12
Mar '14

Ikhlas Itu Ilmu Yang Sulit

Satu minggu terakhir kabar tentang meninggalnya Ade Sara (19) yang dibunuh oleh mantan pacarnya menjadi topik yang hangat dibicarakan. Bagaimana cerita lengkapnya bisa teman-teman baca di sini.

Setiap orang yang mendapati berita ini pastinya gak habis pikir, bagaimana bisa remaja yang beranjak dewasa yang baru berumur 19-20 tahun punya niat membunuh orang? Entah lah. Saya pun bertanya hal yang sama. Umur segitu kalo gak suka sama orang biasanya paling gak jauh dari pemukulan, keroyokan sampe tawuran, membunuh rasanya tidak perlu masuk dalam pikiran mereka. Mungkin ini memang hanya emosi yang tak bisa dikendalikan oleh kedua pelaku atau bisa jadi ini juga secara tidak langsung memperlihatkan peran orangtuanya.

Menonton wawancara dengan kedua orangtua Ade Sara membuat saya sedih, sesak. Saya tahu saya gak ada hubungannya dengan mereka. Tapi cara mereka memaafkan pelaku, cara mereka merelakan si anak pergi meninggalkan mereka rasanya ikhlas sekali. Si ibu bilang, pelaku H sudah dianggap seperti anaknya sendiri.

Dalam pikiran saya, si ibu yang ditinggalkan anak tunggalnya dengan cara tragis banget begini tuh biasanya akan nangis meraung-raung dan gak terima banget atas apa yang dilakukan pelaku. Nyatanya saya melihat orangtua yang tegar walau tetap dengan tangis, ikhlas banget, mereka mengatakan memaafkan pelaku. Menurut saya mereka adalah orangtua yang hebat. Hebat sekali.

Ikhlas, mengikhlaskan sepertinya memang mudah untuk dikatakan. Namun, pada kenyataannya tak semua mampu mengikhlaskan sesuatu apapun itu. Dibutuhkan jiwa yang besar yang mampu melakukan hal ini. Dan itu pasti sulit. Makanya, saya merasa salut ke orang-orang yang mampu benar-benar melakukan keikhlasan yang sebenar-benarnya ikhlas.

Saya berkesimpulan bahwa hati dan jiwa yang besar untuk melakukan keikhlasan adalah hati dan jiwa yang berserah atas jalanNya, kehendakNya. Jika kita sudah mampu memahami bahwa hidup adalah atas kehendakNya, maka tak sulit untuk kita bisa punya jiwa yang besar untuk mengikhlaskan.

Berserah bukan berarti menyerah, tapi tak henti percaya
Bahwa kita memang pantas bahagia
(Gamaliel, Audrey, Cantika ~ Berserah)

20
Feb '14

Pemaafan dan Belajar Memaafkan

Pemaafan dan Belajar Memaafkan
Pemaafan dan Belajar Memaafkan
Pemaafan dan Belajar Memaafkan

Setiap manusia di dunia, pasti punya kesalahan
Tapi hanya pemberani, yang mau mengakui
Setiap manusia di dunia, pasti pernah sakit hati
Hanya yang berjiwa ksatria, yang mau memaafkan

Ada yang tahu bait lagu di atas?
Iya, lagu Sherina, judulnya Persahabatan yang ada di film Petualangan Sherina. Film ini emang kategori film anak, lagunya pun dinyanyikan Sherina waktu dia masih kecil. Tapi coba liat dari liriknya, saya rasa itu justru hal yang sulit bagi orang dewasa, tidak bagi anak-anak.

Beberapa waktu lalu, saat saya nganterin Alaya ke sekolahnya, saya kaget pagi-pagi udah ada anak laki-laki yang nangis, sebut aja namanya Fandi. Nah si Fandi ini ternyata di gigit pipinya sama Rama. Si Rama dan Fandi ini temen akrab banget yang memang biasa jadi anak laki-laki bandel di kelas Alaya. Heran juga kok sampe mereka yang malah berantem pake gigit-gigit pipi segala. Saya ikut liat, beneran sampe ada bekas gigitan lho di pipinya Fandi.

Baca selengkapnya…

09
Feb '14

Hiatus? Masih Zaman, ya?

Tahun 2014 sudah masuk bulan kedua, berarti sudah satu bulan lebih gak posting di blog ini.
Saya kangen sebenernya, hanya saja saya sedang mengalami masa dimana saya males nulis panjang (padahal blog ini juga gak pernah nulis panjang kan ya) dan pas udah nulis dan dibaca lagi sebelum di publish tetiba saya mengalami sindrom kurang pede akut.
Gak, saya gak cari-cari alesan gak update blog, tapi memang itu yang terjadi sekarang pada difi saya *halah*.

Di Twittet juga gak begitu ceriwis lagi, di blog ini banyak bener draft yang ngegantung aja gak jelas mau di publish atau gak, karena kekurangpedean saya tadi itu. Saya merasa tulisannya begitu malesin buat dibaca justru diakhir tulisan itu udah hampir selesai.
Akhirnya ya begini, hiatus bisa dibilang. Saya malah pengen banget hiatus beberapa bulan tapinya, saya malu bilang sebagai blogger kalo sebulan aja saya gak bisa publish satu tulisan pun

Saya masih menulis, itu pasti. Tapi nulisnya lebih sering di blog sebelah, lebih cepet aja sih dan updatenya juga singkat.

Hiatus udah gak zaman kali ya, jadi gak perlu bilang hiatus. Temen saya pernah bilang, gpp banyak draft, namanya hobi jafi kapan aja mau publish ya dipublish, kalo lagi males ya gak apa di draft dulu. Hehehe kedengaran seperti alasan, tapi ya bener juga.

Oke, mari kita menengok kembali beberapa draft, membaca kembali, mungkin mengeditnya lalu memberanikan untuk mempublishnya satu per satu

29
Dec '13

Anak, Gadget dan Social Media

Teknologi semakin maju, gadget pun makin canggih dari waktu ke waktu, apa kita harus diam membisu, melihat anak makin seru dengan gadget terbaru?

Kita mungkin tidak bisa membendung bagaimana teknologi makin canggih. Gak kayak zaman saya kecil yang masih main tali karet, anak balita pun udah pinter main tablet pc. Ya gak papa sebenernya, hanya saja orangtua harus inget bahwa pendampingan orangtua adalah yang paling baik untuk anak-anak, bukan seberapa mahal gadget yang diberikan orangtua.

Minggu lalu dalam diskusi akhir tahun ICT Watch, Pak Yamin dari Nawala bilang yang paling penting itu bukan bagaimana kita bilang mana yang boleh dan gak boleh diakses oleh anak-anak, tapi bagaimana kita sebagai orangtua mau dan mampu mendampingi mereka ketika internetan.

Masalahnya cuma dua ;
Pertama, anak-anaknya udah ngerti gimana internetan, orangtuanya yang gak ngerti.
Kedua, orangtuanya paham internet tapi justru gak punya waktu untuk mendampingi anak-anaknya.

Baca selengkapnya…

10
Dec '13

Menua, Mengingat dan Melupakan

Things we want to remember, we forget. Things we want to forget, we remember…

Semalem, saya baru nonton film Thailand, judulnya Best of Times. Bagi saya yang tidak terlalu setuju pada apa kata IMDB, saya merasa film ini bagus buat ditonton. Dan, memang bagus walau memang tipikal film drama yang banyak dialognya. Gak kayak film romantis Thailand yang lain, film ini justru kuat karena tokoh pasangan kakek Jamrus dan nenek Sompit.

Silakan bagi yang pengen nonton film ini, bagus buat nemenin nunggu hujan. Saya gak akan cerita tentang gimana cerita filmnya, tapi pengen bahas soal alzheimer yang disinggung dalam film ini.

Bukan cuma film Best of Times sebenernya yang menyinggung alzheimer, yang pernah juga saya tonton dan ingat sekali itu di serial Grey’s Anatomy, ada juga CSI: NY, saat Adam mendapati ayahnya punya penyakit ini dan juga beberapa film lainnya.

Cepat atau lambat, setiap orang akan lupa, hanya saja bagi orang dengan alzheimer, mereka akan lebih cepat melupakan. Mulai dari lupa mau kemana, udah minum kopi apa belum, hingga yang paling menyedihkan yaitu lupa siapa pasangan dan anak-anaknya.

Baca selengkapnya…