Catatan Tengah Ramadhan 1439H

16 Ramadhan 1439H.

Alhamdulilah bertemu lagi dengan ramadhan tahun ini.
Alhamdulilah masih dikasih sehat, tahun ini udah gak menyusui Gemilang lagi. Setelah 2 tahun yang lalu berjuang ditengah menyusui masih bisa puasa penuh (karena siklusnya belum lancar).
Tahun ketiga Alaya berpuasa. Kali ini karena udah sering main sama temennya, pulang sekolah langsung ngeluh haus , liat adeknya makan trus disuruh jauh-jauh biar gak ngerasa pengen.
Hari pertama puasa, Gemilang malah demam. Tau sendiri gimana ibu kalo anaknya sakit. Gak bisa tidur trus lanjut sahur. Anaknya jadi rewel banget, susah tidur, taunya demam karena mau batuk pilek. Alhamdulilah 4 hari udah enakan, walo susah minum obat, walau drama dikit-dikit nangis dan gak mau makan. Anak ini kalo liat emaknya pergi ke mana gitu gak ngajakin dia, mulai deh sering rewel.

Puasa tahun ini saya merasa entah kenapa mudah sekali merasa kecil hati. Setelah diem beberapa jam (gak diem juga sih, sambil mikir maksudnya) baru deh merasa baikan lagi. Kudu banyak bersyukur dan berprasangka baik. Selalu begitu sih harusnya.

Beberapa hari sebelum puasa, salah seorang sepupu (dari suami) berpulang. Kaget kita karena masih muda, gak punya riwayat sakit berat juga. Seumuran adikku. Meninggalkan istri dan dua orang anaknya, 3 tahun dan 3 bulan. Segala hidup dan mati memang kuasa Allah, semuanya hanya menjalani ketentuanNya.

Semoga Allah mempertemukan lagi dengan ramadhan tahun tahun depan. Semoga semua menjadi lebih baik.

E-KTP Yang Tak Kunjung Selesai

Saya adalah tipe orang yang malas sekali harus mengurus ini itu yang membuang waktu lama. Pengennya sih semua jadi lebih mudah dan cepat, itu tho yang kita semua inginkan? Makanya dibuatlah sistem online. Tapi sepertinya Indonesia atau orang-orang pemerintahannya (apalagi daerah)  seperti tidak mau cepat-cepat belajar untuk sistem yang lebih cepat dan mudah.
Menyebalkan!

Sekitar 2 bulan sebelum KTP lama saya mati, itu awal Januari 2014 saya dan suami mengurus e-KTP. Datanglah kami ke kecamatan, trus dilakukanlah scan sidik jari, ya kesepuluh jari tangan (yang entah apa gunanya sampe harus 10 jari) sampe retina. Saya berdecak kagum karena ternyata orang kecamatan lumayan cekatan dalam hal ini dan juga alatnya. Berikut foto menggunakan kamera DSLR yang disediakan.

Setelah selesai kami pun berharap akan segera selesai dong ya ektpnya. Orang kecamatan bilang akan selesai dalam jangka waktu 1-2 bulan. Tapi… Hingga sekarang ektp yang dijanjikan belum juga selesai.
Sudah setahun lebih, entah apa dan bagaimana seharusnya mengapa semuanya yang harusnya menjadi mudah malah jadi lebih lama.

Read More

Masih Merokok? Kesehatanmu lho…

Saya bukan orang yang anti banget sama perokok.
Tapi bener, saya gak suka sama asap rokok.

Seminggu yang lalu saat saya lagi makan di sebuah restoran, ada seorang ibu yang bawa anaknya yang menurut saya belum 2 tahun. Setelah anaknya ditaruh di highchair sebelah ibunya. Coba tebak? Si ibu tersebut merokok disamping si anak kecilnya itu. Merokok dengan tenangnya sambil ngobrol sama temen-temennya. Rasanya saat itu saya mau tarik aja si anaknya menjauh dari si ibu. Tapi, saya bisa apa? disana memang ruangan yang boleh merokok.

Apa yang temen-temen lakukan jika jadi saya?
Mau ngomongin kayaknya berasa gimana gitu… Si ibu kayak gak punya hati aja sama anak sendiri. Saya berasanya orang kayak gitu ya, kesehatannya aja dia gak peduli, apalagi mau peduli kesehatan orang lain? Tapi ini kan anak sendiri….
Read More

Random

Tadi sempet baca di timeline Twitter ;

Saat kita mulai membandingkan, kita lupa untuk bersyukur.

Ada benernya nih.
Kita tetap manusia, seringkali membandingkan. Tapi, semoga kita gak lupa untuk bersyukur. Sedikit atau banyak, semua nikmat harus selalu disyukuri.

Sebenernya saya pengen posting, tapi kadang entah kemana ide nulis itu berlari.
Lalu jadi angin dan berhembus pergi. Tak kembali lagi.
*udah sok puitisnya*

Seorang teman, bertanya ‘kok gak posting blog lagi?’
Saya menyadari bahwa ternyata, ada yang kangen sama saya eh sama posting blog saya.
Begitu juga dengan blog sebelah, saat ada yang bilang suka baca ripiu buku disana, saya langsung merasa diingatkan bahwa masih banyak yang mau baca tulisan saya.

Terima kasih ya pembaca

Yang Muda Dan Keinginan Untuk Melakukan Perubahan

Melakukan perubahan sebenarnya tidaklah terlalu sulit, hanya saja kita perlu orang yang mendukung perubahan itu.

Hari minggu kemarin saya menonton film Mohabbatein, ya film India yang udah lama dan udah beberapa kali saya tonton. Saya menonton kembali, sederhana saja karena saat itu kebuka channel tv yang itu. Mohabbatein memang cerita cinta, tapi bukan itu yang mau saya bicarakan, tapi bagaimana Narayan Shankar, si kepala (sebangsa rektor lah ya) Gurukul yang tidak menyukai perubahan atas apapun yang telah dia tetapkan di universitas tersebut. Lalu, muncul lah Raj Aryan yang akhirnya membuat suatu perubahan di Gurukul.

Bukan hal mudah bagi Raj Aryan mengubah banyak hal di Gurukul, apalagi masih ada Pak Narayan. Tapi akhirnya Raj Aryan berhasil dengan suatu hal berharga yang ia korbankan. Ya, selalu ada harga yang harus dibayar bukan?

Ada lagi pemimpin Jakarta, pasangan Jokowi – Ahok yang memberikan banyak perubahan di Jakarta, terlebih dari sisi birokrasi. Saya acungi jempol yang banyak deh buat Pak Jokowi dan Pak Ahok atas perubahan yang mereka buat. Saya berdoa semoga semua pemimpin daerah di negeri ini, bisa seperti pasangan tersebut.

Jika saya dihadapkan pada orang yang bergerak di keduanya, menjadi guru di Gurukul dengan Pak Narayan sebagai kepalanya, atau menjadi anak buah Pak Jokowi – Ahok, mana yang akan saya pilih? Saya akan memilih menjadi anak buah Jokowi -Ahok. Bukan. Bukan karena pasangan tersebut nyata dan Gurukul adalah fiktif, tapi siapa atasan saya.

Read More