14
Aug '13

Menjadi Perempuan dan Ibu Pekerja

Semalem timeline twitter ramai membicarakan tuitnya sang ustad mualaf @Felixsiauw. Masih tentang perempuan dan masih tentang bagaimana perempuan itu seharusnya.

Setelah beberapa waktu yang lalu beliau membandingkan ibu yang jadi karyawan, apakah masih bisa disebut ‘ibu’. Kali ini lanjut tentang bagaimana perempuan itu (dalam hal ini seorang ibu) seharusnya mengurus rumah tangga saja dan patuh terhadap suaminya.

Saya tidak mengikuti twitter beliau. Tapi banyak aja gitu yang sering ReTweet, otomatis ya kebaca juga.

Saya seorang ibu yang memang tidak kerja kantoran yang harus nine-to-five di kantor. Saya tetap ‘bekerja’ dengan cara saya, di rumah dan masih bisa mengurus rumah tangga juga suami dan anak. Saya rasa pun ibu bekerja yang jadi karyawan kantoran pun masih bisa kok mengurus rumah tangga mereka dengan baik. Tapi saya rasanya kurang sreg dengan si ustad ini.

1  Felix Siauw  felixsiauw  on Twitter

Twit beliau semalam yang menyebutkan ada hadist yang mengatakan salah satu ciri perempuan penghuni surga adalah banyak anak. Heummm…. terus terang saya setelah melihat twit beliau tersebut saya langsung diskusi sama suami saya. Dan kami pun sepakat untuk menyepakati apa yang telah kami rencanakan bersama, gak banyak tapi cukup 2 atau 3 aja, itupun kalo Allah titipkan pada kami.

Tapi bagaimana dengan seorang perempuan yang ditakdirkan tidak bisa mempunyai anak?

Dan, bagaimana dengan ibu yang terpaksa menjadi single parent? Mereka yang terpaksa menafkahi anak-anak mereka dengan bekerja?

Saya jadi inget film Perempuan Berkalung Sorban, seorang istri yang awalnya ngikut aja perlakuan suaminya. Dikatakan, Perempuan punya surganya sendiri tanpa harus jadi apa-apa. Saya percaya dan saya yakin itu. Tapi bukan berarti perempuan tidak melakukan sesuatu yang membuat mereka lebih berkarya, bukan? Ya. Saya setuju. Dengan tidak mengabaikan fitrahnya menjadi perempuan dan ibu.

Banyak yang akhirnya meributkan masalah ini, pun dengan membanding-bandingkan ibu yang tidak bekerja dan ibu yang bekerja. Zaman berubah, banyak cara yang menjadikan pahala dan ibadah yang bisa dilakukan seorang perempuan.

Saya rasa Ustad ini agak terlalu ‘keras’ dalam dakwahnya di social media. Secara tulisan, seharusnya si ustad harus lebih bisa membalut tulisannya dengan tidak terasa menyudutkan sebagian orang, tapi dengan cara mengajak sesuai pesan yang mau disampaikan.