01
Apr '12

Review Buku Maryam

Maryam

Judul Buku : Maryam
Penulis : Okky Madasari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 275 Halaman
Harga : Rp. 78.000
ISBN : 9789792280098

Ini bukan masalah setuju atau tidak setuju dengan ahmadiyah, tapi persoalan nurani.

Setelah menyukai kedua buku Okky Madasari sebelumnya yaitu Entrok dan 86, saya gak perlu banyak mikir untuk membawa buku yang berjudul Maryam ini ke kasir. Buku Okky termasuk dalam kategori buku yang saya tunggu-tunggu kehadirannya.

Dari dua buku sebelumnya saya bisa menggambarkan bahwa Okky adalah penulis bagus yang paling tidak menjadi favorit saya. Gak hanya dia menuliskan ceritanya dengan baik, tapi juga tema cerita yang diangkat itu beda dari biasanya. Kalo penulis lain biasa nulis soal cinta, Okky lebih banyak membuat cerita cinta dengan sentuhan berbeda dan bisa dibilang sangat perempuan.

Jika dibuku Entrok, si penulis mengangkat cerita perempuan desa yang berpikir maju, 86 sangat menarik dengan cerita bagaimana korupsi di Indonesia, kali ini Maryam mengupas tentang kepercayaan di Indonesia. Kalo boleh pake tagar nih (ala Twitter), saya akan buat tagar #Perempuan dan #Indonesiabanget untuk menggambarkan buku-buku Okky Madasari. Karena itulah rasanya buku-buku Okky ini adalah buku wajib buat saya punyai dan saya baca lebih dulu.

Maryam adalah seorang perempuan asal Lombok yang berasal dari keturunan ahmadiyah. Ya, ahmadiyah, kalo baca di wikipedia ini, ahmadiyah ini adalah sebuah gerakan islam. Saya lebih suka menyebutnya sebuah ‘kepercayaan’ dalam islam. Para pengikut gerakan ahmadiyah ini disebut dengan ahmadi. Begitu juga dengan Maryam, si tokoh utama dari buku ini.

Diceritakan dengan detil bagaimana kehidupan sehari-hari Maryam ditengah keluarga ahmadi, sampai akhirnya Maryam kuliah di Surabaya, bekerja di Jakarta dan bertemu dengan pemuda muslim yang akhirnya membuat Maryam jatuh cinta. Maryam memutuskan untuk menikah dengan keluar sebagai orang ahmadi karena pasangannya menginginkan Maryam meninggalkan ‘ajaran sesat’ yang dipikir banyak orang.

Ternyata tidak mudah menjadi seorang yang baru untuk Maryam yang dulunya ahmadi hingga akhirnya membawa Maryam kembali pada keluarganya. Sewaktu dia kembali bertahun-tahun sejak menikah, Maryam menemukan banyak perubahan. Orang tua dan keluarganya tidak lagi berada di desa tempat dimana dia tinggal sebelumnya. Keluarganya dan pengikut ahmadi yang lain di desa setempat ternyata diusir dari rumah mereka sendiri hanya karena mereka adalah ahmadi.

Maryam dan keluarga diusir untuk kedua kalinya dari rumah mereka sendiri, tanah yang mereka beli sendiri dan rumah yang mereka huni dari dulu. Mereka diusir dengan paksa oleh orang-orang yang mengatasnamakan agama dan mengatakan bahwa ‘ajaran sesat’ ahmadiyah tidak diperbolehkan ada di desa itu. Bahkan pemerintah setempat pun tidak memberikan mereka kesempatan untuk bisa bertahan.

Okky Madasari menceritakan bagaimana ahmadi sering berkumpul melakukan pengajian, perjodohan diantara sesama ahmadi terjadi hingga bagaimana mereka tetap melakukan hubungan baik dengan ‘orang luar’ (orang yang bukan ahmadi). Mereka punya mesjid sendiri dan mereka mengerjakan ibadah yang mereka yakini benar adanya.

Saya tidak melihat penulis menunjukkan setuju atau tidaknya pada ahmadi ini, tapi saya merasa penulis ingin mengajak semua pembaca untuk bisa menghargai, menghormati apa yang menjadi kepercayaan orang lain. Bagaimana kita harusnya bisa tetap menerima perbedaan tanpa membeda-bedakan.

Kenapa Indonesia yang katanya ‘walau berbeda tetap satu jua’ itu demikian terlihat bohong ya di beberapa kasus?

Kawan, adakah yang lebih membahagiakan ketika kamu bisa memeluk saudaramu yang ‘berbeda’ denganmu dengan tetap satu jalan? Harusnya itu yang kita sebut Indonesia