19
Nov '08

Review Buku Bidadari-Bidadari Surga

Review lagi? Iyah…. maapkeun klo blog ini jadinya review semua. Ga review film ya review buku. Secara ya, emang hobi baca buku dan nonton sih sayah.

Judul : Bidadari-Bidadari Surga
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Jumlah halaman : 365 halaman
Harga : Rp. 47.500,-

Dari judulnya, mungkin bagi yang sering baca buku Ketika Cinta Bertasbih (KCB), Ayat-Ayat Cinta (AAC), Trilogi Syahadat Cinta (SC) akan berpikir kalo buku ini ga jauh-jauh dari cerita percintaan. Tapi, bagi yang pernah baca buku-bukunya Tere Liye kayak Hafalan Shalat Delisa dan Moga Bunda di Sayang Allah pasti akan setuju kalo buku ini sama sekali bukan cerita percintaan ala buku ‘…… cinta’ yang sekarang banyak beredar.

Tere Liye selalu mengangkat cerita tentang kemanusiaan itu yang membuat saya mengangkat dua jempol untuk buku-bukunya. Kalo blom pernah baca karyanya, saya merekomendasikan Hafalan Shalat Delisa untuk di baca. Boong deh kalo ga tersentuh bacanya :up: jujur saya sampe

Kalo tertulis Tere Liye di buku, pasti langsung ambil, ga perlu baca resensi lagi

Bidadari-Bidadari Surga ini pun tak kalah dahsyat, lagi-lagi Tere Liye mampu membawa kita dalam cerita nan cantik berbalut persaudaraan.

Bercerita tentang satu keluarga yaitu Mamak Lainuri dengan kelima anaknya, Laisa, Dalimunte, Ikanuri, Wibisana dan Yashinta. Kak Laisa sebagai anak tertua, rela putus sekolah, demi pendidikan adik-adiknya dia rela bekerja keras di perkebunan kecil milik Mamak Lainuri di Lembah Lahambay. Kak Laisa yang selalu berkorban untuk adik-adiknya, Kak Laisa yang tak pernah terlambat dan tak pernah lelah menjaga adik-adiknya. Saya sangat terpukau dengan cerita saat Kak Laisa sampai larut malam mencari Ikanuri dan Wibisana di hutan, hanya menolong adiknya.

Awal sekali diceritakan Prof. Dalimunte sedang presentasi temuan barunya, Ikanuri dan Wibisana baru saja tiba di Eropa untuk usahanya dan Yashinta sedang observasi di Gunung. Keempatnya mendapatkan pesan dari Mamak Lainuri. Setelah membaca pesan itu, Dali langsung menghentikan presentasinya di Simposium Fisika Internasional, Ikanuri dan Wibisana yang baru tiba di Eropa langsung mencari penerbangan selanjutnya ke Indonesia, Yashinta pun langsung turun dari puncak gunung. Demi melihat Sang Kakak. Kak Laisa.

Kak Laisa tak pernah menangis di depan adik-adiknya. Tak sungkan memarahi dan memukul Dali, Ikanuri dan Wibisana yang ketauan bolos sekolah. Kak Laisa hanya ingin pendidikan yang terbaik bagi adik-adiknya. Hanya itu. Kesuksesan adik-adiknya adalah kebahagiannya.

Aaaaahhh… saya benar-benar tak dapat mendeskripsikan ceritanya disini, entahlah… Perjuangan seorang kakak demi adik-adiknya, walo sebenarnya Laisa bukanlah kakak kandung mereka. Saya hanya berdoa, jadikanlah orang-orang seperti Laisa, bidadari surga ya Rab….

Saya lalu bertanya pada diri saya sendiri “Mampukah saya seperti Laisa pada adik saya?”

Dan sungguh di surga ada bidadari-bidadari bermata jeli (Al-Waqiah:22). Pelupuk mata bidadari-bidadari itu selalu berkedip-kedip bagaikan sayap burung indah. Mereka baik lagi cantik jelita (Ar Rahman:70).