Ucapan Ulang Tahun

Bertahun-tahun lalu waktu zaman kuliah, seorang teman pernah mengingatkan saya akan ulang tahunnya yang sebentar lagi tiba. Tujuannya agar diberi ucapan selamat, doa dan juga kado. Lalu saya bilang padanya begini, seorang teman yang baik akan mengingat hari ulang tahunmu tanpa perlu diberitahu sebelumnya. Dia lalu mengiyakan sambil mengangguk-angguk dan tersenyum.

gambar dari pixfeeds.com

Saya sendiri punya kalender di ponsel (bukan kalender Facebook) yang mengingatkan saya tanggal-tanggal ulang tahun teman, sahabat dan keluarga. Berguna banget buat saya. Saya paling tidak, bisa ikut memberikan ucapan selamat dan juga mengirimkan doa yang walau sepertinya template banget, tapi setidaknya tulus dari dalam hati untuk mendoakan. Oh ya, satu hal lagi, itu cara saya untuk mengingat kebaikan yang sudah diberikan teman/sahabat/keluarga.

Pun untuk teman yang sudah berpulang. Saya mengingat kapan ulang tahunnya. Saya berusaha untuk selalu mengingat dia tetap seperti dia masih ada di dunia. Tapi dengan doa yang berbeda, agar dia selalu diliputi kebahagiaan di atas sana sambil mengingat apa yang pernah saya lewatkan bersamanya. Sedih, sudah jelas. Tapi juga sebagai pengingat, bahwa kita semua akan berpulang, entah kapan waktunya.

Read More

Sekstorsi dan Ancaman Online Terhadap Perempuan

Karena perempuan yang selalu disalahkan.

Mungkin masih banyak yang ingat sewaktu seorang artis VA yang terkena kasus prostitusi online, orang-orang juga para netizen lalu heboh berkomentar soal ini, gak jarang juga mencibir ini itu. Menurut saya itu bukan urusan kita. Tidak berhak lah rasanya saya mencibir yang dilakukan VA apalagi saya sendiri perempuan. Hanya karena dia perempuan maka dengan mudah orang menyalahkan.

Kasus lain, yaitu tentang kasus Brigpol DS di Makassar yang harus dipecat jabatannya karena foto-foto selfie-nya yang seksi beredar. DS dianggap melanggar kode etik kepolisian. Cerita singkat kasusnya, yaitu DS pacaran dan diminta pacarnya untuk mengirimkan foto-foto seksi melalui pesan singkat. Lalu suatu hari DS diancam oleh sang pacar jika tidak memberikan yang pacarnya mau, maka foto-foto seksi tersebut akan disebarluaskan.

Cerita Brigpol DS ini sama seperti yang pernah diceritakan seorang teman yang mendampingi seorang korban, sebut saja AB. Jadi AB kehilangan ponselnya yang ternyata menyimpan foto-foto seksinya. Ponsel ini ditemukan oleh seorang pria. Setelah membuka ponsel tersebut dan mengetahui ada foto-foto tersebut, si pria mengancam AB akan menyebarluaskan fotonya jika tidak memberikan uang sebesar 2 juta rupiah.

Read More

Susahnya Meminta Penjual Tidak Menggunakan Kantong Plastik

Saya termasuk seorang yang suka belanja di pasar tradisional. Selain karena harganya lebih murah dibanding di supermarket, rasanya menyenangkan memilih banyak jenis sayur, buah serta daging, ikan, ayam sampai ke bumbu yang diperlukan di pasar. Paling tidak jika kita belanja di pasar bisa lebih membantu para pedagang kecil. Selain itu, bisa cari sayur dan buah yang lebih segar.

gambar dari http://goodybagbsd.weebly.com

Paling tidak saya ke pasar satu kali dalam seminggu. Jadi, saya akan membeli kebutuhan dapur untuk seminggu itu. Sejak tahun lalu saya mulai mengurangi penggunaan kantong plastik, untuk itu saya bawa keranjang anyaman jika belanja ke pasar. Selain itu, saya juga bawa wadah kotak plastik yang diperlukan untuk wadah daging, ayam potong, ikan, kerang, cumi, udang, tahu sampe cabai dan tomat.

Saya termasuk yang suka mencatat apa saja yang akan dibeli, jadi saya bisa memperkirakan berapa kotak plastik yang saya butuhkan untuk belanja hari itu. Jadi, saya bisa memastikan wadah saya bawa cukup untuk keperluan belanja saya hari itu. Walau begitu, saya merasa masih saja sulit untuk meminta penjual tidak menggunakan kantong plastik, malah ditambah dengan tatapan aneh penjual.

Read More

April 2019 Nanti Bukan Cuma Milih Wiwi Wowo

Saya termasuk yang bosen liat timeline media sosial yang isinya rame-rame soal pasangan capres dan cawapres, tiap hari trending topic Twitter selalu ada aja mereka. Mending kalo ramenya adalah debat berfaedah, malah banyakan saling menjatuhkan diantara kedua kubu. Buzzernya pun kerjanya kenceng banget, banyak sih yang saya follow trus saya mute dulu deh untuk beberapa waktu, paling tidak sampe bulan April nanti.

gambar dari shutterstock.com

Tiap hari berita selalu dipenuhi tentang kegiatan pasangan No 1 dan No 2, ke mana, ngapain aja sampe-sampe mau foto aja sekarang susah pake gaya memperlihatkan jari. Kasih jempol, dianggap memihak No 1. Pake logo peace yang banyak dipake kayak orang Korea gitu, dibilangnya memihak No. 2. Padahal kadang spontan aja, lah wong itu pose yang biasa aja kan. Waktunya aja sekarang yang bikin pose begitu terlihat serba salah. Menyebalkan.

Kemalasan saya ngomongin politik di media sosial itu adalah sikap politik saya. Saya menghargai semua yang saya follow, mau ngomongin politik gimana, ya monggo aja, silakan aja. Jungkir balik tiap hari ngomongin mau milih pasangan yang mana, ya rapopo. Kecuali…. itu orang udah menjelekkan pasangan lain, ngotot, memaksa orang lain memilih sama seperti pilihannya, apalagi sampe sebar-sebar hoaks. Maka saya udah pastikan orang itu saya unfollow atau mute dulu sementara waktu. Kita boleh punya sikap, tapi coba lah untuk menghargai orang lain dengan sikap yang juga dia punya.

Read More

Anak-Anak Korban Orangtuanya

Anak adalah buah hati orangtua, buah cinta kasih orangtuanya. Itu teorinya. Normalnya begitu. Lalu apa ada anak yang ‘tidak normal’? Tidak normal di sini bukan karena seorang anak dilahirkan dengan kekurangan secara fisik, tapi lebih dari itu, kekurangan yang secara psikologis dirasakan si anak, yang dia bawa dari kecil hingga ia besar.

Ada anak-anak yang dilahirkan tanpa cinta, hasil perkosaan misalnya, ada juga anak-anak yang lahir dari sebuah kesalahan dari orangtuanya, yang kadang mati-matian ingin digugurkan sejak dari janin, ada anak-anak yang ditinggal pergi oleh orangtuanya, ‘dititipkan’ ke keluarga lain, pada panti asuhan dan sebagainya. Mereka tetap anak-anak normal, tapi bukan dari keluarga yang dikatakan orang-orang ‘normal’.

Anak dengan label ‘diluar nikah’ misalnya. Sama sekali anak itu gak salah, gak minta kok dia dilahirkan ke dunia, yang salah adalah perbuatan orangtuanya. Berhenti mengungkit atau mencap si anak dengan label seperti itu, dia tetap anak normal yang harus kita samakan dengan yang lainnya, tak berbeda. Cerita Ganda dalam novel No Place Like Home contohnya, menggambarkan rasa sakit hati yang dibawa Ganda atas label anak diluar nikah sejak dia kecil. Kadang malah keluarga terdekat yang paling sering mengungkit dan menjadikan sakit itu lebih parah. Rasa sakit ini malah membawa dendam berkepanjangan pada orangtua sendiri lalu terbawa hingga anak dewasa.

Read More