Sekstorsi dan Ancaman Online Terhadap Perempuan

Karena perempuan yang selalu disalahkan.

Mungkin masih banyak yang ingat sewaktu seorang artis VA yang terkena kasus prostitusi online, orang-orang juga para netizen lalu heboh berkomentar soal ini, gak jarang juga mencibir ini itu. Menurut saya itu bukan urusan kita. Tidak berhak lah rasanya saya mencibir yang dilakukan VA apalagi saya sendiri perempuan. Hanya karena dia perempuan maka dengan mudah orang menyalahkan.

Kasus lain, yaitu tentang kasus Brigpol DS di Makassar yang harus dipecat jabatannya karena foto-foto selfie-nya yang seksi beredar. DS dianggap melanggar kode etik kepolisian. Cerita singkat kasusnya, yaitu DS pacaran dan diminta pacarnya untuk mengirimkan foto-foto seksi melalui pesan singkat. Lalu suatu hari DS diancam oleh sang pacar jika tidak memberikan yang pacarnya mau, maka foto-foto seksi tersebut akan disebarluaskan.

Cerita Brigpol DS ini sama seperti yang pernah diceritakan seorang teman yang mendampingi seorang korban, sebut saja AB. Jadi AB kehilangan ponselnya yang ternyata menyimpan foto-foto seksinya. Ponsel ini ditemukan oleh seorang pria. Setelah membuka ponsel tersebut dan mengetahui ada foto-foto tersebut, si pria mengancam AB akan menyebarluaskan fotonya jika tidak memberikan uang sebesar 2 juta rupiah.

Untungnya AB berani untuk melapor didampingi teman tadi. Akhirnya AB berkomunikasi dengan si pria untuk bertemu. Tapi ternyata bukan cuma minta uang, tapi juga mengajak AB check in hotel. Di sinilah polisi membekuk pelaku. Ancaman ini mengerikan. Tidak banyak korban mau membuka ancaman seperti ini dengan perhitungan bahwa ini termasuk aib sendiri, belum lagi perasaan takut yang didapatkan dari ancaman tersebut. Seringkali malah aparat penegak hukum menyulitkan korban dengan mempertemukan korban dengan pelaku, tak peduli korban merasa trauma.

Kasus DS dan AB disebut dengan sekstorsi, yaitu suatu bentuk kejahatan siber baru berupa eksploitasi online. Sekstorsi ini saya yakin banyak yang mengalaminya bukan cuma Brigpol DS dan AB. Dari data Tirto korban kebanyakan justru terjadi pada anak usia kurang dari 18 tahun yaitu sebanyak 71 % dan pelaku kebanyakan adalah laki-laki yang justru dekat dengan korban. Apalagi di era digital begini, mudah sekali rasanya memprofil seseorang hanya dengan mengecek media sosialnya.

infografis dari Tirto.id

Seringkali perempuan dengan mudah membagikan hal-hal apa saja yang dianggap perlu dibagikan dengan tidak memikirkan apa yang bisa saja dilakukan oleh orang jahat di luar sana. Membagikan waktu sekolah/kuliah/kerja, tempatnya di mana, sering nongkrong di cafe mana, sering nonton di mana, dsb. Atas nama eksistensi di media sosial, semua dibagikan lalu lupa akan privasi.

Saya pernah menonton cerita selebgram Korea di serial 2 episode Drunk in Good Taste. Saking cantiknya si selebgram jadi banyak yang suka, lalu dimintai alamat oleh para pengikutnya untuk mengirimkan hadiah katanya. Trus dikasih dong alamatnya dan hadiah pun datang, tapi tak cuma itu, ada fans laki-laki yang awalnya suka like fotonya di Instagram lalu ada rasa ingin memiliki lalu jadi penguntit. Tidak cuma jadi penguntit, fans tersebut memaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak disukai selebgram.

Contoh kecil yang mungkin luput dari kesadaran perempuan. Sebelum membagikan sesuatu di media sosial coba dipikir dulu baik buruknya. Saring sebelum sharing juga berlaku bukan cuma urusan soal hoaks, tapi juga tentang hal-hal yang sifatnya pribadi. Kesampingkan dulu soal eksistensi, nilai dulu apakah yang akan dibagikan baik untuk diunggah saat itu juga di media sosial.

Perempuan akan lebih banyak menjadi korban. Kenapa? karena dia perempuan. Begitu saja. Perempuan dianggap lemah dalam segala hal, dianggap mudah untuk diancam, ditakut-takuti. Jangan biarkan orang-orang (khususnya laki-laki) yang berpikiran sempit macam ini berada didekat kalian para perempuan.

Ada beberapa tips yang diberikan Kak Lelakibugis agar bisa terhindar dari sekstorsi yang bisa dibaca di sini. Bagi yang mau membaca secara lebih lanjut, ada panduan aman berinternet yang bisa diikuti oleh para perempuan dari Vpnmentor. Lengkap dan bisa langsung dipraktekkan langkah-langkahnya. Jika mau baca versi Indonesianya, SAFEnet sudah bantu menerjemahkannya dan panduan bisa diunduh di s.id/panduanKBGO.

2 thoughts to “Sekstorsi dan Ancaman Online Terhadap Perempuan”

  1. itulah, dalam banyak kasus akhirnya memang perempuan yang akan jadi korban utama
    sudahlah jadi korban, dia juga dipojokkan sama masyarakat

    “Salah sendiri, gatel sih ngasih gambar ke cowok”

    yaelahh….

    di Twitter saya pernah nemu ada cowok anak mahasiswa di Jakarta yang melelang foto dan video ceweknya (tentu saja dalam keadaan bugil) hanya karena katanya si cewek minta putus. ketika didesak, si cowok mengaku itu hanya prank saja dan nggak betulan. entahlah, tapi kalau memang ada yang kayak gitu rasanya koq luar biasa jahat ya

  2. saya pernah dapat pesan di WA dan mengajak vidsex, saya abaikan. eh beberapa hari kemudian ada berita penangkapan sindikat pemerasan dengan modus: mengajak korban vidsex lalu direkam. setelah itu diancam dan diperas. sekstorsi ternyata juga mengancam laki-laki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.