Memaknai ‘Saling Melengkapi’

Apa tujuan Anda menikah?

Jika jawaban kalian ‘untuk mempunyai keturunan’ maka cobalah untuk menonton film Test Pack karya Monty Tiwa, sekarang filmnya lagi tayang di seluruh bioskop Indonesia.

Tidak ada yang salah dengan jawaban ‘ingin mempunyai keturunan’, hanya saja mungkin seharusnya jawaban itu akan menjadi urutan kesekian dalam suatu niatan menikah. Jika jawaban tersebut menjadi urutan pertama dalam niat menikah, maka ketika mendapati pasangan kalian infertil?

Test Pack the movie (gambar : istribawel.com)

Isu ini yang menjadi tema dalam film Test Pack, dari buku yang berjudul sama karyanya Ninit Yunita. Bukunya saya baca udah lama sih ya, sekitar tahun 2006, masih cover awal. Sekarang sih udah dicetak ulang dengan cover berbeda. Menurut saya bukunya sih bagus tapi dapet visualisasi Reza Rahadian – Acha Septriasa ini yang lebih komplit.

Tata (Acha) dan Rahma (Reza) telah menikah selama 7 tahun namun belum dikarunia anak. Keinginan sangat besar dari Tata untuk bisa mempunyai anak diperlihatkan dengan usahanya melakukan banyak hal, dari mulai makan toge mulu untuk menambah kesuburan, baca buku-buku kesehatan reproduksi hingga periksa ke dr. Peni S (Oon Project Pop) dan disarankan untuk melakukan suntik hormon.

Setelah melakukan banyak cara dan belum menampakkan hasil, dr Peni menyarankan agar Rahmat juga melakukan test kesuburan. Rahmat begitu terpukul saat mengetahui hasilnya tidak sesuai keinginan.

Apa yang terjadi dengan Tata setelah mengetahui kondisi Rahmat? Baiknya temen-temen nonton saja lah. Saya merekomendasikan film ini ditonton tidak hanya untuk pasangan yang sudah menikah, yang belum menikah pun bagus juga kalo nonton film ini. Bahwa ternyata menikah bukan cuma mendengar ‘SAH’ saksi ijab qobul aja, tapi lebih dari itu, bagaimana satu sama lain bisa menerima kekurangan dan melengkapinya dengan kelebihan masing-masing.

Read More

Ibu Tetaplah Ibu, Bagaimanapun itu….

Mau working-mom, mau working-at-home-mom, mau stay-at-home-mom, ibu tetaplah ibu, itu saja!

ibu (gambar : istockphoto)

Seorang teman mengupdate di status Facebooknya, yang intinya bilang jika banyak ibu yang jadi pemales karena gak ngasih ASI ke anaknya. Oke, sampe sini aja ya, coba kalo kita update status FB/Twitter itu mbok ya dipikir dulu. Ada banyak hal yang mungkin mempengaruhi seorang ibu yang akhirnya secara terpaksa tidak memberikan ASI kepada anaknya.

Seorang teman bercerita bahwa sebegitu keras ia mencoba memberikan ASI kepada anaknya dengan cara apapun itu, tapi ternyata gak bisa karena alasan kesehatan si ibu. Akhinya mau gak mau diberikan susu formula untuk si anak. Bukan inginnya si ibu kan ya?

Saya termasuk ibu yang beruntung bisa memberikan ASI pada Alaya hingga dia 2 tahun lebih, nyapihnya pun gak susah. Tapi saya pikir kita harus bisa menghargai semua keputusan para ibu, apapun pilihannya. Saya yakin, tidak ada yang tidak mau yang terbaik buat anak-anaknya.

Seperti juga alasan untuk bekerja dan tidak bekerja. Kenapa banyak ibu lalu seperti membanding-bandingkan satu sama lain, lebih baik bekerja atau lebih baik di rumah saja. Semuanya baik menurut saya, silakan aja pada pilihan setiap ibu. Mau bekerja baik adanya, bisa membantu perekonomian rumah tangga, mau kerja di rumah juga baik, bisa sambil kerja bisa sambil ngeliatin anak, atau mau di rumah aja kayak saya juga saya rasa baik juga, bisa ngurus anak secara penuh dari dia bangun sampe tidur.

Semua punya kelebihan sendiri yang hanya bisa dirasakan sendiri. Walo saya stay-at-home-mom tapi untuk selalu menggali informasi dan belajar banyak hal itu penting. Ya untuk tahu banyak hal, agar bisa selalu diajak berdiskusi tentang apa aja. Lah kan ya udah ada internet yang bisa ngajarin dan ngasih kita info tentang banyak hal.

Saya percaya tidak ada ibu yang tidak menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Ibu tetaplah ibu, bagaimanapun itu.

Tulisan Remeh Tapi Menjadikannya Dekat

Saya mengakui jarang banget blogwalking, dan saya rasa teman-teman blogger pun sekarang gitu. Jangan kan mau blogwalking, diupdate blognya aja gak sesering dulu. Salut buat temen-temen yang masih rajin update blog walau untuk hal-hal remeh sekalipun, justru hal-hal yang dibilang remeh itulah yang ngangenin.

Duluuuu sekali, di awal saya ngeblog, tulisannya galau aja gitu bahasa sekarang, sampe kadang malu banget deh kalo dibaca-baca lagi sama orang itu tulisan-tulisan lama. Cuma, walau malu saya masih menyimpan arsip dari awal saya ngeblog sampe sekarang lho, biarin aja orang bilang tulisan saya galau, gak jelas, malu-maluin, namanya juga dulu. Kalo sekarang tulisan saya dinilai lebih baik dari dulu, berarti kan jelas perbandingannya

Ada 2 hal yang biasanya kita tulis di blog, yaitu profesional life sama personal life. Profesional life itu ya tentang kerjaan kita, kegiatan sehari-hari yang kaitannya sama yang dikerjakan lah. Nah, kalo personal life yaitu cerita tentang apa yang sedang kita rasakan. Misal, lagi sedih, lagi seneng, lagi galau dan sebagainya. Kadang saya males baca tulisan yang melulu kegiatan/kerjaan seseorang, malah kangen banget tulisan-tulisan remeh nan ringan yang menjadikan kita justru lebih dekat dengan si pemilik blog.

Lah ya, saya mesti belajar banyak dari Galih yang dari awal saya kenal (tahun 2006 ya Lih?) sampe sekarang masih konsisten ngeblog, masih gak berubah dari dulu. Sharing soal pemrograman masih ada, tapi juga cerita personal lifenya pun juga ada. Hal-hal lucu, sedih, senang dan galau pun sebenarnya menarik untuk dibaca, sayangnya gak banyak orang yang mau menceritakan atau menuliskan hal-hal kayak gitu. Ada juga orang yang lebih sering menuliskannya dengan puisi kayak Mbak Irma, atau juga yang ringan ala tulisannya Fenty yang kebanyakan narsis gitu mesti ada foto dirinya *piss ya Fen*

Ya, hal-hal kayak gitu sih menarik aja buat saya. Justru saya suka bosen kalo baca tulisan di blog orang yang isinya serius-serius mulu, berikan lah sentuhan personal pada tulisanmu, gitu deh…. akan lebih enak dibaca, lebih dekat juga di hati pembaca *tsah..* :p

Gak perlu malu untuk menulis, tulis saja apa yang ingin kamu tulis. Semudah itu sebenarnya

Soal Selasa Tanpa Nasi itu

Selasa tanpa nasi minggu ketiga.

selasa tanpa nasi

Ya, saya menjalani selasa ketiga tanpa nasi. Banyak yang bertanya kenapa saya akhirnya mencoba hal semacam ini via tuiter, jadi ya saya tulis aja kali ya.

Berawal dari berita selasa tanpa nasi yang digalakkan oleh pemkot Depok yang saya tonton kira-kira sebulan yang lalu. Dianjurkan untuk bisa mengganti nasi dengan sumber karbohidrat lain, karena katanya tingkat konsumsi beras di Indonesia itu tinggi sekali sehingga diharapkan bisa mempercepat penganekaragaman konsumsi pangan selain beras.

Nah, saya kira bagus juga ya kalo dicoba, kan banyak tuh sumber karbohidrat lain misal singkong, talas, sagu, ubi, jagung, kentang. Cuma, ya orang Indonesia itu merasa gak kenyang aja kalo belum makan nasi. Saya juga sih sependapat kalo nasi memang top banget mengenyangkan, cuma gak ada salahnya kan ya mencoba yang laen selain nasi. Lah, itu bule-bule walo gak makan nasi masih bisa hidup aja gitu *lebay*

Trus, untuk apa? Diet?
Sepenuhnya saya jawab gak!
Apalah saya ini perlu diet-dietan, secara tiap kali klo mau donor darah mesti ditolak gara-gara gak cukup berat.
Saya hanya mencoba untuk bisa belajar makan sumber karbo selaen nasi aja kok, itu aja. Walo memang katanya diet karbo cepet gitu bisa nurunin berat badan.

Trus, makan apa?
Terus terang saya jarang bisa sarapan pagi sesuai waktunya, entah kenapa. Kadang berasa belom laper aja sih, jadinya suka dirapel ama makan siang. Makan siang juga kadang kesorean dan juga begitu dengan makan malam. Saya memang tergolong gak bener soal jam makan. Saya berusaha memperbaiki kebiasaan ini juga dengan selasa tanpa nasi ini.

Pagi = milo dingin + oatmilk
siang = mie pangsit/ayam goreng + kentang/chicken teriyaki
malem = sate ayam/martabak HAR

Ternyata, setelah 3 minggu ini saya bisa lho. Malah kadang gak cuma selasa, tapi dibeberapa hari lainnya juga udah mulai bisa. Berarti kan sebenernya kita bisa mengganti nasi dengan panganan lain. Energi tetap ada dan juga gak bikin cepet kekenyangan dan ngantuk lho.

*Gambar diambil dari sini*

Dari Blogger Untuk Daerahnya

Harusnya petinggi-petinggi negeri ini mampu melihat, ada banyak orang yang mau bergerak tanpa kata ‘hadiah’ apapun dari mereka.

Entah saya harus berkata apa selain merasa senang melihat ada banyak temen-temen yang menulis untuk kompetisi blog Pesona Sumsel bulan kemarin. Ada 216 tulisan yang disubmit dan itu melebihi target.

Baru kali ini Wongkito akhirnya berkesempatan mengadakan kompetisi blog. Awalnya saya dan Mas Dika (dari Trijaya) punya ide kenapa kita gak buat sesuatu yang bisa mengumpulkan banyak hal dari Palembang. Akhirnya kita seide untuk membuat kompetisi blog. Menyenangkan bertemu dengan orang-orang yang mau berpikir dan bekerja cepat atas ide-ide yang keluar. Dibuatlah kompetisi blog pesona Sumsel.

Harapan kita sederhana, ingin mengumpulkan banyak tulisan dari semua tentang Palembang khususnya dan Sumsel umumnya. Ternyata benar, ada banyak teman-teman yang akhirnya ikut memberikan kontribusinya dan saya merasa takjub. Dari membaca tulisan-tulisan tersebut saya kemudikan sadar bahwa apa yang saya ketahui tentang Palembang selama ini hanya sebagian kecil. Ada banyak tempat-tempat menarik yang ternyata belum sempat saya singgahi padahal dekat dari sini. Saya jadi tau banyak hal dengan membaca tulisan yang masuk. Gak hanya dari temen-temen yang berdomisili di Sumsel, tulisan yang masuk ternyata banyak juga dari kota lain di Indonesia. Malah yang menang berada di luar Palembang lho.

Idenya Mas Dika, kita bisa membukukan semua tulisan yang masuk. Selain membantu menginformasikan Sumsel, paling tidak ada hasil juga yang bisa dibaca banyak orang nantinya. Untuk itu semua tulisan akan dikumpulkan, diklasifikasikan dan akhirnya dibukukan. Yang mana buku ini nanti tidak untuk dijual secara komersil, tapi akan digunakan untuk keperluan pariwisata Sumsel. Direncanakan untuk diberikan ke banyak perpustakaan.

Saya hanya menyayangkan, jika pemerintah provinsi belum juga melihat bahwa para blogger sudah banyak membantu mereka untuk ‘menjual’ Sumsel ini kepada banyak orang. Kita mencoba untuk tetap dekat dengan pemerintah dengan apapun cara yang bisa dilakukan. Tapi lalu saya sadar, bahwa yang bisa dilakukan blogger seperti saya dan teman-teman hanyalah menulis dan memberitakan.

Teruslah menulis teman-teman. Beritahukan pada dunia bahwa Indonesia punya pesona yang sangat indah dan tak habis-habisnya untuk diceritakan