30
Mar '11

Review Buku Diari si Vampir Tengil

Diari si Vampir Tengil

Judul Buku : Diary of a Wimpy Vampire: Because The Undead Have Feelings Too (Diari si Vampir Tengil)
Penulis : Tim Collins
Penerjemah : Harisa Permatasari
Penerbit : Kantera
Jumlah Halaman : 281 Halaman
Harga : Rp. 37.000
ISBN : 9786029837711

Pernah denger tentang vampir kan? Serem… memang, tapi yang ini beda!
Jangan juga mikir vampir ganteng yang kayak di buku-buku yang marak beredar ya
Ini vampir muda, yang waktu dia jadi vampir umurnya baru 15 tahun, kebayangkan gimana curhatan cowok ABG umur segitu, kebanyakan tentang cinta

Gimana ya rasanya kejatuhan cinta seorang vampir?
Cowo vampir tengil ini mengisahkan semua kisah hidupnya dalam lembar-lembar kertas dalam buku hariannya, secara lucu dan menarik sekali. Dari mulai bagaimana dia belajar untuk menarik perhatian Chloe, si pujaan hati hingga bagaimana membuat Chloe jatuh cinta padanya. Lucu banget. Tiap kali melihat Chloe, tiba-tiba yang ada taringnya memanjang dan semata-mata karena dia gak mau ketauan bahwa dia seorang vampir, terpaksalah harus nunduk di balik buku atau lari ke toilet setiap kali kehausan, dan tiap ke sekolah bekal yang dibawa adalah sebotol darah.

Perjuangan Nigel untuk belajar menarik perhatian sampai mendapatkan hati Chloe sangat menarik, saya rasa semua remaja akan mengalami masa-masa seperti ini, masa dimana seorang remaja punya rasa pengen tahu semuanya, itu juga yang terjadi dalam diri Nigel. Dia menulis diarinya setiap hari. Nigel menceritakan banyak hal tentang vampir, seperti vampir akan merasa sangat pusing apabila melihat tanda-tanda keagamaan, taring yang akan memanjang ketika merasa haus atau bergairah untuk meminum apabila melihat darah. Ternyata, ga setiap orang yang darahnya dihisap vampir akan berubah jadi vampir loh

Seharusnya, vampir adalah sosok yang menyeramkan ya, tapi tidak dengan yang satu ini. Tim Collins membuat kisah ini menjadi begitu lucu dan khas remaja yang baru mulai jatuh cinta. Dengan font yang dibuat selayaknya tulisan tangan, ditambah dengan gambar-gambar khas gambar sketsa seperti dari sentuhan pensil, buku ini ‘dapet’ banget deh. Berasa kayak beneran baca diari seseorang.
Sayangnya, menurut saya terjemahannya terlalu formal, terasa kaku, dan banyak kata-kata yang kayaknya kurang bersahabat ditelinga, seperti ‘melihat-melihat’ (hal 36), mungkin seharusnya lebih enak kalo ‘melihat-lihat’. Beberapa pengulangan juga sepertinya agak kurang pas, ditambah lagi dengan ‘alih-alih’ yang kayaknya berhamburan keluar dari buku ini.

Mau tau apa Nigel berhasil menggaet hati Chloe?
Apakah Chloe akhirnya tau bahwa Nigel adalah seorang vampir?
Baca aja deh bukunya!

Saya tetap menunggu kehadiran buku kedua diari Nigel ini