05
Dec '12

Review Buku Homeless Bird

Homeless Bird

Judul Buku : Homeless Bird
Penulis : Gloria Whelan
Penerjemah : Ida Wajdi
Penerbit : Atria
Jumlah Halaman : 182 Halaman
ISBN : 9789790245044
Harga : Rp. 24.900

Saya yang menikah di usia belum genap 22 tahun saja dibilang muda, apalagi 13 tahun?

Di India, tradisi di desa dalam buku ini terutama, anak perempuan yang telah memasuki 13 tahun sudah boleh menikah. Orangtua yang akan dengan semangat mencarikan calon suami.

Seperti Koly, anak perempuan ini baru berusia 13 tahun dan ia harus rela mengikuti tradisi untuk dinikahkan dengan suami yang dia tidak tahu bagaimana rupa, keadaan dan bagaimana orangnya. Orangtua perempuan di India harus membawa maskawin sebagai syarat pernikahan di India yang menganut matrilineal.

Pada saat pernikahan digelar, barulah Koly tahu bagaimana suaminya yang ternyata menderita TBC. Ketidakjujuran mertua Koly atas kondisi Hari, suaminya membuat Koly merasa sangat sedih. Apalagi setelah mengetahui maskawin yang diberikan untuk digunakan sebagai biaya pengobatan Hari. Tak lama Koly pun menjadi janda setelah Hari meninggal.

Saya baru tahu kalo ternyata menjadi janda di India itu berarti akan mendapatkan uang pensiun janda. Dan, uang pensiun itu tidaklah diterima Koly melainkan diambil oleh mertuanya. Menyedihkan memang, apalagi sebagai perempuan Koly tidak disekolahkan, karena menurut tradisi setempat perempuan gak gitu penting sekolah, yang penting bisa urusan rumah tangga dan menyulam, itu udah syarat lengkap untuk menikah.

Saya merasa geram membaca buku seperti ini. Entah ya, saya bukannya tidak menyukai tradisi, tapi gak harusnya begitu juga kali ya. Perempuan harusnya punya kesempatan yang sama dengan laki-laki. Soal sekolah terutama. Saya rasa tradisi tidak akan hilang tapi tetap bisa dilaksanakan dengan sedikit perkembangan tapi tidak mengurangi nilai luhur yang ada.

Koly adalah salah satu dari banyak sekali anak perempuan yang menjadi korban pemaksaan tradisi di banyak daerah gak hanya di India deh kayaknya. Malah seringkali anak perempuan dijadikan sebagai kayak alat jual beli demi tujuan tertentu.

Untungnya ending dalam buku ini membuat saya lega, Koly memang bisa membuktikan bahwa terkadang keberanian dan harapan bisa lebih kuat daripada tradisi.

Aku adalah kata-kata, engkaulah melodinya.
Aku adalah benih, engkau pengusungnya.
Surga adalah aku, bumi adalah engkau.