05
Jan '11

Review Buku Ma Yan

Review Buku Ma Yan
Review Buku Ma Yan
Review Buku Ma Yan

Ma Yan membuat surat pada sang Ibu, tapi karena sang ibu buta huruf, maka Ma Yan lah yang membacakannya :

Ibu,
Kumohon jangan hentikan langkahku.
Aku akan tetap bersekolah, aku harus tetap sekolah!
Lakukan sesuatu Ibu, sehingga aku bisa tetap meneruskan sekolahku.
Lakukan apa saja Ibu, mesti itu harus mengosongkan mangkuk nasiku

Rasanya sedih sekali. Saya mencoba memposisikan diri sebagai Ibu Ma Yan, pastinya saya sebagai orangtua menginginkan dan akan terus melakukan apa saja yang terbaik untuk anak tercinta. Begitulah yang dilakukan Ibu dan Ayah Ma Yan.

Buku ini mengajarkan kita banyak hal, tidak hanya perjuangan Ma Yan untuk meraih pendidikan tapi juga pengertian anak pada orangtuanya, cinta Ayah dan Ibu yang tak terkira pada anaknya. Sungguh menyentuh.

Sebenarnya ini bukan buku pertama Sanie B. Kuncoro yang saya baca, sebelumnnya saya sudah membaca Garis Perempuan, dan ternyata saya menemukan kemiripan. Sanie menulis tentang perempuan yang hebat, penuh dengan pengertian, pengorbanan, perjuangan dan kerja keras dan juga cinta. Sayangnya, tidak seperti penulisan Garis Perempuan yang dibagi menjadi 4 bagian dimana tiap bab bercerita tentang seorang perempuan, Ma Yan ditulis dengan sudut pandang 2 orang, yaitu Ma Yan sendiri dan ibunya. Yang bikin ga enak, bab ini bercerita dari sisi Ma Yan, eh bab selanjutnya dari ibunya. Kurang pas aja dalam buku ini menurut saya. terakhir, yang paling penting, saya kurang suka ending yang nanggung gini