Anak-Anak Korban Orangtuanya

Anak adalah buah hati orangtua, buah cinta kasih orangtuanya. Itu teorinya. Normalnya begitu. Lalu apa ada anak yang ‘tidak normal’? Tidak normal di sini bukan karena seorang anak dilahirkan dengan kekurangan secara fisik, tapi lebih dari itu, kekurangan yang secara psikologis dirasakan si anak, yang dia bawa dari kecil hingga ia besar.

Ada anak-anak yang dilahirkan tanpa cinta, hasil perkosaan misalnya, ada juga anak-anak yang lahir dari sebuah kesalahan dari orangtuanya, yang kadang mati-matian ingin digugurkan sejak dari janin, ada anak-anak yang ditinggal pergi oleh orangtuanya, ‘dititipkan’ ke keluarga lain, pada panti asuhan dan sebagainya. Mereka tetap anak-anak normal, tapi bukan dari keluarga yang dikatakan orang-orang ‘normal’.

Anak dengan label ‘diluar nikah’ misalnya. Sama sekali anak itu gak salah, gak minta kok dia dilahirkan ke dunia, yang salah adalah perbuatan orangtuanya. Berhenti mengungkit atau mencap si anak dengan label seperti itu, dia tetap anak normal yang harus kita samakan dengan yang lainnya, tak berbeda. Cerita Ganda dalam novel No Place Like Home contohnya, menggambarkan rasa sakit hati yang dibawa Ganda atas label anak diluar nikah sejak dia kecil. Kadang malah keluarga terdekat yang paling sering mengungkit dan menjadikan sakit itu lebih parah. Rasa sakit ini malah membawa dendam berkepanjangan pada orangtua sendiri lalu terbawa hingga anak dewasa.

Read more

Cara Menumbuhkan Minat Baca Pada Anak

Mungkin kita harus sepakat dulu bahwa minat baca itu tidak tumbuh dengan sendirinya? Iya kan?
Nah, dari situ tulisan ini bisa dimulai.

Membaca tulisan Mbak Utami di sini soal minat baca, sebenarnya sudah lama saya ingin ikut menuliskan tentang minat baca ini, tapi baru sekarang akhirnya terwujud menuliskannya :D

Saya sadar, sebagai seseorang yang suka membaca, saya memulai semuanya dari kecil. Bapak saya dulu tidak henti membelikan kami (saya dan adik saya) majalah semacam Bobo dan Donald Bebek dari kios kecil depan restoran tiap kali kami mampir makan di sana. Kalo ke Gramedia ya biasa ya beli komik kayak Doraemon, Dragon Ball gitu. Makin besar bisa langganan majalah dan makin gede lagi, saya belum punya duit sendiri buat beli buku, dari SMP hingga SMA saya sisihkan duit jajan saya yang gak seberapa itu buat nyewa buku di taman bacaan depan sekolah. Harga sewanya 10% dari harga beli bukunya. Saat itu senang saya bisa baca banyak komik dan novel hanya dengan meminjam. Dari sana lah awalnya kebiasaan membaca menjadi hal yang menyenangkan, menjadi hobi yang terus dibawa hingga kini. Dari sana juga saya mengerti bahwa kebiasaan membaca itu haruslah ditumbuhkan sedari kecil, dipupuk agar bisa berkembang dengan baik hingga dewasa.

Saya juga sadar, saat ini berbeda dengan zaman dulu, di mana belum ada smartphone canggih yang bisa ini itu, dulu udah punya komputer buat bikin tugas aja udah alhamdulilah. Kalo mau internetan, mesti ke warung internet (warnet). Anak zaman sekarang dimudahkan dengan gawai (gadget), lebih suka visualisasi yang bisa mereka tonton di Youtube dibanding ilustrasi yang ada dalam buku, lebih menyenangkan memang. Itu lah yang terjadi pada anak-anak saya. Ditengah gempuran Youtube yang menyenangkan buat ditonton, saya bisa dibilang berjuang banget agar buku dan membaca bisa mendapatkan tempat ditiap hari mereka. Beberapa langkah ini yang saya lakukan untuk itu.
Read more

Sudah Saatnya Ngomongin Surga dan Neraka

Pagi ini Alaya bikin pertanyaan tentang agama yang ditujukan kepada Ayah Bunda karena dia merasa dia pengen tau apa jawabannya.
Sebelumnya Alaya memang sudah banyak nanya tentang Tuhan dan segala macem soal agama, biasanya pas lagi nguncir rambutnya, atau pas lagi main. Kali ini dia langsung nulis apa aja yang dia mau tanyain.

Alhamdulilah, Alaya udah bisa sholat dengan hafal semua hafalannya, walau belum sholat 5 waktu, tapi dia udah mulai sering sholatnya. Alhamdulilahnya lagi Alaya udah selesai Iqronya, dan sekarang lanjut ngaji Alquran sama ayahnya tiap abis maghrib.

Pagi ini abis sekolah, makan dan menuliskan pertanyaan itu, Alaya liat adeknya tidur, jadi memutuskan untuk ngambil ular tangga dan ngajak saya main. Oke, ini saatnya saya pikir.

Saya merasa paling enak menceritakan soal agama tuh pas lagi dapet waktunya, yang pas dia merhatiin kita sebagai orangtua walau sambil main. Sambil main, sambil saya cerita soal kenapa kita harus mendengarkan Allah. Siapa itu Allah, sesuai apa yang ditulis Alaya tadi.

Read more

Belajar Parenting ala The Return of Superman

Saya penyuka drama Korea, itu tak usah diragukan lagi. Tapi saya gak terlalu suka K-Pop, penikmat cowok gantengnya aja sik, lagunya gak gitu :p
Satu lagi, saya suka variety show Korea. Ya paling suka Running Man, kalo udah ketinggalan 1 episode aja rasanya gimanaaa gitu, berasa kurang hiburan lah saya :D

Ternyata, variety show The Return of Superman juga menarik. Gak terlalu seru sih kayak RM tapi yang ini lebih kerasa ‘belajar jadi orangtua’nya.

Saya akui dan saya sadar bahwa menjadi orangtua itu suatu pembelajaran seumur hidup. Setidaknya sebagai orangtua, kita banyak belajar entah itu dari orangtua kita, dari buku, seminar parenting atau juga tontonan. Gak semua yang kita baca di buku parenting dan seminar parenting mampu kita terapkan pada anak. Karena itu setiap orangtua punya caranya sendiri dalam bagaimana mendidik anaknya.
image

The Return of Superman yang paling saya suka ya pastinya triplet alias kembar tiga cowo anaknya Song Il Gook yaitu Daehan, Minguk dan Manse. Si kembar tiga ini lucuuuu banget. Selain itu mereka ini anak yang manis walau ya mereka tetap anak-anak yang kadang bertingkah macem-macem. Superman lah si ayahnya. Il Gook adalah ayah hebat yang mampu gendong kembar tiga ini sekaligus dan yang pasti saya suka parenting style-nya.

Read more

Anak Hanyalah TitipanNya

Beberapa hari yang lalu, seorang teman memberi link sebuah artikel dari blog Ayah Edy via BBM, langsung saya baca. Saya tertegun, dan saya teruskan link tersebut ke suami. Kisah Anak yang meminta dimandiin sama Bundanya. Karena sangat sibuk, sang Bunda tidak pernah sempat memandikan anaknya, sampai akhirnya janji sang Bunda terpenuhi saat sang anak meninggal dunia. Hanya ada sesal dari orangtuanya, yang tak mampu memberikan yang ‘terbaik’ bagi si anak.

Ibu dan Anak

Hari sabtu, 10 April 2010, saya dikejutkan kembali dengan berita kematian Bilqis Anindya Passa. Sekedar mengingatkan Bilqis adalah anak berumur 17 bulan yang menderita kelainan hati. Sang Ibu yang telah bersusah payah menggalang dana, telah melakukan yang terbaik untuk kesembuhan putrinya. Ketabahan super dahsyat dari orangtua Bilqis, membuat saya yakin tak ada penyesalan disana, mereka telah memberikan yang terbaik bagi anaknya.

Hari ini, tadi pagi dapet kabar Chika-keponakan Kak Goiq– meninggal dunia. Ya Allah….. kaget, anak berumur 6 bulan yang walaupun belum pernah bertemu sering saya dengar ceritanya dari Kak Goiq. Chika berumur hampir 7 bulan, cuma beda 2 minggu dari Alayaku. Waktu Alaya lahir 1 September tahun lalu, Chika lahir 15 September. *menahan air mata* :sedih:

Read more