26
Sep '11

Review Buku Catatan Si Boy

Review Buku Catatan Si Boy
Review Buku Catatan Si Boy
Review Buku Catatan Si Boy

Dalam buku ini, saya merasa kayak membuka lembaran-lembaran diary seorang Boy. Jujur dan apa adanya. Memang seperti itulah diary kayaknya ya, semuanya begitu terbuka kita ceritakan. Mulai dari hal yang membuat kita seneng sampe ke hal yang bikin kita kesel. Boy memberikan banyak cerita tentang pribadinya dengan bahasa yang sedang ‘in’ jaman dulu. Kayak penggunaan kata ‘cing’, boil, doi, bokin dan rukam. Saya merasa berada pada era itu saat membacanya, dan percakapan-percakapan Boy bersama Emon yang membuat saya ketawa parah. Lucu banget, apalagi sambil bayangin Didi Petet jadi si Emon.

Boy yang playboy tapi sayang banget sama keluarga. Boy yang pecicilan sama cewek tapi masih inget batas sopan santun ke orang tua. Boy yang dari keluarga kaya tapi ga pernah mengecilkan orang kecil. Boy yang… ah sudahlah… mungkin jika jelmaan Boy masih ada sampe sekarang, saya rasa saya pun akan jatuh hati padanya.

“Boy… di dunia ini tidak ada orang besar tanpa orang kecil. Orang-orang kecil lah yang membuat seseorang menjadi orang besar.”

Overall saya suka banget sama Catatan Si Boy ini. Sayangnya, catatan ini justru berhenti atau terhenti begitu saja, tanpa pembaca tau bagaimana kisah asmara Boy dan Nuke. Mungkin, akan ada Catatan Si Boy lainnya, kedua, ketiga sampe kelima seperti filmnya? Saya pastikan akan beli dan baca semuanya jika beneran diterbitkan.

Boy memang idola pada masanya. Dan saya pun merasakannya dalam buku ini.