Yok Ke Festival Pembaca Indonesia 2012

Teman-teman tercinta, tahun ini Goodreads Indonesia (GRI) kembali menyelenggarakan Festival Pembaca Indonesia yang telah sukses digelar 2 tahun belakangan.

IRF 2012

Saya sendiri tahun lalu menghadiri Festival Pembaca Indonesia atau juga yang disebut Indonesian Reader Festival (IRF). Banyak yang bisa saya lihat dan bisa dapatkan dalam event buat para pembaca Indonesia itu. Saya sendiri seneng lah bisa bertemu dengan teman-teman Goodreads, berkenalan dengan banyak penulis dan juga orang-orang dari penerbitan buku.

Tahun ini, temanya ‘Luaskan Dunia Membacamu’. Bagi yang merasa gak punya semangat baca, silakan berkenalan dengan teman-teman GRI, dijamin kalian paling gak jadi punya semangat baca lagi deh.

Read More

Dewan Pers, Jurnalis, Blogger dan Media di Bali Media Forum 4

Lagi. Ngomongin etika.

Namanya juga forum ya, isinya memang ngomong dan diskusi. Kali ini Bali Media Forum (BMF) mengambil tema Ethical Journalism and Citizen Media: Giving People a Voice in Support of Democracy. Acara ini masuk dalam rangkaian acara Bali Democracy Forum yang diselenggarakan di Nusa Dua, Bali 7-9 November 2012 oleh Dewan Pers didukung oleh Thomson Foundation dan Institute of Peace and Democracy.

bmf4-2012
Bali Media Forum

Yang hadir dalam BMF ke 4 tahun ini yaitu perwakilan dewan pers, jurnalis dan media dari berbagai negara ditambah dengan para blogger Indonesia, termasuk saya dan beberapa teman lain. Baru kali ini sepertinya BMF mengundang para blogger dan dari social media, karena sesuai dengan tema yang diangkat.

Dalam 2 hari BDF diisi dengan sharing dari para perwakilan berbagai negara, baik dari dewan pers ataupun media dan dari jurnalis tentang bagaimana situasi terkait media dan jurnalisme di negaranya masing-masing baik itu media mainstream juga social medianya. Menarik mendengar banyak cerita dari Malaysia, Philipina, Vietnam, Thailand, Myanmar, Srilanka, Australia, Pakistan, China, Norwegia hingga Timor Leste.

Read More

Deklarasi Tata Kelola Internet Indonesia (ID-IGF)

Forum Tata Kelola Internet Indonesia, ngomongin apa aja sih?

Kamis, 1 November 2012, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyelenggarakan Forum Tata Kelola Internet Indonesia atau Indonesia Internet Governance Forum (ID-IGF) untuk pertama kali di Hotel Borobudur, Jakarta.

Kalo kita liat dari namanya, forum ini jelas keliatan seperti obrolannya para petinggi saja yang ngomongin gimana mengelola internet di Indonesia. Tapi ternyata gak begitu, para pemangku kepentingan (multi-stakeholder) semua hadir dalam acara itu, baik dari pemerintah, swasta/bisnis dan juga civil society. Saya dan beberapa blogger lainnya dari berbagai kota di Indonesia turut hadir dan menyimak semua yang disampaikan dalam diskusi di acara tersebut.

Sebenarnya ada 5 keranjang Tata Kelola Internet Indonesia yaitu meliputi bidang Hukum, Sosial Budaya, Pembangunan, Infrastruktur dan Standarisasi serta Ekonomi. Tadinya ID-IGF ini akan ngomongin ke semua bidang ini dalam 3 hari pertemuan, tapi ternyata harus dipadatkan menjadi 1 hari untuk ngomongin Hukum, Sosial Budaya dan Pembangunan.

Di keranjang Hukum lebih khusus diomongin soal Cyberlaw and Sovereignty, yang ikut ngomong ada dari Kemkominfo, Kemhumham, Detiknas, Pandi, BRTI, UI dan juga APJII. Ya, yang dibahas soal hukum, kebanyakan peraturan kali ya kita di Indonesia ini

Keranjang Sosial Budaya ngomongin Internet and Right to Information, yang ngomong mulai ada dari Kemkominfo, Arus Pelangi, Koalisi Perempuan, ELSAM, AJI, APTIKOM. Sesi ini yang seru menurut saya karena mungkin bersinggungan banget sama blogger dan tentang kebebasan berekspresinya.

Terakhir keranjang Pembangunan soal Enabling Environment to Address Development Problems. Sesi ini udah sesi akhir, yang ngomong juga kaitannya sama pembangunan yaitu dari Kemkominfo, BP3TI, BPPT, FTII, Biznet, Mastel dan Satu Dunia.

Read More

Gathering Emak-Emak Blogger di Bandung

Sebulan yang lalu, iyaaa… sebulan lalu. Ini posting yang amat sangat telat, tapi mending telat kan ya daripada gak sama sekali. Biar inget gitu ada event-event penting

Kumpulan Emak-Emak Blogger (KEB) akhirnya membuat event gathering kedua, setelah acara di IDC 3D April lalu, kali ini yang kedua kedapetan di Bandung. Kenapa Bandung? Emak-emaknya yang pada minta ya, sengaja dipilih waktunya pas liburan sekolah dan sehari setelah FGDnya ICT Watch, biar saya bisa hadir dan ikut berbagi maksudnya

Saya dan Mbak Indah berangkat ke Bandung dengan nebeng Mbak Melly dari Blogdetik, sampe disana untuknya tepat waktu dan ternyata event hari itu tepat di mallnya Festival City Link. Kebayang kan hari itu saya dan teman-teman KEB harus saingan sama Cherrybelle, walo gitu yang dateng lumayan banyak ada sekitar 20 orang perempuan yang dateng membawa serta anak-anak dan suami mereka. Bisa dipastikan, bapak dan anaknya pergi ke lantai bawah untuk nonton performnya Cherrybelle.

Apa aja cerita gatheringnya, bisa di cek di webnya KEB ini ya. Saya seneng aja sih, ternyata semakin kesini semakin banyak temen-temen di KEB yang mau buat semacam gathering begini, semoga emang bikin mereka lebih semangat berbagi menulis blog. Mungkin nanti bisa aja teman-teman di daerah lain membuat acara yang sama dan lagi dipikirin gimana caranya agar temen-temen di daerah itu bisa mengadakan acara begitu sendiri (ya dengan sepengetahuan dan juga bantuan makmin tentunya).

Sebenernya posting ini juga saya bikin untuk mengingat progresnya KEB sampe sejauh mana, selain member yang makin banyak di grup FB dan makin banyak juga yang mau jadi kontributor dan menulis di web KEB. Trus coba mengevaluasi kenapa ya acaranya KEB udah dua kali ini digelar yang dateng gak banyak? Kalo masalah hari libur, kita udah coba di weekend dan hari libur sekolah, tapi ternyata juga gak terlalu banyak yang hadir. Saya coba mikir-mikir lagi gimana ya bikin para emak-emak itu minat untuk hadir dan mereka merasa tertarik ke acara beginian? Itu satu yang jadi pe er.

Kedua, acara apa yang menarik untuk emak-emak itu?

Kalo temen-temen ada ide, boleh ya bantu saya mikir dan tulis di kolom komentar sini.

foto abis acara (foto : Nchie Hanie)

Terima kasih ya, semoga kedepannya ada acaranya makin baik, makin diminati dan makin bermanfaat

Hasil Diskusi Transparansi & Kebebasan Berinformasi/Berekspresi

Sebelum kelupaan, baiknya semua ditulis, begitu juga dengan hasil diskusi temen-temen blogger dan aktivis informasi dari Aceh hingga Papua awal Juli lalu tentang transparansi dan kebebasan berinformasi/berekspresi.

7 Juli lalu di acara (Focus Group Discussion) FGD Camp yang diadakan ICT Watch, temen-temen blogger dan juga aktivis informasi diajak untuk melakukan diskusi yang dibagi per kelompok dengan topik yang berbeda.

Ada sebanyak 40 orang yang akhirnya dibagi menjadi 4 kelompok sesuai dengan peminatan masing-masing. Jadi, temen-temen diminta untuk memilih ke kelompok mana mereka akan berdiskusi. Akhirnya diskusi santai dilakukan di House of Eva, Duren Tiga Selatan Jakarta dengan didampingi oleh fasilitator masing-masing kelompok.

Setelah diskusi sekitar 1 jam, perwakilan tiap kelompok diminta untuk bisa memaparkan hasil diskusi yang sudah dilakukan oleh kelompoknya masing-masing kepada semua peserta FGD untuk selanjutnya dilakukan diskusi panel.

Kita lihat hasil diskusi masing-masing kelompok ya :

Kelompok 1 : Information Diversity (Keberagaman Informasi)

Diskusi Kelompok 1

Beberapa dasar pemikiran:
– Oligopoli kepemilikan media yang rentan hanya melayani kepentingan golongan/kelompok tertentu/terbatas. Ingat Pemilu 2014 segera tiba. Untuk Radio/TV, padahal menggunakan frekuensi milik publik.
– Tak cukup tersedianya pilihan informasi bagi publik, dapat dianggap sebagai bentuk pembodohan dan/atau penyensoran yang represif.
– Tersedianya channel/medium baru (blog, media sosial, dll) via Internet bagi penggunanya untuk berbagi informasi secara online.

Kelompok 1 berdiskusi tentang bagaimana besarnya pengaruh media mainstream dan bagaimana peranan media warga dalam memberikan alternatif informasi.

Disebutkan bahwa definisi mainstream disini adalah pelaku industri media yang besar, yang mana penetrasi informasi media mainstream sudah sampai ke daerah marginal. Media mainstream mampu membangun stereotip baik positif atau negatif tergantung kepentingan dan juga mampu menyeragamkan informasi tapi cenderung memperkecil pilihan informasi. Belum beragamnya media mainstream dalam memberikan informasi dikarenakan berpatokan pada pemilik modal, rating, iklan dan bahkan kekuasaan politik.

Untuk itu perlu penyeimbang dari media warga/alternatif yang ternyata sudah beragam namun dirasa belum cukup, sehingga kita seharusnya bisa memperbanyak produksi konten/informasi yang positif dengan cara berkolaborasi dengan berbagai komunitas blogger/aktivis informasi secara berkesinambungan.

Tantangan media warga/alternatif ini yaitu disisi internal, motivasi akan profit yg bisa menurunkan kualitas konten dan konsistensi, dan sisi eksternal penguasa bisa melakukan pengekangan dan juga masih banyak masyarakat yang belum melek media.

Rekomendasi:
– produsen: bahwa pendidikan media tidak hanya pada teknis, tapi juga kemampuan menulis.
– konsumen: perlunya meningkatkan kesadaran dan hak mendapatkan informasi yang beragam. Edukasi juga harus terus dilakukan untuk peningkatan kapasitas oleh kelompok yang peduli dan kompeten.
– hukum : perlu penegakan hukum yang jelas dan mampu mendorong perombakan regulasi yang ada. Pemerintah sebaiknya menguji UU sebelum diberlakukan.

Kelompok 2 : Information Asymmetry (Asimetris Informasi)

Diskusi Kelompok 2

Beberapa dasar pemikiran:
– UUD 45 menjamin hak siapapun untuk berinformasi dan berekspresi. Tetapi pada prakteknya, kelompok minoritas (marjinal), kerap ditekan/dibatas ketika ingin gunakan haknya tersebut
– Kelompok marjinal rentan terstigma dan terhambat ketika berinformasi dan berekspresi, karena faktor perbedaan preferensi seksual, keterbatasan fisik, kondisi kesehatan (penyakit) tertentu, lokasi geografis atau status ekonomi.
– Asimetris informasi adalah salah satu penyebab keterbelakangan dan ketidakadilan dalam pembangunan suatu negara, khususnya dalam memberikan (kebijakan) pelayanan publik.

Read More