Di Balik Bebersih Sungai

Hari ini pertama kali kegiatan #bebersihsungai dilakukan. Saya rasa memang tidak mudah untuk memulai sesuatu, tapi patut untuk dicoba. Karena ide tetaplah hanya akan jadi ide jika tidak ada aksi. Dari sana, kenapa kita harus nunggu ada yang ngajak untuk punya kegiatan positif? Marilah mencoba untuk memulainya. Tidak usah mikirin banyak ga yang bakal ikut, tapi cobalah untuk mengajak untuk menjadikan ide tersebut sesuatu yang nyata.

Dari mana idenya?
Ide membersihkan sungai ini, sebenernya udah lama saya dengar dari Youth Aspiration. Fandagri pernah memaparkannya pertengahan tahun lalu untuk sama2 membersihkan Sungai Musi, karena dinilai Sungai Musi sudah semakin tidak bisa lagi diandalkan untuk kebutuhan air di Palembang jika dibiarkan terus seperti sekarang. Tapi, sampe kegiatan #bebersihsungai dilakukan Youth Aspiration belum pernah melakukan kegiatan apapun sebagai aksi nyata. Padahal saya semangat sekali dengan ide ini, Rizma pun begitu.

tim bebersih sungai kali ini

Sampai akhirnya, saya menyadari pembuat ide akan berada di satu titik itu saja jika tidak diwujudkan. Bermula dari ‘kebosanan’ saya melihat banyaknya kegiatan blogger yang terkesan asyik-asyik terus (ya, asyik tapi masih banyak aja gitu yang nyinyir :p) akhirnya saya terpikir gimana kalo blogger sekali-sekali punya kegiatan turun ke jalan, berpeluh keringat, tapi bisa memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekitar. Kenapa tidak dengan ide bebersih sungai?

Saya coba ngajak temen-temen Wongkito, walo banyak pertanyaan, seperti kenapa harus tanggal 1 Januari? Kenapa ga gandeng komunitas laen? Sampe ke pertanyaan kita perlu publikasi untuk acara ini.

Saya coba jelaskan, saya tidak punya alasan khusus untuk tanggal 1 Januari, kecuali karena semua libur. Saya berharap akan ada banyak temen yang bisa menyempatkan sedikit waktu tidurnya, setelah begadang tahun baruan dengan ikut dalam acara ini. 1 Januari juga dimana pesta usai, saatnya bersih-bersih.

Saya tidak merasa kegiatan ini bisa dinilai asyik dimata banyak orang/blogger/netizen, maka saya merasa tidak segitu perlu untuk mengundang secara khusus via email kepada teman-temen komunitas lain. Saya dibantu teman2 coba hanya share via Facebook dan Twitter untuk info acara ini. Terima kasih sekali untuk temen-temen yang sudah membantu share info ini ya.

yang disebelah, airnya dikit, susah ngambilin sampahnya (foto:Rizma)

Untuk publikasi, saya mencoba untuk tidak menjadi seperti pejabat pemerintahan, sebelum kegiatan dimulai pada sebar info, panggil semua media untuk publikasi. Siapalah kami ini? Kami cuma butuh temen-temen support kegiatan ini dengan cara ikut dalam acaranya. Publikasi biarkan kami tulis dengan pengalaman itu.

ngumpulin sampah pinggir sungai (foto:Rizma)
Diar dan Boim turun ke bawah

Read more

Mari Menyantuni Anak-Anak Kurang Mampu

Berbagilah….
Jika kita masih mampu berbagi…

Kemarenan, via plurk ada tementemen yang menanyakan hal tentang penyantunan anak, semisal GNOTA dan laen sebagainya. Nah, karena itu mungkin ini salah satu media untuk berbagi pengetahuan tentang penyantunan anak.

Brosur WVI sisi 1
Brosur WVI sisi 1

Waktu kemaren ke Jakarta dan beli majalah Goodhousekeeping saya menemukan brosur di dalamnya dari Wahana Visi Indonesia. Mungkin tidak banyak yang tau, ini program apa. Lalu saya baca brosur itu dengan seksama, beberapa menit selanjutnya, saya sudah sangat tertarik dengan program ini dan meminta persetujuan suami untuk mengikutinya.

Brosur WVI Sisi 2
Brosur WVI Sisi 2

Saya ketik aja deh apa yang ada di brosurnya ya:
Wahana Visi Indonesia akan memberikan perbedaan bagi kehidupan anak-anak yang membutuhkan di Singkawang & Merauke. Dukungan yang anda berikan dapat membawa perubahan tak hanya bagi anak santun, namun jg keluarga dan masyarakat di bidang pendidikan, kesehatan, perbaikan fasilitas hidup (sarana air bersih) dan pengelolaan potensi masyarakat.

Itu sekilas tentang Wahana Visi Indonesia (WVI). Dengan berbagi Rp. 100.000/bulan/anak kita bisa berbagi kebahagiaan untuk mewujudkan impian anak-anak bangsa.

Agak berbeda dengan orang tua asuh, yang kita asuh dan kita biayai kehidupan dan pendidikannya. Untuk anak santun ini, kita ga perlu mengasuh secara langsung. Cukup dengan menjadi penyantun anak tapi kita bisa mengetahui perkembangan anak itu tiap tahun, juga bisa surat menyurat, kasih hadiah, malah bisa ketemuan langsung sama mereka loh. :ting:

Read more