing mata oleh negara2 adikuasa?

    marilah belajar menghargai apa yg telah dilakukan/dihasilkan/dicapai oleh Putra-Putri INDONESIA.

    terimakasih.

    salam,
    Anyque

  9. Halo Mbak Anyque,

    Dari tulisan saya juga tidak ada kata bahwa saya bilang tidak menghargai tulisan Mas Iwan.
    Mas Iwan sendiri sudah membawa review saya.
    Sekali lagi saya harus katakan ini review saya, akan sangat subjektif untuk saya mereview semua buku yang saya baca.
    Buku Mas Iwan saya kasih bintang 3 karena saya rasa memang bagus, tapi disini saya juga mencoba memberikan penilaian yang nantinya bisa membuat tulisan Mas Iwan menjadi lebih baik.

    Terima kasih atas komennya.
    Saya rasa tiap orang juga punya caranya sendiri untuk menghargai karya orang lain.
    Dengan membeli (buku asli bukan bajakan) dan membaca buku Mas Iwan saja, sudah berarti itu menghargai beliau menurut saya.

  10. Namanya juga review memang sangat subjektif banget. Mungkin juga para calon pembaca buku Mas Iwan ini, perlu second opinion dari reviewer yg lain..

  11. mungkin nike harus lebih banyak belajar bagaimana cara mereview dan mjd kritikus buku scara lbh baik..memang dlm sebuah review akan lbh dominan unsur personal nya..tapi alangkah eloknya jk bisa memberikan penilaian secara lebih fair. bsa menampilkan ketidakpuasan kita pd penulis scara lebih elegan..tanpa bermaksud menjustifikasi sang penulis. review kamu tidak memberikan apressiasi pd sang penulis..tapi scara tidak lgs kmu mempengarhi org utk enggan membeli buku ini melalui ungkapan ketidakpuasanmu..nike pasti pernah membaca kompaas hr minggu kan disitu sering ada review buku..belajarlah dari sana.

  12. Terima kasih Mbak Nonie,
    Saya memang bukanlah pereview handal.
    Saya hanya mengatakan apa yang saya dapatkan dari buku tersebut.
    Sekali lagi, review buku yang dibuat seseorang adalah sangat subjektif dari penilaian orang tersebut.
    Berbeda dengan penulis review harian media massa yang memang mengulas habis tentang buku tersebut.

    Saya hanya merasa kenapa penilaian saya atas review buku ini di cap menilai buruk.
    Coba lihat rating 3 yang saya beri pada buku ini di Goodreads, saya rasa itu adalah nilai yang cukup baik untuk sebuah buku.
    Karena buku ini sangat baik dinilai banyak orang ya saya rasa tiap orang punya penilaian sendiri atas suatu buku.

    Sekali lagi saya katakan, saya hanyalah penikmat buku yang mencoba memberikan penilaian terhadap setiap buku yang saya baca, baik dan buruknya akan saya nilai menurut penilaian saya.

    Mohon maaf jika ada yang tak sependapat.

  13. saya rasa seorang pembaca berhak memberi penilaian atas apa yang ia beli dengan uangnya. menurut saya, seorang pembaca dengan gaya menulisnya sendiri berhak menentukan apakah buku yang ia baca memuaskan kebutuhan (baca: harapan/ekspektasinya), tentunya ini didasarkan pada pengalaman membaca sebelumnya.

    Faktor subjektif kadang tidak bisa dihindari, sebab pereview memang tidak diharuskan bersikap independen, kecuali memang ada kode etik pereview yang menyebutkan bahwa pereview tidak boleh ada konflik kepentingan. Saya setuju dengan mbak nike yang mengatakan bentuk menghargai penulis (buku ini) adalah dengan membeli buku asli, bukan bajakan. Dengan demikian kita menhgargai jerih lelahnya.

    Tetap semangat menulis review!

  14. Selamat ya Nike. Kamu harus bangga atas dirimu sendiri. Karena banyak orang yang memperhatikan reviewmu. Banyak yang yakin bahwa reviewmu memberikan pengaruh kepada orang lain untuk membeli buku ini atau tidak. Teruslah meresensi yah.. Semangat!

    NB: Saya juga penggemar PAT. Terus kenapa? hihihihihi…

  15. mgkn ga ad salahnya jg apa yg ditulis mba nonie di atas, krn review mba nike, org jadi enggan untuk membeli buku itu. tp mgkin bisa jg org mlh jd penasaran.dan beli buku itu.
    sy hargai review mb nike, krn memang review seseorang bersifat subjektif,sgt berbeda dg yg di media massa (-,-)

    tp aku suka bgt buku mas iwan, mksh bgt buat poppy temenku yg udh merekomendasikan buku 9s10a

  16. Jadi Review untuk mbak nike dari saya adalah:

    “seperti seseorang cowok yang lihat gambar cewek sexy tapi gak bisa orgasme ataupun gak puas nafsunya (he..he gak porno lho)”

    Cak Sugeng
    Suroboyo

  17. Terlepas dari review mereview, daku sebagai “cuma penikmat buku” pun punya komen sendiri (gak ada yg boleh proteeees). Intinya, saat baca buku ini daku punya feeling yg sama dengan Nike. Gak sesuai dengan yg diharapkan. Walaupun tetep aja, hebat lah bisa bikin buku..

  18. selalu ada manfaat dari setiap judul buku, tinggal kita nya aj yg ngambil simpulan. buku ini cukup memberikan inspirasi menurt saya.

  19. saya seorang pelajar SMA yang membeli buku ini untuk tugas Bahasa Indonesia, dan ya, saya pun juga jatuh cinta dari halaman pertama hingga akhir. buku ini membuat saya begitu terinspirasi untuk maju dan tidak bermalas-malasan. apalagi saya telah memasuki jenjang akhir masa SMA saya. buku ini berbicara akan kekuatan pendidikan dan saya rasa, tidak ada yang salah dari buku ini.
    terimakasih.

  20. Rencana mo bli neh buku,,, hehe telat!

    Angel org berbeda dlm menilai sesuatu…
    Thanks atas reviewx mba’!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.