15
Dec '08

Review Film Syahadat Cinta

Judul Film : Syahadat Cinta
Pemain : Arif Rahman, Adhitya Putri, Cantika, Ricky Harun, Affandi, Hengky Kurniawan

Film yang di ambil dari cerita novel karya Taufiqurrahman Al-Azizy ini menurut saya ingin mengikuti kesuksesan film Ayat-Ayat Cinta. Saya luput nonton film ini di bioskop, karena eh karena Palembang Indah Mall tidak memutar film ini

Bagi yang udah pernah baca novel Trilogi ini, yaitu Syahadat Cinta, Makrifat Cinta dan Musafir Cinta, pasti udah pada tau jalan ceritanya. Berawal dari anak semata wayang dari keluarga kaya, Iqbal (Arif Rahman), yang kurang perhatian dari orang tuanya sehingga menjadi anak berandalan. Suatu hari, secara tidak sengaja karena dalam keadaan mabuk, ia menyebabkan ibunya (Minati Atmanegara) hampir meninggal, lalu Iqbal berjanji akan mengikuti keinginan ibunya untuk masuk ke pesantren Tegal Jadin agar menjadi lebih baik. Cerita pun dimulai di pesantren.

Dua bulan di pesantren, Iqbal hanya disuruh untuk mengambil air dan tidak diajarkan agama seperti mengaji dan sholat. Walo ia menyelesaikan perintah kyai sepuh dengan baik, namun Iqbal kesal dan akhirnya memutuskan untuk pergi dari pesantren. Seperginya dari pesantren, justru kehidupan religi Iqbal semakin baik. Ia bertemu dengan pemulung tua dan anaknya, Irsyad (Ricky Harun) yang akhirnya mengajarkan Iqbal sholat dan mengaji. Tak hanya itu, Iqbal juga bertemu dengan Priscilia (Cantika), seorang nasrani yang sedang mencari tahu Islam lebih dalam. Bersamaan dengan waktu, Priscilia banyak belajar dari Iqbal tentang Islam.

Iqbal yang tinggal bersama Irsyad dan ibunya (Donna Harun) dituduh teroris oleh warga sekitar sehingga Iqbal harus masuk penjara. Pada saat itulah Priscilia membantu mengeluarkan Iqbal dari penjara, dan Iqbal pun pulang ke Tegal Jadin. Kedekatan Iqbal dengan Aisyah (Imel Cahyati) yang merupakan cucu kyai sepuh membuat Rahmat (Hengky Kurniawan) cemburu, padahal Iqbal sendiri mencintai Zaenab (Adhitya Putri). Priscilia yang telah menjadi mualaf, akhirnya diusir oleh ayahnya yang pendeta, sehingga ia menyusul Iqbal ke Tegal Jadin.
Siapa yang dipilih Iqbal? Kata Kyai Sepuh, ‘jadikanlah mereka istrimu’… silahkan nonton kelanjutan film ini, atau baca buku kedua yah

Film ini sangat bagus divisualisasikan oleh Gunawan Paggaru, ceritanya emang soal cintanya Iqbal dan perjalanan spiritualnya, berbeda dengan film Ayat-Ayat Cinta yang setelah di filmkan menjadi begitu berbeda cerita. Sayangnya, film ini sangat berbeda dengan imaginasi saya setelah membaca bukunya. Apa aja :
1. Pemain muda berbakat
Iqbal yang diperankan Arif Rahman amat sangat top menurut saya. Arif yang baru ber akting di film ini lumayan menunjukkan bakatnya berperan sebagai Iqbal. Tapi, untuk peran anak nakal yang suka mabok dan ugal2an, Arif ga cocok menurut saya Mukanya terlalu ganteng dan supel untuk jadi berandalan Satu lagi, Priscilia yang diperankan Cantika, hebat kalo saya bilang. Cantika beneran mampu memperlihatkan seorang nasrani yang bimbang, bingung antara keluarga ataukah yah diyakininya :up:

2. Suasana Tegal jadin
Saya ga tau yah, apa benar pesantren ini benaran ada atau tidak, tapi ini pesantren membuat saya takjub. Bener ga sih ini pesantren? udah kayak cottage gitu, keren bener dah apalagi pemandangan alamnya…. ya Allah, saya juga mau masuk pesantren kalo kayak gini.

3. Pakaian pemain
Saya ga percaya deh sama pesantren ini yang pakaiannya keren abis, udah kayak mo ke kondangan aja yang cewek. Pake jilbabnya dan bajunya yah, bukan yang gampang gitu, udah kayak mo nikahan, asli deh makenya bener ribet, dan itu dipake sehari-hari bok di pesantren. Yang cowonya juga, pake jubah putih nan bersih kayak baru semua. Wooo…. rasanya saya blom pernah liat pesantren yang santrinya kayak ginih…

4. Kurang dramatis
Waktu Iqbal diseret ke penjara, kok ga dramatis ya, ga membuat saya merasa geram seperti yang saya baca dibuku atau seperti Fahri di Ayat-Ayat Cinta. Seharusnya, adegan inilah yang membuat penonton merasa miris, sedih. Dan satu hal lagi, seharusnya Irsyad dan ibunya itu orang yang ga mampu banged di bukunya, lah kok di film rumahnya masih bagus banged dan pakaiannya bukan kayak pemulung, Makanya, saya berasa ini kayak film kaya, semuanya mewah, dari pesantren dan pakaian santrinya yang mewah, sampe ke rumah dan bangunan laennya.

Saya ga yakin apa film ini akan ada lanjutannya, jadi bagi yang pengen tau kelanjutan ceritanya… silahkan baca bukunya ajah *saya aja blom kelar baca*

Eh iya, bagi yang sering nonton sinetron Indosiar yang kayak film India, nyanyi mulu gitu, pasti sering liat Affandi (berperan sebagai Ikhsan, sahabat dekat Iqbal) dan Imel (berperan sebagai Aisyah). Saya selalu ketawa liat sinetron mereka, lipsing lagu dangdut semua , eh tapi Affandi itu adek kelas saya, kangen juga liat dia