17
Jul '11

Review Buku 11 Patriot

Sebelas Patriot

Judul Buku : Sebelas Patriot
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang Pustaka
Jumlah Halaman : 108 Halaman
Harga : Rp. 39.000
ISBN : 9786028811521

Kalo sebutan untuk fansnya Real Madrid namanya Madridistas, nah kalo PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) namanya apa? Andrea Hirata menyebutnya Patriot. Patriot PSSI!

Apa yang ada dalam benak kita jika mendengar kata ‘patriot’? Pahlawan!
Seperti itulah yang ingin dituturkan Andrea Hirata di novel keenamnya ini. Andrea Hirata menawarkan cerita yang saya pikir akan bernilai nasionalisme, tentang betapa mencintainya Ikal dengan PSSI dan sepak bola.
Ya, memang ada nasionalisme yang tergambar jelas dalam buku ini, namun ternyata tidak sebesar ekspektasi awal saya terhadap buku ini.

Diceritakan Ikal akhirnya mengetahui jika Ayahnya adalah seorang pemain sepakbola, lebih tepatnya pemain sayap kiri berbakat yang harus mundur karena pada saat itu (jaman penjajahan Belanda) ditentang oleh Belanda dan Ayah Ikal harus menerima semuanya. Ikal mengetahui hal tersebut karena sebelumnya melihat foto sang Ayah sedang memegang piala dan memakai pakaian sepakbola. Sejak saat itu Ikal bertekad ingin menjadi pemain junior PSSI, namun gagal.

Saya selalu salut kepada Andrea Hirata yang mampu mengemas tulisannya dengan gaya melayu jenaka dan penuh dengan kata-kata bijak yang memompa semangat para pembaca. Tak usahlah diragukan lagi kepiawaian seorang Andrea Hirata kalo soal itu. Buku-bukunya akan selalu bisa dinikmati dan ditunggu-tunggu para pembacanya. Apalagi saat dituliskan pelatih Toharun melatih Ikal cs dengan filosofi buah-buahan, menarik sekali. Apalagi ditambah dengan korelasi antara pantat dengan kemahiran bermain sepakbola, benar-benar bikin saya ketawa sendiri.

Yang saya dengar sebelum buku Sebelas Patriot ini terbit, sebelumnya judul Ayah yang akan diterbitkan lebih dulu. Entah kenapa justru Sebelas Patriot yang hadir duluan, padahal disini yang saya liat adalah bagaimana Ikal amat mengidolakan sang Ayah hingga akhirnya bermuara pada kecintaan Ikal pada PSSI. Betapa cantiknya Andrea Hirata mengolah tulisannya, hingga kerasa banget cinta Ikal pada Ayahnya dan juga sebaliknya.

Prestasi tertinggi seseorang, medali emasnya, adalah jiwa besarnya

Ada rasa cinta terhadap orang tua dari buku ini, ada juga nasionalisme yang terlihat. Kita diajak untuk ikut mencintai tanah air dengan mendukung PSSI. Nyatanya memang saat ini tim PSSI kita memang jauh lebih populer dibandingkan dulu. Semua orang sibuk nonton pertandingan bola berapapun harga tiketnya. Apalagi penggemar bola sekarang ga cuma cowok, cewek pun banyak yang suka, ditambah dengan pemain PSSI yang sekarang meni kasep pisan euy Mungkin momen ini yang dibidik oleh Andrea Hirata untuk menelurkan Sebelas Patriot.

Namun, sayangnya saya merasa Andrea Hirata selalu tidak bisa lepas dari Ikal, dari Laskar Pelangi yang membesarkan namanya. Setelah Maryamah Karpov, muncul dwilogi Padang Bulan dan Cinta dalam Gelas hingga buku ini yang sama sekali tidak jauh-jauh dari kehidupan Ikal didalamnya. Sepertinya, tetralogi Laskar Pelangi tidak cukup untuk menggambarkan kisah Ikal beserta keluarga dan juga teman-temannya. Tidak salah memang, tapi menurut saya, Andrea Hirata bisa lepas dari cerita Ikal dan Laskar Pelanginya, mengeluarkan karya yang benar-benar baru hingga pembaca tidak bosan.