Belajar Tanam-Menanam dari Biji

Tak ada kata terlambat untuk belajar banyak hal, setuju kan? Begitu juga untuk mulai belajar tanam-menanam.

Awal tahun, sebelum kasus Covid-19 pertama diumumkan di Indonesia, saya memulai menanam biji-bijian apapun (biasanya buah dan sayur) dengan niat mengurangi sampah organik dan juga sampah plastik.

tanamanku

Sampah organik ini paling banyk sebenarnya di rumah, yaitu sisa makanan. Terus terang sampe sekarang belum punya gentong komposter sendiri, karena belum beli :D aja ini (semoga bulan depan beneran kejadian akhirnya beli), tapi mulai deh dari yang paling gampang membuat sampah organik ini jadi lebih bermanfaat. Akhirnya, abis makan buah gak langsung dibuang, pisahin kulit dan bijinya. Nah, bijinya ini ditanam di wadah-wadah plastik yang sudah gak kepake lagi.

Saya dan anak suka beli minuman bubble tea, otomatis jadi banyak juga kemasan wadah plastiknya, jadi daripada terbuang gitu aja, sebagai sebuah cara mengurangi sampah, maka dipakailah wadah-wadah plastik tersebut jadi pot-pot buat tanam-menanam ini. Lumayan kan ya bisa hemat uang beli pot dan bisa mengurangi sampah.

wadah plastik jadi pot

Yang ditanam apaan? Udah lumayan banyak sih, biasanya kan buah. Mulai dari biji jeruk, melon, salak, pepaya, nangka, sampe biji kurma juga ditanam deh (kalo ini dari lebaran sampe sekarang belum tampak tunasnya). Walah ternyata tanam-menanam ini menyenangkan sekali ya. Liat itu biji-biji mulai menampakkan tunas aja saya udah bahagia banget, apalagi nanti kalo bisa sampe beneran panen buahnya, gak kebayang senangnya.

Gak cuma biji-bijian buah yang saya tanam, tapi juga saya mulai menumbuhkan kembali (regrow) sayur-sayur yang biasanya sudah sebagian besar diolah jadi makanan. Misalnya yang paling saya suka adalah daun bawang, bawang, cabe, tomat, wortel, dll. Jadi, bawang yang sudah numbuh tunas karena kelamaan gak diolah, bisa langsung ditanam. Wortel yang sudah dipotong dan menyisakan kepalanya itu juga ditanam. Cabe dan tomat yang sudah mulai busuk bisa ditanam. Daun bawang setelah dipotong batang akarnya (kira-kira 5 cm) ditaruh di air dulu, trus 3-4 hari setelah tumbuh baru dipindahkan ke media tanah. Gampang sebenarnya dan menyenangkan.

Daun bawang sudah banyak yang ditanam, tapi banyak juga yang harus mati membusuk sebelum tumbuh tinggi. Kabar baiknya, ada juga yang berhasil tumbuh dengan baik dan sudah saya panen. Sedih juga kalo akhirnya liat beberapa yang tadinya tumbuh baik di awal, harus mati dan gagal tumbuh lagi dalam beberapa waktu. Ya, begitu lah kan ya seninya. Kita jadi belajar di mana letak salahnya, mungkin dia kurang sinar matahari, mungkin kebanyakan kena air hujan terlalu banyak, ada yang dimakan sama tikus/siput dan faktor lainnya. Saya menyikapinya dengan santai saja, kalo ada yang mati ya ndak apa, dicoba lagi saja tanam lagi, begitu aja.

Saat pandemi ini ternyata banyak juga kawan-kawan yang akhirnya menyukai hobi baru ini, menanam berbagai tanaman. Kalo saya masih merasa cukup dulu dengan cara begini, gak perlu sampe beli bibit tanaman untuk ditanam. Kalo beli kan berarti udah niat bertanam banget, bukan lagi niat untuk regrow atau bertanam dari biji yang udah jadi sampah organik lagi. Apalagi ternyata harga bibit tanaman itu gak murah, ada yang sampe ratusan ribu lho. Ya kalo pun nanti sudah merasa lebih pede untuk tanam menanam ini, boleh lah pake beli bibit tanaman, tapi untuk sekarang cukup dulu begini. Semoga istiqomah aja dulu buat mengurus tanaman-tanaman itu.

One thought on “Belajar Tanam-Menanam dari Biji

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.