Blokir Lagi Ala Kemkominfo

Setelah blokir sana, blokir sini, Tumblr pun akan diblokir.
Menyebalkan.
Setelah mendengar berita kalo Tumblr akan diblokir, rasanya kesel. Memang saya bukan pengguna aktif Tumblr, tapi saya juga punya akun Tumblr.

Tumblr memang bukan blog utama yang biasa saya pake, cuma sekedar celoteh aneh, quote mengena, video lagu keren atau foto aktor korea nan ganteng yang saya pos disana, jadi tetap aja ini kayak pembatasan dari pemerintah. Pembatasan yang salah menurut saya.

Saya sendiri gak pernah sama sekali ngeliat ada konten porno di Tumblr (lah iya, yang saya baca ya cuma quote-quote ala dausohdaus) trus kenapa harus diblokir? Bapak kominfo mungkin kerjaannya nyari yang berbau porno aja kali ya, jadi dapet aja gitu dimana mana yang ada pornonya.

Kalo kerjaan Kominfo yang ngeblokir ini itu kayak gini dibiarin, bisa bisa nanti Blogspot dan WordPress juga diblokir. Abis lah sudah kebebasan menulis kita (
———-

Btw, ini tulisan pertama saya di tahun 2016 ya, udah kesel aja gitu tulisan pertama ya. Ya gak apa lah ya

Deklarasi Tata Kelola Internet Indonesia (ID-IGF)

Forum Tata Kelola Internet Indonesia, ngomongin apa aja sih?

Kamis, 1 November 2012, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyelenggarakan Forum Tata Kelola Internet Indonesia atau Indonesia Internet Governance Forum (ID-IGF) untuk pertama kali di Hotel Borobudur, Jakarta.

Kalo kita liat dari namanya, forum ini jelas keliatan seperti obrolannya para petinggi saja yang ngomongin gimana mengelola internet di Indonesia. Tapi ternyata gak begitu, para pemangku kepentingan (multi-stakeholder) semua hadir dalam acara itu, baik dari pemerintah, swasta/bisnis dan juga civil society. Saya dan beberapa blogger lainnya dari berbagai kota di Indonesia turut hadir dan menyimak semua yang disampaikan dalam diskusi di acara tersebut.

Sebenarnya ada 5 keranjang Tata Kelola Internet Indonesia yaitu meliputi bidang Hukum, Sosial Budaya, Pembangunan, Infrastruktur dan Standarisasi serta Ekonomi. Tadinya ID-IGF ini akan ngomongin ke semua bidang ini dalam 3 hari pertemuan, tapi ternyata harus dipadatkan menjadi 1 hari untuk ngomongin Hukum, Sosial Budaya dan Pembangunan.

Di keranjang Hukum lebih khusus diomongin soal Cyberlaw and Sovereignty, yang ikut ngomong ada dari Kemkominfo, Kemhumham, Detiknas, Pandi, BRTI, UI dan juga APJII. Ya, yang dibahas soal hukum, kebanyakan peraturan kali ya kita di Indonesia ini

Keranjang Sosial Budaya ngomongin Internet and Right to Information, yang ngomong mulai ada dari Kemkominfo, Arus Pelangi, Koalisi Perempuan, ELSAM, AJI, APTIKOM. Sesi ini yang seru menurut saya karena mungkin bersinggungan banget sama blogger dan tentang kebebasan berekspresinya.

Terakhir keranjang Pembangunan soal Enabling Environment to Address Development Problems. Sesi ini udah sesi akhir, yang ngomong juga kaitannya sama pembangunan yaitu dari Kemkominfo, BP3TI, BPPT, FTII, Biznet, Mastel dan Satu Dunia.

Read More

Komik Indonesia Gak Kalah Bagusnya

Kalian penyuka komik kah temen-temen?
Saya rasa gak ada orang di dunia ini yang bener-bener gak suka komik. Semua pasti pernah baca komik, paling gak sekali dalam hidupnya, walau udah tua sekalipun.

koleksi komik strip

Dulu waktu kecil saya suka banget baca Paman Gober, sampe langganan gitu, gedean dikit jaman SMP mulai ke komik-komik Elex Media macem Doraemon, dari yang emang komik buat perempuan kayak serial cantik sampe komik berseri kayak Detektif Conan. Dulu di deket SMP dan SMA saya ada taman bacaan. Jadi hampir tiap hari pulang sekolah pasti mampir kesana, minjem buku. Jadi tiap ada yang baru gak akan ketinggalan. Saking seringnya ke taman bacaan itu, si mbak yang jaga itu hapal deh bacaannya yang mana aja

Beberapa komik seri

Waktu kuliah udah mulai males baca komik, yang ada baca novel dan buku-buku yang gak ada gambarnya. Ya seiring waktu lah ya. Tapi…. sekarang ini, mungkin sekitar 3 tahun terakhir saya udah suka lagi baca komik. Malah ngumpulin. Gak koleksi juga sih, paling gak balik lagi membaca komik. Kalo Conan, saya udah males beli, kebanyakan dan gak kelar-kelar. Alhasil saya minjem mulu sama Ardy.

Read More

Memangnya Kenapa dengan Domain .id ?

Bangga Pakai .id (foto : @pamantyo)

Sudah lama sebenarnya saya membaca tulisan Pakdhe Blontank soal kegalauan Pandi (Pengelola Nama Domain Indonesia), abis saya baca tulisan itu lalu saya mengangguk-angguk sendiri sambil bilang dalam hati ‘bener juga ya’.

Temen-temen yang punya blog atau web dengan domain sendiri, pada pake domain Indonesia gak? .id (dot aidi) ? Mungkin hampir semua menggelengkan kepala, mungkin serta merta akan bilang .com (dot com) lebih keren kok ya atau .net (dot net). Ini bukan masalah keren atau gak keren kok ya, emang sih kalo kita terhubung dengan internet yang kepikiran soal alamat web/blog itu biasanya ya .com, lah anak saya yang 3 tahun aja kalo ngeliat apa di laptop ibunya udah bisa bilang ‘dot kom itu Nda…’.

Soal Nasionalisme dan Identitas Bangsa

Kalo kita sibuk koar-koar atas nama nasionalisme, ya harusnya kita juga bangga  pake produk-produk buatan dalam negeri, begitu juga dengan domain yang digunakan. Kalo dibandingin dengan negara tetangga yang bangga pake domain negaranya, kenapa kita juga gak belajar dari mereka? Dengan menggunakan domain lokal itu keliatan identitas si pengguna, bukan hanya karena menggunakan bahasa lokal.

Katanya susah registrasi untuk dot aidi…?

Iya, saya merasakan hal yang sama…. tapi itu dulu. Prosedur yang rada ribet dan kadang konfirmasinya bisa lumayan lama. Bener kok, itu dulu. Sekarang Pandi tetap pada prosedurnya tapi lebih cepat dalam hal konfirmasi. Baik itu mendaftarkan domain ataupun perpanjangan. Jika ada hal atau dokumen yang harus dilengkapi pun ada pesan yang masuk ke email. Intinya, sekarang mendaftarkan nama domain dot aidi itu lebih gampang.

Selanjutnya, dari sana saya mulai menggunakan dot aidi (ya, untuk blog lain yang saya punya) dan mencoba mengajak teman-teman jika ingin menggunakan domain sendiri untuk memilih domain dot aidi. Saya bukanlah duta Pandi, tapi paling gak saya mencoba untuk memperlihatkan identitas saya sebagai orang Indonesia.

Lah kok blog ini gak pake domain dot aidi? Saya kadung nemplok dengan yang punya domain utama nih dan blog ini pun udah 2 kali berganti domain sejak awal masa saya memulai dunia per-blog-an. Akhirnya, domain aidi yang saya gunakan, saya pake untuk blog lain

Jadi, kapan kalian mau menggunakan domain dot aidi?

Linimassa 2 : Ketika Orang Biasa Melakukan Hal yang Luar Biasa

Semua orang, tidak terkecuali sebenarnya mampu melakukan perubahan.

Iya, ini tentang film dokumenter kedua dari Linimas(s)a. Bagi yang belum pernah menonton film ini, bisa kok diliat langsung dari Youtube atau kalo yang mau unduh, bisa langsung unduh di webnya Linimassa.

Kalo di film Linimassa 1 ada banyak tokoh di dalamnya, yang rata-rata sudah banyak dikenal, seperti Bibit-Chandra soal korupsi, Prita Mulyasari dengan kasus pencemaran nama baik, Harry van Yogya si tukang becak yang ngehits itu, juga bagaimana JalinMerapi dan juga Blood4Life membantu sesama. Nah, Linimassa kedua ini lebih banyak mengangkat hal-hal di daerah yang dilakukan oleh orang biasa tapi menjadi hal yang luar biasa.

Nonton Bareng Linimassa 2 #FGD2012

Saya beserta teman-teman blogger juga aktivis informasi lain berkesempatan menonton pemutaran perdana film Linimassa 2 pekan lalu. Sepuluh menit pertama, mata penonton disuguhi dengan cerita Ambon. Diceritakan bagaimana Almas juga teman-teman disana berusaha memberi informasi tentang keadaan Ambon kala itu, dimana media-media mainstream dengan hebohnya memberitakan kerusuhan di Ambon. Disaat Ambon sudah mulai membaik, media mainstream berulang kali menayangkan berita yang hanya membuat banyak orang panik.

Almas dkk memberitakan kejadian langsung dari Ambon melalui social media yang membawa kelegaan dari para pembaca. Saat itu, pelan-pelan social media justru menjadi media yang lebih dipercaya. Belum lagi tayangan keindahan Ambon di film itu ditambah dengan lagu Ambon Manise dari Glenn Fredly membuat saya menyesal kenapa waktu itu gak jadi ikut ke Ambon

Ada lagi tentang Kampung Cyber, dimana sekampung itu sudah melek internet, mereka warganya sudah bisa menggunakan internet untuk peluang usaha mereka. Ada juga seorang ibu yang rela mengajar PAUD di sebuah desa tanpa mikirin bayaran, dia buat sebuah kelas untuk belajar dengan bambu dan beratap terpal.

Masih ada lagi Mbak Ayu dari Koalisi Aids yang bercerita bagaimana ia berusaha membantu mensosialisasikan HIV AIDS dengan bantuan web, twitter, FB. Saya pribadi salut dengan Mbak Ayu dengan semua cara yang dia lakukan agar banyak orang tahu bagaimana HIV AIDS itu.

Eh, iya ada juga Bunda Yati, nenek berusia 72 tahun yang aktif belajar ngeblog untuk mengisi banyak waktunya lho, beliau tergabung di Kumpulan Emak-Emak Blogger. Daaaann… ternyata di film tersebut, ada penampakan diriku, dikit sih (malu juga kalo banyak) paling juga 2-3 detik gitu deh

Ah, ternyata masih banyak orang-orang biasa yang mampu melakukan hal-hal luar biasa seperti ini ya.

Tanpa bantuan siapapun kita sebenarnya bisa melakukan perubahan ~ Shita Laksmi

Bagi yang mau nonton filmnya, yang sabar ya. Linimassa 2 akan segera didistribusikan. Bagi yang mau ikut nyawer untuk film ini masih boleh lho, cek aja infonya disini ya.