Gak Perlu Takut Bakteri Walau Main di Luar

Namanya juga anak-anak kalo gak kerjaannya main, ya berantakin rumah deh tuh.

Begitu juga dengan Alaya. Kadang ya saya ngerasa itu anak gak ada capeknya. Baru aja diberesin dikit, udah diberantakin lagi, kotor sana sini bekas main ini itu. Rasanya kemampuan saya bersih-bersih rumah gak sebanding sama kemampuan itu anak 3 tahun dalam memporak-porandakan rumah

Bangun pagi Alaya udah main aja, paling sih emang main di dalem rumah, lanjut mandi. Di kamar mandi pun ya masih bawa mainan, kayak masak-masakan dibawain gitu ke kamar mandi. Jadi, dimandiin biasanya pagi sama Ayahnya walau sembari main. Soal makan, Alaya paling males makan. Gimana pun caranya saya nyoba untuk maksa si anak inih, cuma aja lagi-lagi ya pengennya dia aja gitu. Maunya makan sendiri ini dan itu. Alhasil kotor segala baju kalo udah gini mah.

Siang baru deh mulai main. Alaya ini seneng banget kalo ada temen mainnya. Dibawa deh tuh segala mainan kalo sepupunya atau tetangga dateng. Yah, namanya juga anak-anak kan ya, yang bikin mereka seneng itu bisa main sepuasnya. Sebagai ibu, saya juga khawatir rasanya kalo dibiarin main terus di luar rumah. Belum lagi masih musim kemarau nih, debu dimana-mana, kadang tangan pegang ini dan itu mainan apa yang kita gak tahu bersih apa gak. Pulang-pulang ke rumah mendapati Alaya bajunya kotor, bau acem karena keringat. Takut jadi virus yang membuat sakit si anak, belum lagi banyaknya bakteri.

Read More

Ikut Mewujudkan Mimpi Takita

Dalam surat ini, saya berharap mampu mewujudkan mimpi Takita, karena mimpinya adalah mimpi saya juga dan mungkin mimpi semua anak di Indonesia

Takita

Apa yang kalian pikirkan jika dihadapkan pada kesempatan untuk bercerita? Mungkin begini kalo saya :
“Hah? Cerita apa?”
“Ya, cerita apa aja, kamu kan suka baca, pasti bisa bercerita.”
#lalubingungmauceritaapa
Memang, banyak hal yang bisa diceritakan. Semua hal bahkan.

Saya lahir dan besar dari keluarga yang suka membaca. Tapi tidak untuk bercerita. Saya gak pernah dibacain cerita ataupun dongeng dari Papa dan Mama. Saya dan adik terbiasa untuk membaca sendiri apapun yang kami suka. Tapi, saya pernah bertemu dengan seorang penulis favorit saya. Dia bercerita bahwa penting bagi orangtua memberikan sedikit waktunya (jauh lebih baik kalo banyak ya) untuk bercerita kepada si anak, yang paling gampang ya membacakan mereka cerita, dongeng atau bisa juga cerita yang dikarang sendiri. Diharapkan setiap cerita yang kita sampaikan pada si anak punya pesan moral yang bisa dimengerti oleh mereka. Tujuannya, anak-anak bisa belajar memahami mana yang baik untuk dicontoh juga yang buruk untuk tidak diikuti.

Saya lantas merasa bahwa saya pun harus bisa bercerita pada anak saya. Karena gak bisa ngarang cerita apa gitu, saya lebih memilih untuk membacakan cerita seperti dongeng atau serial rakyat. Bahkan sekarang, Alaya jika diajak ke toko buku udah bisa milih sendiri .

Indonesia Bercerita

Saya bertemu Takita, dialah ikon gerakan semangat bercerita dari Indonesia Bercerita. Nah Indonesia Bercerita sendiriĀ adalah sebuah inisiatif untuk mempromosikan dan memberikan dukungan dalam upaya mendidik melalui cerita. Indonesia Bercerita menyediakan podcast yang berisi beragam cerita yang bisa diunduh gratis, jadi pas banget buat saya nih.

Read More

Memaknai ‘Saling Melengkapi’

Apa tujuan Anda menikah?

Jika jawaban kalian ‘untuk mempunyai keturunan’ maka cobalah untuk menonton film Test Pack karya Monty Tiwa, sekarang filmnya lagi tayang di seluruh bioskop Indonesia.

Tidak ada yang salah dengan jawaban ‘ingin mempunyai keturunan’, hanya saja mungkin seharusnya jawaban itu akan menjadi urutan kesekian dalam suatu niatan menikah. Jika jawaban tersebut menjadi urutan pertama dalam niat menikah, maka ketika mendapati pasangan kalian infertil?

Test Pack the movie (gambar : istribawel.com)

Isu ini yang menjadi tema dalam film Test Pack, dari buku yang berjudul sama karyanya Ninit Yunita. Bukunya saya baca udah lama sih ya, sekitar tahun 2006, masih cover awal. Sekarang sih udah dicetak ulang dengan cover berbeda. Menurut saya bukunya sih bagus tapi dapet visualisasi Reza Rahadian – Acha Septriasa ini yang lebih komplit.

Tata (Acha) dan Rahma (Reza) telah menikah selama 7 tahun namun belum dikarunia anak. Keinginan sangat besar dari Tata untuk bisa mempunyai anak diperlihatkan dengan usahanya melakukan banyak hal, dari mulai makan toge mulu untuk menambah kesuburan, baca buku-buku kesehatan reproduksi hingga periksa ke dr. Peni S (Oon Project Pop) dan disarankan untuk melakukan suntik hormon.

Setelah melakukan banyak cara dan belum menampakkan hasil, dr Peni menyarankan agar Rahmat juga melakukan test kesuburan. Rahmat begitu terpukul saat mengetahui hasilnya tidak sesuai keinginan.

Apa yang terjadi dengan Tata setelah mengetahui kondisi Rahmat? Baiknya temen-temen nonton saja lah. Saya merekomendasikan film ini ditonton tidak hanya untuk pasangan yang sudah menikah, yang belum menikah pun bagus juga kalo nonton film ini. Bahwa ternyata menikah bukan cuma mendengar ‘SAH’ saksi ijab qobul aja, tapi lebih dari itu, bagaimana satu sama lain bisa menerima kekurangan dan melengkapinya dengan kelebihan masing-masing.

Read More

Review Buku Two Kisses For Maddy

Two Kisses For Maddy

Judul Buku : Two Kisses For Maddy | Dua Kecupan Untuk Maddy
Penulis : Matt Logelin
Penerjemah : Nadya Andwiani
Penerbit : Serambi
Jumlah Halaman : 432 Halaman
Harga : Rp. 55.000
ISBN : 9789790243248

Karena kamu, Ayah sanggup menghadapi seumur hidup kenangan.

Bagi saya yang seorang perempuan, punya bayi yang baru lahir itu memang butuh kesabaran ekstra, gak jarang kena baby blues, kadang jadinya pengen marah karena gak tahu itu bayi nangisnya kenapa dan kerasa capek. Tapi…. itu semua menyenangkan ketika melihat senyuman di bibir mungilnya lalu semua rasa lelah terbayar dengan kebahagiaan yang tak terkira.

Bagaimana jika semua itu justru dialami seorang pria? Seorang Ayah yang harus rela menjadi ayah sekaligus ibu bagi bayi prematurnya, ya karena si ibu harus meninggalkan mereka. Dialah Matt Logelin yang harus membesarkan Maddy, putri tercintanya setelah ditinggal Liz Logelin, sang istri yang meninggal sebelum sempat melihat dan memberikan pelukan pada Maddy.

Diawali dengan cerita Matt tentang perjumpaannya dengan Liz dari SMA. Yang satu cowok kuper dan satunya cewek populer dan pintar, mereka bertemu dan memadu kasih. Hingga saat kuliah, Liz dan Matt harus merasakan LDR. Liz yang bekerja paruh waktu sambil kuliah rela menyisihkan uang hasil kerja paruh waktunya untuk membelikan Matt tiket, biar Matt bisa liburan dan ketemu Liz gitu ceritanya.

Mereka berdua akhirnya menikah. Dengan kepandaiannya Liz mendapatkan pekerjaan dengan posisi yang baik dan gaji yang cukup besar daripada Matt yang cenderung lebih santai. Namun, di tahun kedua pernikahan mereka, Liz memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya terdahulu dan Matt pun mendapatkan pekerjaan yang lebih mapan. Hidup mereka bahagia, apalagi setelah diketahui Liz hamil.

Read More

Perkara Membuat Kue Lebaran

Angie, Alaya, Nike dan Mama

Angie, Alaya, Nike dan Mama

Bikin kue lebaran apa nih?

Saya merasa gak pernah terlalu sibuk jika akan mendekati lebaran. Pertama, mungkin saya memang gak rajin bikin kue. Kedua, karena saya pernah berpikir, kan gak perlu repot bikin kue, toh bisa beli aja yang udah jadi.

Saya memang bukan orang yang rajin di dapur, untuk urusan masak dan bikin kue. Tapi setiap tahun mendekati lebaran, saya hampir selalu nemenin Mama bikin kue, kue kering maupun kue basah. Udah 2 tahun belakangan saya absen nemenin Mama bikin kue, karena si anak kecil yang aktif banget itu kudu diawasin biar kue bisa cepat selesai. Maklum saja, saya gak punya pengasuh atau asisten rumah tangga, jadi saya harus ngerjain apa-apa sendiri, bebersih rumah pun sendiri.

Demi kelancaran Mama yang bikin kue, saya rela ngeliatin jadinya ituh kue aja dan menemani Alaya di rumah. Tahun ini, saya kembali menemani Mama karena saya merasa Alaya udah cukup besar (35 bulan) untuk bisa dibilangin untuk gak gangguin yang lagi bikin kue. Yaaah, walo bikin kuenya gak yang ribet, saya rasa bukan masalah banyak apa gak kue yang dihasilkan, gimana rasanya, tapi ternyata lebih dari itu. Saya menyadari, ada hubungan ibu dan anak perempuan yang terasa dekat sekali.

Saya memang dekat dengan Mama, tapi memasak kue bersama membawa kedekatan kami semakin baik. Ada komunikasi yang sulit saya jelaskan, banyak cerita yang terurai, tawa yang dilepaskan dengan penuh kegembiraan, ngotot tentang bentuk kue kering yang gak sama antara yang dibikin Mama dan yang saya bikin, walau harus sedikit capek bikin adonan dan ngeliatin oven rasanya semua itu priceless.

Sebanyak apapun kue yang kamu beli, seenak kue dari toko kue terlezat sekalipun, akan lebih enak dan menyenangkan ketika mendapati kue yang kamu buat (dan kalopun ada kue yang gosong) bersama ibu dengan penuh cinta.

Posted with WordPress for BlackBerry.