20
Apr '11

Review Buku 86

Review Buku 86
Review Buku 86
Review Buku 86

Menyadari bahwa minta sedikit bagian dari pekerjaannya dari banyak pengacara bisa meningkatkan keuangannya, Arimbi melakukannya lagi dan lagi, hingga akhirnya Arimbi ditangkap oleh KPK. Di penjara pun Arimbi akhirnya melakukan hal yang mungkin awalnya ga disangkanya, mulai dari menyukai sesama tahanan sampai menjadi kurir sabu-sabu. Tapi ternyata, untuk mengakhiri ‘peran’nya juga suaminya sebagai kurir sabu-sabu tidaklah mudah, dan tebak deh, biasanya yang kayak gini ada aja kualatnya.

Saya salut sama penulis novel ini, Okky berani sekali menuturkan banyak hal yang membuat saya tercengang, saya rasa Okky butuh waktu untuk riset sampai akhirnya buku ini terbit dan dibaca masyarakat. Saya sempet diskusi sedikit dalam perjalanan dengan suami, karena Ayah mertua saja dulu adalah mantan hakim pengadilan tinggi agama, dan suami saya membenarkan banyak hal yang diceritakan Okky dalam buku ini.

Dari segi cover, saya rasa tidak terlalu menarik awalnya, tapi justru isi ceritanya yang membuat buku ini sangat menarik. Gaya penceritaannya mudah dipahami dan mengalir lancar. Dasar cerita pedesaannya hampir sama dengan buku pertama Okky yaitu Entrok, sepertinya Okky konsisten dengan jalur cerita yang satu ini

Beginilah gambaran Indonesia, tanah air saya, yang di dalamnya masih saja semua diatur dengan ’86’. Yang ga punya duit, ya jangan harap semuanya bisa berjalan lancar. Itu sebabnya saya menghindari sekali sesuatu hal yang berhubungan dengan pengadilan dan polisi. Ayah mertua saya bilang semua ini masalah pilihan, jika memilih untuk melakukan hal seperti itu, ya semua ada resikonya