14
Dec '15

Pasangan dan Pendamping

Suami saya bekerja sebagai karyawan dulunya, saat kami menikah pun saya bekerja hingga saya akhirnya memutuskan untuk tidak lagi bekerja itu pun hasil dari diskusi dengan suami. Dua tahun sejak saya resign, suami bertanya pada saya apa saya siap jika dia resign dari pekerjaannya saat itu dan merintis usaha sendiri, berikut juga semua kondisi yang akan kami lalui nantinya. Setelah diskusi yang panjang berdua (saat itu sudah ada anak 1) tahun 2010 saya menyetujui keinginan suami untuk resign dan merintis usaha sendiri.

Gak mudah memang, yang biasanya terima gaji bulanan yang lumayan diawal bulan, berubah menjadi punya penghasilan tidak tentu dan juga harus menggaji karyawan. Semuanya sudah kami prediksikan. Yang awalnya kerja di rumah hingga punya kantor kecil, semuanya butuh proses. Dan namanya proses, itu emang gak cepat, sedikit demi sedikit. Nikmati saja prosesnya.
Bukankah tiap orang sukses itu buah dari menjalani banyak proses yang terkadang terasa sulit dilewati?

Enaknya sih gak kerja pagi hingga sore atau malem lagi. Gak bergantung pada gaji awal bulan lagi, dan waktu ngantor juga jadi lebih fleksibel. Insya Allah bisa memberi kerjaan yang lain juga.

Saya juga punya teman yang akhirnya berhenti dari PNS untuk menekuni hobi dan passionnya. Alhamdulilah si istri tetap mendampingi dan hobi/passionnya menjadi sesuatu yang bernilai besar malah banyak yang menjadi bisnis sosial, memberdayakan banyak orang.

Buat saya sebagai istri, perubahaan itu pasti ada. Saya belajar juga untuk fleksibel dari banyak sisi. Gak mudah, tapi sebagai istri saya berusaha untuk meyakini apa yang dikerjakan suami. Soal banyaknya rezeki harta, itu mah sudah ada yang ngatur, tinggal kita aja yang harus selalu ikhtiar. Kalo bisa punya waktu untuk nggak cuma mengejar harta dunia, tapi juga harta di akhirat nanti.

Suami yang mendapat support dari istri dan anaknya akan lebih bahagia mencari rezeki, saya percaya itu. Pasangan itu baiknya tidak hanya menjadi pasangan tapi juga pendamping yang mendampingi suaminya tak hanya raganya tapi juga mendampingi jiwanya.

Tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia…
( Tulus, Teman Hidup)