26
May '15

Memahami Hubungan Ayah & Anak Dari Toba Dreams

Singkat cerita, keluarga ini pindah ke Balige dan Ronggul tentu gak betah dan selalu berantem sama sang ayah sampai akhirnya Ronggul memutuskan untuk kembali ke Jakarta untuk menemui sang pujaan hati, Andini (Marsha Timothy). Orang tua Andini tidak menyukai Ronggul dan memutuskan menjodohkan Andini pada pemuda lain, tidak lain ya karena Ronggul tidak kuliah dan belum bekerja. Akhirnya Ronggul bekerja menjadi supir taksi dan bertemu dengan mafia narkotika. Ronggul terjebak dan akhirnya masuk ke bisnis haram tersebut. Seperti lupa akan idealisnya dulu, Ronggul malah makin masuk ke bisnis tersebut hingga ia menjadi orang yang kaya raya. Barulah ia bisa menikahi Andini dan menunjukkan para orangtuanya di Balige bahwa ia sudah menjadi orang kaya raya.

Selanjutnya gimana ceritanya? Silakan nonton sendiri ya, gak seru kalo diceritain semua.

Saya cuma ingin melihat dari sisi ayah dan anak lelaki yang kerap kali berbeda pendapat seperti Pak Tebe dan Ronggul, sepertinya hal kayak gini biasa yapada sebuah keluarga. Beda pendapat, karena sama laki-laki ya jadinya sama-sama keras mempertahankan pendapatnya masing-masing. Pak Tebe yang seorang prajurit ya biasanya akan mendidik anaknya dengan keras seperti didikan militer, tapi di masa sekarang kita memang gak bisa lagi mempertahankan apa yang orangtua mau.

Mendengarkan. Ini adalah proses penting. Saya juga belajar setidaknya untuk bisa mendengarkan maunya anak, pendapat anak, sehingga kita gak jadi sosok orangtua yang layaknya teman mereka, bukan komandan. Sekarang sebagai orangtua gak bisa lagi kita memaksakan keinginan kita pada anak, kadang maunya orangtua dan maunya anak kan berbeda. Ibu Ronggul berkata, anak-anak itu tidak bisa kita (orangtua) pahami, tapi bisa kita mengerti. Ya, bisa aja sih memahami mereka dengan masuk menjadi seorang yang bisa mereka percayai, lah gimana mau memahami kalau rasa sayangnya saja tidak pernah ditunjukkan pada anak. Memuji anak kalo dia melakukan yang baik, itu juga bentuk kasih menurut saya. Mengajarkan dia mau meminta maaf jika salah, itu juga cara agar ia mampu punya jiwa kesatria dan tidak selalu merasa selalu benar.

Saya sepakat bahwa menjadi orangtua adalah sekolah sepanjang waktu yang tidak pernah ada pakemnya, tiap orang tua punya cara sendiri menyampaikan banyak hal pada anaknya, bagaimana baik dan buruknya.

Film ini mengajarkan banyak hal, mulai dari hubungan keluarga hingga toleransi antar agama. Saya suka banget waktu Coki yang muslim diminta untuk memimpin doa sebelum makan ditengah keluarga kristen, Neneknya berkata “semua doa itu baik”.