26
May '15

Memahami Hubungan Ayah & Anak Dari Toba Dreams

Sukses itu bukan saat kamu berhasi jadi orang kaya, tapi saat kamu berhasil menjadi orang baik.

Seorang teman merekomendasikan film Toba Dreams ini pada saya dengan testimonial bahwa film ini adalah film Indonesia terbaik yang pernah ia tonton. Oke…baiklah, akhirnya dengan tidak menonton trailernya lebih dulu saya putuskan untuk menonton film dimana Vino G. Bastian berakting dengan istrinya sendiri, Marsha Timothy ini. Toh ini bukan film keduanya yang pernah saya tonton, sebelumnya saya sudah pernah menonton Air Mata Terakhir Bunda, dimana pasangan ini juga yang main.

Sesuai judulnya film ini tentu film yang bersetting Danau Toba. Benar saja, sepanjang film mata saya menikmati keindahan Danau Toba nan indah itu. Jelas dari judulnya pun kita suah tahu, film ini akan kental dengan budaya batak walau tak hanya di Balige syutingnya tapi juga tetap ada Jakarta.

Film dimulai dengan Sersan Tebe (Mathias Muchus) yang pensiun dari pekerjaan sebagai anggota TNI Angkatan Darat. Sebagai seorang prajurit pembela negara nan idealis, segera setelah selesai masa kerjanya dia mengajak istri dan 3 anaknya, Ronggul (Vino Bastian), Semurung dan Taruli kembali ke desa tempat dia berasal yaitu di Balige, Toba. Sebagai seorang bapak yang sering bertugas semasa kerjanya, Ronggul sebagai anak tertua tidak mendapat didikan langsung dari Sang Ayah dan ia juga merasa ayahnya tidak sayang padanya dibandingkan 2 adiknya yang lain. Ronggul akhirnya besar menjadi anak yang keras kepala dan selalu berbeda pendapat dengan sang ayah. Pak Tebe mengatakan Ronggul adalah anak yang berperangai buruk. Ronggul sebenarnya ingin menjadi apa yang dia inginkan, bukan menjadi apa yang ayahnya inginkan menjadi seorang prajurit. Sebagai seorang prajurit Pak Tebe mengharuskan anak-anaknya menjadi apa yang ia mau layaknya komandan pada anak buahnya.

Singkat cerita, keluarga ini pindah ke Balige dan Ronggul tentu gak betah dan selalu berantem sama sang ayah sampai akhirnya Ronggul memutuskan untuk kembali ke Jakarta untuk menemui sang pujaan hati, Andini (Marsha Timothy). Orang tua Andini tidak menyukai Ronggul dan memutuskan menjodohkan Andini pada pemuda lain, tidak lain ya karena Ronggul tidak kuliah dan belum bekerja. Akhirnya Ronggul bekerja menjadi supir taksi dan bertemu dengan mafia narkotika. Ronggul terjebak dan akhirnya masuk ke bisnis haram tersebut. Seperti lupa akan idealisnya dulu, Ronggul malah makin masuk ke bisnis tersebut hingga ia menjadi orang yang kaya raya. Barulah ia bisa menikahi Andini dan menunjukkan para orangtuanya di Balige bahwa ia sudah menjadi orang kaya raya.

Selanjutnya gimana ceritanya? Silakan nonton sendiri ya, gak seru kalo diceritain semua.

Saya cuma ingin melihat dari sisi ayah dan anak lelaki yang kerap kali berbeda pendapat seperti Pak Tebe dan Ronggul, sepertinya hal kayak gini biasa yapada sebuah keluarga. Beda pendapat, karena sama laki-laki ya jadinya sama-sama keras mempertahankan pendapatnya masing-masing. Pak Tebe yang seorang prajurit ya biasanya akan mendidik anaknya dengan keras seperti didikan militer, tapi di masa sekarang kita memang gak bisa lagi mempertahankan apa yang orangtua mau.

Mendengarkan. Ini adalah proses penting. Saya juga belajar setidaknya untuk bisa mendengarkan maunya anak, pendapat anak, sehingga kita gak jadi sosok orangtua yang layaknya teman mereka, bukan komandan. Sekarang sebagai orangtua gak bisa lagi kita memaksakan keinginan kita pada anak, kadang maunya orangtua dan maunya anak kan berbeda. Ibu Ronggul berkata, anak-anak itu tidak bisa kita (orangtua) pahami, tapi bisa kita mengerti. Ya, bisa aja sih memahami mereka dengan masuk menjadi seorang yang bisa mereka percayai, lah gimana mau memahami kalau rasa sayangnya saja tidak pernah ditunjukkan pada anak. Memuji anak kalo dia melakukan yang baik, itu juga bentuk kasih menurut saya. Mengajarkan dia mau meminta maaf jika salah, itu juga cara agar ia mampu punya jiwa kesatria dan tidak selalu merasa selalu benar.

Saya sepakat bahwa menjadi orangtua adalah sekolah sepanjang waktu yang tidak pernah ada pakemnya, tiap orang tua punya cara sendiri menyampaikan banyak hal pada anaknya, bagaimana baik dan buruknya.

Film ini mengajarkan banyak hal, mulai dari hubungan keluarga hingga toleransi antar agama. Saya suka banget waktu Coki yang muslim diminta untuk memimpin doa sebelum makan ditengah keluarga kristen, Neneknya berkata “semua doa itu baik”.