Kartini dan Perempuan Lainnya

Selamat hari kartini…
Begitu yang kita temukan setiap 21 April tiap tahunnya.
Mbak-mbak pramuniaga di mall tetiba pake kebaya (minus sanggul) dan anak-anak perempuan diminta untuk pake kebaya juga di sekolahnya.
Kartini sebenarnya bukan hanya kita lihat dari kebaya yang dikenakannya tapi lebih dari itu perjuangannya membuat perempuan saat ini bisa setara dengan laki-laki.

foto dari bimba-aiueo.com

Saat seorang teman mengucapkan selamat hari kartini pada saya, otomatis saya menjawab kalo saya bukan kartini. Mungkin malah gak bisa seperti beliau. Tapi seharusnya perempuan saat ini sudah membawa spirit yang sama dengan beliau, bahwa perempuan disetarakan dengan laki-laki, tidak dibedakan, berhak dapet porsi yang sama juga dipemerintahan, dsb. Perempuan saat ini mungkin tak sesulit dulu memperjuangkan banyak hal. Terima kasih saya untuk ibu kita Kartini yang namanya selalu harum dikenang.

Bagaimana dengan perempuan saat ini?
Kartini melahirkan perempuan-perempuan hebat saat ini. Di berbagai bidang dan aspek kehidupan, mereka semua perempuan hebat. Namun, buat saya perempuan yang paling hebat adalah mereka yang ikut andil langsung ke masyarakat untuk bisa melakukan sesuatu untuk mengubah kehidupan kaumnya agar bisa jauh lebih baik.

Read More

Menjadi Perempuan dan Ibu Pekerja

Semalem timeline twitter ramai membicarakan tuitnya sang ustad mualaf @Felixsiauw. Masih tentang perempuan dan masih tentang bagaimana perempuan itu seharusnya.

Setelah beberapa waktu yang lalu beliau membandingkan ibu yang jadi karyawan, apakah masih bisa disebut ‘ibu’. Kali ini lanjut tentang bagaimana perempuan itu (dalam hal ini seorang ibu) seharusnya mengurus rumah tangga saja dan patuh terhadap suaminya.

Saya tidak mengikuti twitter beliau. Tapi banyak aja gitu yang sering ReTweet, otomatis ya kebaca juga.

Saya seorang ibu yang memang tidak kerja kantoran yang harus nine-to-five di kantor. Saya tetap ‘bekerja’ dengan cara saya, di rumah dan masih bisa mengurus rumah tangga juga suami dan anak. Saya rasa pun ibu bekerja yang jadi karyawan kantoran pun masih bisa kok mengurus rumah tangga mereka dengan baik. Tapi saya rasanya kurang sreg dengan si ustad ini.

1  Felix Siauw  felixsiauw  on Twitter

Twit beliau semalam yang menyebutkan ada hadist yang mengatakan salah satu ciri perempuan penghuni surga adalah banyak anak. Heummm…. terus terang saya setelah melihat twit beliau tersebut saya langsung diskusi sama suami saya. Dan kami pun sepakat untuk menyepakati apa yang telah kami rencanakan bersama, gak banyak tapi cukup 2 atau 3 aja, itupun kalo Allah titipkan pada kami.

Read More

Review Buku Homeless Bird

Homeless Bird

Judul Buku : Homeless Bird
Penulis : Gloria Whelan
Penerjemah : Ida Wajdi
Penerbit : Atria
Jumlah Halaman : 182 Halaman
ISBN : 9789790245044
Harga : Rp. 24.900

Saya yang menikah di usia belum genap 22 tahun saja dibilang muda, apalagi 13 tahun?

Di India, tradisi di desa dalam buku ini terutama, anak perempuan yang telah memasuki 13 tahun sudah boleh menikah. Orangtua yang akan dengan semangat mencarikan calon suami.

Seperti Koly, anak perempuan ini baru berusia 13 tahun dan ia harus rela mengikuti tradisi untuk dinikahkan dengan suami yang dia tidak tahu bagaimana rupa, keadaan dan bagaimana orangnya. Orangtua perempuan di India harus membawa maskawin sebagai syarat pernikahan di India yang menganut matrilineal.

Pada saat pernikahan digelar, barulah Koly tahu bagaimana suaminya yang ternyata menderita TBC. Ketidakjujuran mertua Koly atas kondisi Hari, suaminya membuat Koly merasa sangat sedih. Apalagi setelah mengetahui maskawin yang diberikan untuk digunakan sebagai biaya pengobatan Hari. Tak lama Koly pun menjadi janda setelah Hari meninggal.

Read More

Gathering Emak-Emak Blogger di Bandung

Sebulan yang lalu, iyaaa… sebulan lalu. Ini posting yang amat sangat telat, tapi mending telat kan ya daripada gak sama sekali. Biar inget gitu ada event-event penting

Kumpulan Emak-Emak Blogger (KEB) akhirnya membuat event gathering kedua, setelah acara di IDC 3D April lalu, kali ini yang kedua kedapetan di Bandung. Kenapa Bandung? Emak-emaknya yang pada minta ya, sengaja dipilih waktunya pas liburan sekolah dan sehari setelah FGDnya ICT Watch, biar saya bisa hadir dan ikut berbagi maksudnya

Saya dan Mbak Indah berangkat ke Bandung dengan nebeng Mbak Melly dari Blogdetik, sampe disana untuknya tepat waktu dan ternyata event hari itu tepat di mallnya Festival City Link. Kebayang kan hari itu saya dan teman-teman KEB harus saingan sama Cherrybelle, walo gitu yang dateng lumayan banyak ada sekitar 20 orang perempuan yang dateng membawa serta anak-anak dan suami mereka. Bisa dipastikan, bapak dan anaknya pergi ke lantai bawah untuk nonton performnya Cherrybelle.

Apa aja cerita gatheringnya, bisa di cek di webnya KEB ini ya. Saya seneng aja sih, ternyata semakin kesini semakin banyak temen-temen di KEB yang mau buat semacam gathering begini, semoga emang bikin mereka lebih semangat berbagi menulis blog. Mungkin nanti bisa aja teman-teman di daerah lain membuat acara yang sama dan lagi dipikirin gimana caranya agar temen-temen di daerah itu bisa mengadakan acara begitu sendiri (ya dengan sepengetahuan dan juga bantuan makmin tentunya).

Sebenernya posting ini juga saya bikin untuk mengingat progresnya KEB sampe sejauh mana, selain member yang makin banyak di grup FB dan makin banyak juga yang mau jadi kontributor dan menulis di web KEB. Trus coba mengevaluasi kenapa ya acaranya KEB udah dua kali ini digelar yang dateng gak banyak? Kalo masalah hari libur, kita udah coba di weekend dan hari libur sekolah, tapi ternyata juga gak terlalu banyak yang hadir. Saya coba mikir-mikir lagi gimana ya bikin para emak-emak itu minat untuk hadir dan mereka merasa tertarik ke acara beginian? Itu satu yang jadi pe er.

Kedua, acara apa yang menarik untuk emak-emak itu?

Kalo temen-temen ada ide, boleh ya bantu saya mikir dan tulis di kolom komentar sini.

foto abis acara (foto : Nchie Hanie)

Terima kasih ya, semoga kedepannya ada acaranya makin baik, makin diminati dan makin bermanfaat

Perkara Membuat Kue Lebaran

Angie, Alaya, Nike dan Mama

Angie, Alaya, Nike dan Mama

Bikin kue lebaran apa nih?

Saya merasa gak pernah terlalu sibuk jika akan mendekati lebaran. Pertama, mungkin saya memang gak rajin bikin kue. Kedua, karena saya pernah berpikir, kan gak perlu repot bikin kue, toh bisa beli aja yang udah jadi.

Saya memang bukan orang yang rajin di dapur, untuk urusan masak dan bikin kue. Tapi setiap tahun mendekati lebaran, saya hampir selalu nemenin Mama bikin kue, kue kering maupun kue basah. Udah 2 tahun belakangan saya absen nemenin Mama bikin kue, karena si anak kecil yang aktif banget itu kudu diawasin biar kue bisa cepat selesai. Maklum saja, saya gak punya pengasuh atau asisten rumah tangga, jadi saya harus ngerjain apa-apa sendiri, bebersih rumah pun sendiri.

Demi kelancaran Mama yang bikin kue, saya rela ngeliatin jadinya ituh kue aja dan menemani Alaya di rumah. Tahun ini, saya kembali menemani Mama karena saya merasa Alaya udah cukup besar (35 bulan) untuk bisa dibilangin untuk gak gangguin yang lagi bikin kue. Yaaah, walo bikin kuenya gak yang ribet, saya rasa bukan masalah banyak apa gak kue yang dihasilkan, gimana rasanya, tapi ternyata lebih dari itu. Saya menyadari, ada hubungan ibu dan anak perempuan yang terasa dekat sekali.

Saya memang dekat dengan Mama, tapi memasak kue bersama membawa kedekatan kami semakin baik. Ada komunikasi yang sulit saya jelaskan, banyak cerita yang terurai, tawa yang dilepaskan dengan penuh kegembiraan, ngotot tentang bentuk kue kering yang gak sama antara yang dibikin Mama dan yang saya bikin, walau harus sedikit capek bikin adonan dan ngeliatin oven rasanya semua itu priceless.

Sebanyak apapun kue yang kamu beli, seenak kue dari toko kue terlezat sekalipun, akan lebih enak dan menyenangkan ketika mendapati kue yang kamu buat (dan kalopun ada kue yang gosong) bersama ibu dengan penuh cinta.

Posted with WordPress for BlackBerry.